13 June 2015
One kritik

Poltergeist

"Sebuah horor remake yang tak bergigi"

Sebuah keluarga yang baru pindah rumah ke sebuah kawasan pinggiran kota, mengalami gangguan hantu yang mengerikan. Setelah mencari tahu, ternyata rumah mereka didirikan diatas tanah bekas kuburan. Keadaan menjadi makin parah ketika anak perempuan bungsu mereka diambil oleh para arwah yang marah ini.

Poltergeist versi tahun 1982 menjadi ikonik karena tema horor yang diangkat serta menjadi salah satu perintis kisah horor rumah berhantu hingga sekarang ini. Namun ketika film ini di-remake dan menggunakan situasi modern, premis tersebut justru menjadi sangat basi. Kecuali jika pembuat film tetap menggunakan formula yang sama dengan original-nya; tensi dan character building. Namun sayangnya dua hal tersebut tidak ada pada versi 2015 ini. Premis yang tidak orisinil, disertai horor yang lemah, jelas menjadikan Poltergeist sebagai horor yang tak bergigi.


Pentingnya sebuah pengembangan karakter adalah bagaimana para penonton dapat menaruh simpati pada setiap orang yang muncul di layar. Segala macam pondasi cerita memang telah ditebarkan di awal film, termasuk bagaimana keluarga ini mengalami kesulitan keuangan sementara harus memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. Namun hanya sampai situ saja, dan setiap karakternya pun dibiarkan sebatas dua dimensi. Rasa simpatik pada si anak bungsu yang hilang pun rasanya hanya karena imutnya Kennedi Clements dan akting cemerlangnya. Sementara Sam Rockwell tidak dapat tampil maksimal karena keterbatasan ruang karakternya.


Selain itu, Poltergeist jelas hanya bergantung pada suara kencang dan adegan jump scare untuk menakuti penontonnya. Tidak ada tension building yang berarti, meski dari awal film penonton langsung disajikan teror horror yang menimpa keluarga malang ini. Praktis hanya 1-2 adegan yang membuat gue sedikit merinding, sementara sisanya hanyalah adegan-adegan jump scare dengan scoring super-kencang untuk menambah efek ketegangan. Yang sangat disayangkan, adalah penggunaan CGI berat untuk menggambarkan para arwah, yang langsung membuat gue turn off.

Secara keseluruhan, Poltergeist tidak seseram judulnya. Jika Insidious Chapter 3 saja gue nilai tidak terlalu menyeramkan, maka Poltergeist jauh dari itu. Rasanya film versi 2015 ini hanya dapat menjadi pintu gerbang yang baik untuk menonton versi 1982, entah karena rasa penasaran atau untuk tetap memberi penghormatan pada Steven Spielberg sebagai penulis naskah versi original-nya.


USA | 2015 | Horror | 93 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 13 Juni 2015 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top