14 April 2015
0 kritik

Filosofi Kopi

"Adaptasi cerita pendek yang menghangatkan hati, baik untuk peminum kopi atau yang bukan"

Hutang ratusan juta rupiah mengancam keberadaan kedai Filosofi Kopi yang didirikan oleh Jody dan Ben. Ditengah berbagai usaha penghematan demi menyelamatkan kedai, seorang pengusaha datang memberi tantangan senilai satu milyar untuk membuat kopi terbaik se-Indonesia. Dengan keahliannya meracik kopi, Ben tertantang dan akhirnya berhasil membuat kopi mahakarya-nya, yang diberi nama Ben's Perfecto. Namun kehadiran El, seorang gadis cantik pecinta kopi yang mengatakan bahwa ada kopi yang lebih enak ketimbang Perfecto, meruntuhkan semuanya. Jody dan Ben tidak memiliki pilihan lainnya selain mencari kopi Tiwus, yang tidak hanya akan menyelamatkan Filosofi Kopi, tetapi juga persahabatan mereka berdua.

Terkadang, perjuangan mencapai idealisme dapat berbuah berupa penemuan jati diri. Tak jarang, perjuangan mengaplikasikan idealisme selalu berbenturan dengan kenyataan hidup. Ada kelompok yang berhasil mencapainya, namun ada kelompok yang akhirnya menyerah pada kenyataan hidup dan melunturkan idealismenya. Rasanya tema ini yang hendak diangkat secara laten dalam film hasil adaptasi cerita pendek dari Dewi Lestari yang dibukukan dalam buku kumpulan cerpen Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade terbitan tahun 2006.



Filosofi Kopi hadir dengan ceritanya yang ringan dan hangat, sehangat kopi yang baru diseduh dan dinikmati dengan sebuah sofa empuk. Dibungkus dengan komedi yang kena dan mudah membuat penonton tertawa. Selain itu, deretan soundtrack easy listening juga menambah mood film ini menjadi lebih homey. Dialog-dialog yang terlontar dari mulut Rio Dewanto dan Chicco Jerikho juga natural dan pasti banyak menuai tawa. Intinya, Filosofi Kopi hadir senyaman mungkin bagi penontonnya, sebagai suatu tontonan yang berasa seakan teman lama - tentu saja sambil ditemani oleh secangkir kopi.

Walaupun medium aslinya berupa cerita pendek, penulis naskah Jenny Jusuf justru dapat berimprovisasi sebebas mungkin dengan narasinya. Bagusnya, ia tidak melebarkan kisah Ben dan Jody kemana-mana, tetapi fokus pada dua karakter tersebut dengan menambahkan banyak background story yang semakin menguatkan karakternya - terlebih lagi interaksi mereka dengan para karakter pendukung. Sebagai pembaca (dan pecinta) cerita pendeknya, jujur gue cukup suka dengan penambahan latar belakang dari Ben dan Jody, apalagi hingga menyentil konflik agraria antara kelapa sawit dengan tanaman produksi.


Ekstensi kisah dari cerita pendek ini yang menjadi salah satu kunci kesuksesan film ini dalam bercerita. Filosofi Kopi memang ingin mengatakan bahwa setiap kopi memiliki makna tersendiri seperti yang tertera dalam setiap flash card jenis kopi yang dibagikan kepada pelanggan kedai, terutama kopi Ben's Perfecto dan Kopi Tiwus. Siapa sangka, kedua jenis kopi ini membuat Ben dan Jody berefleksi ulang terhadap jalan hidupnya, sampai pada tahap rekonsiliasi dengan diri sendiri. Meski jalan yang dilalui tentu tak mudah, tetapi semangat idealisme mereka tetap terjaga hingga akhir film.

Secara keseluruhan, Filosofi Kopi merupakan salah satu film terbaik Indonesia yang gue tonton sejauh ini. Well made, tentu saja oleh tim dibalik film terbaik FFI 2014 kemarin, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Film ini tidak hanya unggul di segi teknis dengan teknik sinematografi yang manis, atau dengan sound mixing yang rapi, atau dengan akting yang matang dari para pemerannya. Selain itu, film ini juga memberikan semacam feel-good-feeling yang akan mempertahankan rasa hangat dan senyum di bibir jauh setelah anda keluar dari bioskop.

Indonesia | 2015 | Drama | 117 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 14 April 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top