24 February 2015
0 kritik

Unbroken

"Drama biopik yang sarat makna, tetapi di eksekusi dengan biasa saja"

Drama biografi tentang Louis Zamperini, atlet lari Olimpade yang ikut berperang dalam Perang Dunia II. Dalam sebuah misi pencarian di Samudra Pasifik, pesawatnya terjatuh dan hanya tiga orang yang selamat. Mereka harus bertahan hidup di sekoci penyelamat selama berhari-hari, untuk kemudian ditemukan dan ditangkap oleh pasukan Jepang. Penderitaannya belum berakhir ketika Jepang menahannya bersama tawanan perang lainnya hingga perang usai.

Unbroken memiliki banyak potensi, baik dari segi cerita maupun di segi belakang layar. Ada Angelina Jolie yang kali kedua menduduki kursi sutradara setelah In The Land of Blood and Honey (2011). Sementara ada Joel Coen dan Ethan Coen yang menulis naskah hasil adaptasi dari novel berjudul "Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience, and Redemption". Namun sayang, ternyata talenta dan pengalaman tidak selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Unbroken hadir menjadi satu lagi film biopik yang mudah untuk dilupakan.

Kisah Louis Zamperini memang menakjubkan. Berbagai penderitaan yang dialaminya selama masa perang, untuk kemudian memaafkan di masa tuanya, sungguh menjadi twist yang menghangatkan hati di akhir film. Tapi hanya pada ending credits itu saja film ini benar-benar bermakna dan heart-warming. Sisanya hanya kumpulan adegan drama yang asal lewat saja, tanpa pendalaman karakter yang berarti.


Kekejaman para prajurit Jepang memang disuguhkan dengan baik, ditambahkan para prajurit AS yang dipenjara dalam kamp tahanan. Tetapi terasa kurang untuk menarik emosi dari penonton yang menyaksikan kisah perjuangan Zamperini dan teman-temannya. Salah satu adegan yang paling emosional praktis adalah adegan yang dijual dengan baik lewat posternya.

Tetapi memang Unbroken menyajikan sebuah makna yang patut diresapi oleh setiap manusia di bumi ini. Penonton bisa melihat betapa Louis Zamperini diperlakukan begitu kejam oleh sipir penjara di Jepang. Namun Zamperini sadar bahwa satu-satunya cara untuk menerima segala kekejaman tersebut adalah dengan pasrah dan memaafkan. Suatu cara yang tampak sangat mudah ditulis dan dibaca, namun sangat sulit untuk dilakukan. Dan hal tersebut dilakukan oleh mantan atlet Olimpiade tersebut yang telah meninggal di tahun 2014 yang lalu.



USA | 2014 | Drama / Biography | 137 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1


Nominated for Best Cinematography, Best Sound Mixing, Best Sound Editing, Academy Awards, 2015.

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 24 Februari 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top