09 January 2015
2 kritik

PK

"Komedi satir yang sempurna di berbagai sisi, serta signifikan menyentil berbagai kelompok"

Seorang alien turun ke bumi dengan misi untuk mempelajari manusia. Namun alat berupa remote untuk memanggil pesawatnya dicuri orang. Tidak mengenal siapa-siapa, tidak tahu apa-apa tentang manusia, dia berkeliling Delhi dan bertanya pada setiap orang dimana remotenya. Namun semua orang menjawab hal yang sama; "tanyalah pada Tuhan", "minta pada Tuhan maka kau akan diberi", "berserahlah pada Tuhan". Maka ia pun mencari Tuhan dengan maksud meminta kembali remotenya yang dicuri. Sampai-sampai ia selalu dipanggil "PK" yang dalam bahasa Hindi berarti "mabuk". Tapi Tuhan yang mana?? Tuhan orang Hindu, Buddha, Sikh, Islam, atau Katolik? Sampai pada akhirnya ia mencoba semua agama, namun pertanyaannya masih belum dapat terjawab. Dimana Tuhan?

Menceritakan film tentang agama dan Tuhan tidak harus dibawakan dengan serius dan filosofis. Sutradara-penulis naskah dari 3 Idiots (2009) Rajkumar Hirani telah membuktikan bahwa PK mampu dibawakan dengan komikal dan kocak. Thanks to penampilan terbaik dari Aamir Khan yang dengan muka polos dan mata melotot tak berkedip, dengan pertanyaan-pertanyaan polos seperti anak kecil yang super kocak dan mengundang tawa. Selain itu, subplot romansa yang diselipkan dalam film ini juga efektif dalam membuat penonton agar tetap menginjakkan kaki di bumi, sekaligus mampu merelasikan signifikansi satir agama terhadap hubungan manusia.



Komedi satir tentang agama ini mungkin akan membuat orang-orang religius merasa tertampar. Atau mungkin untuk sekelompok orang akan merasa goyah akan iman dan keyakinannya. Semua itu karena karakter PK yang mempertanyakan berbagai hal perihal kebiasaan dan ritual yang telah dijalankan oleh umat beragama selama ratusan hingga ribuan tahun. Well, sebuah pertanyaan yang lumrah karena memang ritual tersebut dijalankan tanpa pernah dipertanyakan makna pragmatisnya. Atau mungkin karena segala hal yang mempertanyakan tentang ritual agama dianggap tabu, bahkan cenderung menghujat.

Pertanyaan-pertanyaan sensitif ini tentunya tidak dapat dilempar oleh seorang karakter biasa, yang rawan akan stereotipe dan judgement. Jeniusnya, alih-alih berkarakter manusia dari negara lain macam Borat, Rajkumar memilih karakter alien berbentuk manusia yang berasal dari planet lain dimana semua penghuni planet tersebut telanjang. Simpel dan jenius, namun mematikan dan efektif. Dengan karakter alien yang tidsk berbahaya dsn cenderung polos ini, Rajkumar bebas melemparkan berbagai pertanyaan sesensitif apapun. Mulai dari ritual menggulingkan badan dari pintu gerbang hingga kuil, hingga ritual menyiram batu dengan air kelapa.


Karakter PK yang super polos ini pun dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Rajkumar memanfaatkan keadaan ini dengan menyelipkan beberapa adegan kecil yang mempertanyakan budaya di India, salah satunya adalah tentang pakaian janda, gaun pengantin, dan burkha yang ternyata membingungkan PK. 

Pada awalnya PK memang dibuat untuk menyindir kondisi keagamaan di India yang banyak orang-orang "suci" dan berbondong-bondong orang memujanya sebagai pembawa pesan bagi Tuhan - dan memberikan persembahan uang. Kondisi ini tentu tidak baik bagi masyarakat ekonomi bawah yang harus memiliki persembahan sebelum dapat memuja dewa-dewanya. Namun dengan jenius, Rajkumar sekalian menyentil kaum religius lain yang seakan mengagungkan busana, alat, dan instrumen untuk menyembah Tuhan dan malah kehilangan esensi untuk berinteraksi dengan Tuhan. Secara tidak langsung, PK juga menyentil kaum non-religius dan golongan atheis yang selalu nyinyir dengan mempertanyakan Tuhan.


Katanya, meski para petinggi agama di India menentang film ini, pemerintah malah mengurangi pajak film ini agar dapat diputar lebih luas lagi di seluruh India. Alasan pemerintah cukup sederhana, mendidik orang-orang miskin agar tidak cepat termakan oleh hal-hal takhayul dan mudah percaya pada "nabi-nabi palsu" yang hanya berorientasi pada keuntungan semata.

Secara keseluruhan, PK adalah sebuah film yang sangat lengkap. Lengkap dalam menyatirkan satu topik yang signifikan ke semua kelompok dari berbagai sisi. Satir agama pun diselipkan juga beberapa satir soal kebudayaan dan adat istiadat, yang semuanya memiliki benang merah yang sama; ritual dan kebiasaan yang mempersulit manusia dan menjauhkan dari esensi dasarnya. Semua ini dibungkus dengan sangat ringan lewat komedi yang super kocak dan dijamin akan membuat anda tertawa terpingkal-pingkal. Sebuah cara yang cukup brilian agar film ini dapat diakses oleh semua orang, dari berbagai kalangan. Kemudian film ini pun ditutup dengan sangat bijaksana, dimana ketika di awal film segala ritual keagamaan dipertanyakan secara logis, yang lalu ditutup dengan pernyataan sederhana yang akan menguatkan iman anda.



India | 2014 | Drama / Comedy | 153 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
10 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 9 Januari 2015 -

2 kritik:

  1. PK a.k.a Peekay (bahasa india), baca dalam bahasa indonesia pi-kei yang artinya mabok. 'Sampai pada akhirnya ia mencoba semua agama, namun pertanyaannya masih belum dapat terjawab. Dimana Tuhan?' ---> menurut opini gw sih bukan dimana Tuhan, tapi kenapa pertanyaan dia ga dijawab oleh Tuhan.

    ReplyDelete
  2. Same rate with me bro. 10/10
    10+ deh. Karena Jaggu. :love:
    -toto-

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top