07 April 2015
One kritik

Melancholy Is A Movement


"Drama arthouse Indonesia yang antara menyimpan makna filosofis yang dalam, atau hanya bercerita apa adanya"

Joko adalah seorang pembuat film yang karyanya terhenti karena suatu kejadian. Namun tuntuntan hidup berkata lain. Sewa kantor yang menghantui membuat ia menerima tawaran mengerjakan proyek film religi, sebuah genre yang selama ini ia hindari. Tanpa disadari, ia terseret oleh perangkap kehidupan. Akankah idealisme tergerus oleh kenyataan hidup? Bagaimana ia akan menjalani sisa hidupnya?

Setelah Koper (2006) yang penuh dengan muatan filosofis, penulis dan pemilik toko buku QB World kembali menulis dan menyutradarai film yang kali ini diberi judul Melancholy is a Movement. Tampak luar film ini sangat menarik karena cameonya terdiri dari berbagai aktor dan aktris tenar di Indonesia dan dengan karakter mereka sendiri. Sebut saja mulai dari Ario Bayu, Amink, Hannah Al Rasyid, Fachri Albar, hingga komposer Aghi Narottama.  Sedangkan pemeran utamanya adalah orang yang selama ini berada di belakang layar; Joko Anwar. Yes! Betapa menariknya film ini!


Namun jika didalami, bisa-bisa anda akan tenggelam, tidak seperti pemeran Joko yang masuk ke dalam kolam renang lalu keluar kembali. Mungkin Koper akan mudah dimengerti karena muatan filosofis yang cukup ringan, serta dibungkus dengan komedi yang cukup menghibur. Namun Melancholy is a Movement tampil cukup absurd; antara menyimpan makna yang cukup dalam dan berlapis, atau memang tidak bermaksud sok filosofis - melainkan hanya tampil apa adanya yang ada di layar. 

Jalan cerita dalam film ini fokus pada karakter Joko yang tampak tidak begitu semangat lagi dalam menjalani kesehariannya setelah mengalami suatu kejadian yang traumatis. Menariknya, keseharian Joko dikawinkan dengan interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya, mulai dari teman-temannya hingga orang asing yang ditemuinya di tengah jalan. Interaksi diantara karakter yang terasing dari dunia ini menjadi cukup menarik untuk dicermati ketika ia tidak dapat lepas dari dunia yang terus bergerak. Jelas Joko tidak mampu sebertahan itu dalam konflik tarik-menarik antara perasaan ingin tetap berada dalam dunianya sendiri dengan dunia di sekitarnya. 

Menonton film ini mungkin akan adil jika dibandingkan dengan film-film karya Sofia Coppola yang selalu bertemakan keterasingan, atau unattachedment dengan dunia sekitar. Bagaimana Joko yang tidak menemukan kepuasan apapun dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan, nonton tv, atau bahkan menyutradarai sebuah film. Ia tetap mencoba melakukan ke semua hal tersebut, tetapi mungkin tetap tidak menemukan kedamaian dan kepuasan hati.


Akhir kata, dalam skala komersil jelas Melancholy is a Movement adalah film yang sulit, baik untuk meraih pendapatan maupun meraih pemahaman dan kesenangan dari para penontonnya. Namun dalam skala idealisme, Richard Oh cukup sukses dalam menciptakan sebuah film art house yang mungkin akan disukai oleh kalangan penonton snob. Jelas film ini akan memecah penonton menjadi dua kelompok besar; love it or hate it. Tapi yang jelas, film ini cukup menghibur dengan komedi ringan, hingga black comedynya - meski rasanya banyak inside jokes yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu.



Indonesia | 2015 | Drama / Arthouse | 75 menit | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
7 dari 10

sobekan tiket bioskop tanggal 7 April 2015 -

1 kritik:

  1. Halo. Saya dari Review-Luthfi menominasikan Sobekan Tiket Bioskop ke dalam The 2015 Liebster Award bersama 10 blog film lainnya.
    Silakan check postnya di sini:
    http://review-luthfi.blogspot.com/2015/04/the-2015-liebster-awards-to-review.html

    Kalo ada waktu ayo ramein award ini. Terima kasih.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top