23 June 2015
2 kritik

Terminator Genisys

"Awal dari trilogi baru dengan jalan cerita yang baru"

Pemimpin umat manusia dalam melawan robot-robot, John Connor, mengirim sersan Kyle Reese ke masa lalu untuk menyelamatkan Sarah Connor dari incaran robot. Namun ketika Kyle Reese kembali ke tahun 1984, dia malah menemukan masa lalu yang berbeda. Sarah Connor tidak lagi lugu, melainkan telah menjadi seorang wanita yang tangguh dan mengetahui banyak soal Judgement Day. Selain itu ia telah dilindungi oleh seorang Terminator dari masa depan. Dengan sebuah timeline baru, mereka bertiga harus menghadapi misi baru yang tidak terduga; mencegah Judgement Day dan menghancurkan Skynet.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa publik sudah kehilangan kepercayaan terhadap setiap sekuel dalam franchise Terminator, khususnya sejak T3: Rise of the Machine (2003) dan Terminator Salvation (2009). Namun kini publik - dan gue - sudah diyakinkan oleh James Cameron sendiri yang tampak memberi restu penuh pada Genisys, yang disebutnya sebagai seakan direct sequel dari T2: Judgement Day (1991). Keyakinan ini pun di justifikasi oleh trailer yang potensial, dan story line yang baru. 



Setengah pertama film, para penonton - khususnya para fans - dihibur hingga puas oleh deretan adegan nostalgia yang entah shot-by-shot remake atau deretan adegan homage dari dua sekuel awal dari Terminator. Apalagi setiap set piece action-nya cukup menegangkan. Namun sayang, pertengahan kedua film ini tampak kehilangan arah dan fokus ceritanya menjadi menyebar ke berbagai arah. Alur ceritanya seakan membangun pondasi besar bagi kelanjutan trilogi baru dari Terminator, tetapi malah terkesan menjadi berantakan.

Genisys memang menawarkan alur timeline yang baru dengan teori alternate timeline yang akan muncul ketika masa lalu diubah. Sebuah teori perjalanan waktu yang dibawa oleh Steven Spielberg dalam trilogi Back to the Future, tetapi jelas bukan teori yang dibawa oleh James Cameron dalam T1 dan T2. Memang pilihan ini diambil untuk membuka berbagai kesempatan baru bagi kelanjutan trilogi baru, sehingga pembuat film dapat bergerak dengan bebas untuk membuat kisah cerita baru bagi Sarah Connor, Kyle Reese, dan Terminator.


Satu hal yang sangat disayangkan adalah teknik marketing yang memberikan spoiler terhadap jalan cerita yang ada. Trailer dan poster telah menunjukkan bagaimana John Connor yang menjadi robot-hybrid dan berada di sisi jahat. Entah apakah ini adalah langkah desperate untuk memancing calon penonton yang penasaran akan nasib pemimpin umat manusia menjadi jahat. Yang jelas, sebagai orang yang sudah tahu akan plot twist seperti itu, tidak ada lagi kejutan di tengah film ketika John Connor muncul. Ah sayang seribu sayang.

Secara keseluruhan, film ini memang menghibur. Setiap adegan action yang ada cukup mendebarkan. Efek visual yang nyata, dan berbagai efek praktis yang menambah ketegangan. Emilia Clarke mampu tampil setangguh Linda Hamilton sebagai Sarah Connor yang baru, meski beberapa bagian terlihat terlalu cuteScoring-nya juga akan membuat anda bernostalgia ke film Terminator (1984). Rasa nostalgia jelas akan kuat dalam Genisys, sekaligus rasa penasaran untuk melihat bagaimana jalan cerita action-time travel ini akan berlanjut, meski kali ini ekspektasi harus diturunkan.



USA | 2015 | Action / Sci-fi | 125 min | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan voucher bioskop tanggal 23 Juni 2015 -

2 kritik:

  1. Kalau sudah stuck dengan pengembangan sekuelnya, biasanya cerita bakal dilakukan dengan time travel. Seperti X-Men: DoFP dan kini Terminator Genisys. Meski harus menciptakan anomali cerita, tapi ruang cerita baru untuk melanjutkan kisah sukses terbuka lebar. Thanks sharingnya mas.

    ReplyDelete
  2. Permisi.
    Bolehkah minta izin untuk bertukar link ?
    Link review film saya di [iza-anwar.blogspot.com]

    Dengan senang hati, saya mohon untuk ditambahkan ke blogroll Anda.
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top