10 September 2015
3 kritik

Everest

"Drama biografi yang tidak hanya seru dan menegangkan, tetapi juga membuka mata terhadap berbahayanya gunung tertinggi di bumi"

Berdasarkan kisah nyata, film ini mengisahkan sekelompok orang yang berasal dari berbagai negara yang ingin mendaki hingga puncak gunung Everest. Mereka dipandu oleh Rob Hall, pemilik pemandu gunung Everest, Adventure Consultant yang telah mencapai puncak Everest sebanyak 5 kali. Pada tahun 1996, Rob Hall berhasil membawa beberapa kliennya untuk mencapai puncak Everest. Namun dalam perjalanan kembali, mereka diterpa oleh badai tebal. Rob pun menghadapi dilema apakah menyelamatkan diri sendiri atau menyelamatkan nyawa kliennya.

Sebagai gunung tertinggi di bumi dengan ketinggian 8848 meter diatas laut, Everest terkenal sebagai salah satu gunung yang paling mematikan. Memiliki ketinggian death zone alias ketinggian dimana manusia akan sulit bernafas, menjadi salah satu tantangan bagi siapapun untuk mendaki hingga ketinggian jalur terbang Boeing 747 ini. Belum lagi dingin serta kondisi cuaca yang tidak dapat ditebak. Maka tanggal 11 Mei 1996 tercatat sebagai hari dimana Everest memakan korban terbanyak; 8 pendaki hilang/meninggal. Meski kemudian tragedi 2015 dimana gempa bumi dan longsor salju yang memakan korban 18 orang meninggal menjadi tragedi terbesar sampai saat ini.



Film ini jelas tampil cukup seru untuk menceritakan kembali tragedi 1996 yang terjadi di Everest. Dengan deretan cast yang oke seperti Jason Clarke, Jake Gyllenhaal, hingga Sam Worthington jelas membuat film ini menjadi semakin menarik. Belum lagi penonton akan melihat dari dekat setiap bagian rute Everest yang memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Jelas sebuah bagian yang akan membuat para pecinta alam - atau yang pernah mendaki Everest - bersorak-sorai.

Jalan ceritanya sendiri cukup seru. Apalagi yang belum mengetahui detil tragedi 1996 dan belum membaca wikipedia, tentunya akan sulit memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun eksekusi setiap adegan penuh tensi dalam film ini sangat efektif, dengan permainan tanpa scoring yang membuat setiap adegan menjadi sangat menegangkan.


Setelah menonton film ini, gue juga menjadi tahu perihal komersialisasi gunung Everest ini. Kita bisa sama-sama melihat betapa banyak provider pemandu yang tersedia untuk menuju puncak Everest. Memang sesama provider ini saling kenal dan membantu satu sama lain jika dalam keadaan darurat. Namun pada dasarnya sebagai entitas bisnis, mereka lebih banyak bersaing satu dengan yang lain demi mendapatkan profit yang lebih besar. Sebuah keadaan yang ironis mengingat betapa berbahayanya medan yang mereka geluti.

Film ini menceritakan ulang kejadian yang terjadi pada tahun 1996 tersebut dengan cukup jujur dan netral. Banyak buku yang ditulis dengan versinya sendiri-sendiri, sehingga timbul semacam perang fakta untuk menyalahkan salah satu pihak atas terjadinya tragedi tersebut. Namun film ini tampak sangat main aman dengan jalan ceritanya, tentunya untuk menghormati para keluarga korban, sekaligus memperluas target penonton. Meski sepanjang film terasa datar tanpa adanya klimaks yang signifikan, film ini sangat efektif untuk menggambarkan betapa berbahayanya mendaki atap bumi tersebut.


UK / USA / Iceland | 2015 | Adventure / Biography / Drama | 121 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 4 September 2015 -

3 kritik:

  1. perlukah nonton di imax 3D untuk keseruan yg lebih, atau cukup nonton yg reguler saja??

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemarin saya nonton ini di IMAX sih puas :D

      Delete
  2. Aku menikmati banget nonton film ini. Tapi bener juga ya, fakta bahwa 'Everest' dikomersialisasi ini jadi agak egois kesannya, terutama bagi pendaki gunung yg mungkin mau menaklukan atau bahkan mengabdi di sana. Hehe :p

    By the way salam kenal ya! Aku juga nulis komentar tentang film ini di blog yang bisa baca di: http://andikahilman.blogspot.co.id/2015/10/everest-comments-session.html :)

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top