04 May 2015
0 kritik

Ida

"Kuat di berbagai segi, terutama kisah yang menarik dan shot yang cantik, yang akan membekas di ingatan anda dalam waktu cukup lama"

Ida adalah seorang calon biarawati yang akan disumpah dalam beberapa minggu. Namun sebelum itu, suster kepala memintanya untuk menemui satu-satunya relasi yang ia miliki; Bibi Wanda. Ternyata pertemuan antara Ida dengan bibinya menguak masa lalu dan latar belakang Ida yang kelam semasa pendudukan Nazi Jerman. Interaksi diantara mereka berdua sedikit banyak akan mengubah jalannya hidup mereka berdua.

Meski gue belum menonton film-film nominasi lainnya, rasanya memang Ida adalah film yang tepat memboyong piala Oscar tahun ini dalam kategori Best Foreign Film. Dengan premis cerita yang menarik, bahasa gambar yang cantik, ditambah dengan akting nyaris sempurna dari debut aktris Agata Trebuchowska. Keseluruhan kombinasi ini yang mungkin akan membuat penonton terngiang-ngiang mengenai jalan cerita - dan beberapa adegan dalam film ini - sampai beberapa waktu ke depan.



Film ini memang termasuk dalam jenis film sepi dan tanpa banyak dialog. Penonton hanya disajikan bahasa-bahasa gambar, dan penonton sendiri yang harus memberi arti dan label terhadap adegan yang sedang disajikan. Namun luar biasanya, setiap shot yang digunakan dalam film ini bagaikan lukisan artistik yang cantik. Seakan-akan setiap shot telah diperhitungkan dengan baik - dan mungkin memiliki simbolisasi tersendiri - yang akan membuat setiap still photo dari film ini akan tampak ciamik jika dijadikan wallpaper

Premisnya sendiri menarik kalau tidak mau dibilang kontroversial. Sedikit pengetahuan latar belakang tentang hubungan antara orang Yahudi dengan agama Katolik jelas perlu untuk dapat lebih memahami konflik yang dialami oleh Ida. Terutama sejarah mengenai kependudukan Nazi di tanah Polandia yang rasanya sudah banyak orang memahaminya.


Namun sesuai judulnya, film ini memang fokus pada karakter Ida dengan dilematis perjalanan hidupnya sebelum ia mengambil kaul selibat untuk seumur hidupnya. Tetapi sutradara Pawel Pawlikowski menggambarkan dilematis dan konflik internal ini hanya sebatas pada ekspresi dan tatapan kosong dari Ida, ditambah dengan perilaku dan pilihan sikap yang ia ambil. Tidak ada dialog yang memberikan label mengenai apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan Ida, terutama pada adegan ending. Bagi penonton yang cukup jeli - dan empatik - rasanya tidak sulit untuk memahami kekalutan yang dialami oleh Ida.



Poland | 2013 | Drama / Arthouse | 82 min | Aspect Ratio 1.33 : 1

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 4 Mei 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top