27 January 2015
0 kritik

Foxcatcher

"Deskripsi secara close-up dan personal tentang interaksi antara orang-orang insecure"

Berdasarkan kisah nyata, Foxcatcher bercerita tentang dua kakak-beradik pegulat juara dunia asal AS; Mark dan Dave Schultz. Mark yang selalu berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Dave, mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya sendiri ketika ditawari untuk bergabung dalam tim Foxcatcher oleh milioner John Du Pont. John sebagai pelatih kepala, memberikan tempat pelatihan yang mewah bagi timnas gulat AS untuk persiapan Olimpiade Seoul 1988. Sama seperti Mark, John juga ingin membuktikkan dirinya - terutama di depan ibunya - bahwa dirinya dapat melatih gulat. Ketika Dave bergabung dalam tim, interaksi diantara ketiga orang ini berubah drastis dan mengarah pada bencana yang tidak terelakkan.

Setelah Capote (2005) dan Moneyball (2012), sutradara Bennet Miller kali ini kembali mengangkat sebuah kisah nyata yang menarik. Kisah nyata yang ternyata kelam, yang menjadi tragedi besar di dunia gulat di Amerika Serikat. Drama ini dibawakan dengan begitu lambat dan sunyi. Dengan editing hard-cut yang semakin menambah atmosfer kelam dari film ini. Banyak bahasa-bahasa gambar, atau shot-shot yang menyorot para karakter tanpa dialog, seakan-akan memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyelami karakter tersebut.


Rasanya memang film-filmnya Bennet Miller menjadi tempat parada akting yang sempurna. Seakan talenta dari para aktor-aktrisnya dipakai semaksimal mungkin, sehingga performa mereka sangat signifikan. Yang luar biasa dari Foxcatcher adalah jelas penampilan dari Steve Carell yang biasa kita lihat dalam film-film komedi. Ternyata, talenta Steve Carell sebegitu potensialnya ketika ia tampil berperan dalam film "serius", apalagi dengan karakter nyentrik dan aneh seperti John du Pont. Penampilannya akan membuat anda melupakan karakter-karakter Steve Carell sebelumnya. Bahkan saking realistisnya, mungkin akan membuat anda memandang aneh pada karakter John du Pont ini.


Tempo lamban film ini mungkin akan tidak disukai oleh banyak kalangan penonton. Tetapi kekuatan aktingnya menjadikan film ini cukup layak sebagai bahan studi karakter yang menarik, khususnya karakter Mark Schultz dan John du Pont. Kedua karakter ini memiliki karakteristik yang sama, dan alam semesta mempertemukan mereka untuk saling melengkapi satu sama lain.

Secara garis besar, Mark dan John sama-sama karakter yang insecure, atau pribadi yang tidak stabil secara emosional. Biasanya, pribadi yang insecure kekurangan kepercayaan diri atau merasa inferior dibandingkan orang lain. Orang-orang insecure akan merasa senang jika merasa bahwa dirinya dibutuhkan oleh orang lain, atau simply ia mendapat kesempatan untuk membuktikan dirinya. Penyebabnya bisa macam-macam, mulai dari trauma masa kecil hingga pola asuh yang abusif atau bahkan permisif.


Mark yang (tampaknya) sejak kecil selalu berada dalam lindungan kakaknya, ingin sekali-kali merasa bahwa dia bisa melakukan sesuatu dengan tangan dan kakinya sendiri. Namun sayangnya ia adalah pribadi yang kaku secara sosial, terlihat dari bagaimana ia masih menyendiri ketika kakaknya sudah memiliki dua anak. Sementara John du Pont yang tumbuh di keluarga super-kaya, tumbuh dalam bayang-bayang ibunya dan nama besar keluarganya. Entah pola asuh seperti apa yang diterapkan, tetapi John jelas menolak hobi berkuda seperti yang diturunkan oleh keluarganya. Sebagai salah satu alasan untuk menolak hal tersebut, ia pun menyenangi cabang olahraga lain; gulat.

Jelas yang menarik adalah interaksi diantara dua karakter insecure yang sama-sama membutuhkan pembuktian diri ini. Pada awalnya, keduanya pasti akan merasa cocok antara satu dengan yang lain. Kesamaan pola pikir, ideologi, hingga kebiasaan - atau bahkan pengalaman hidup. Yang satu merasa dapat menjadi lebih baik jika berada di dekatnya, begitu juga sebaliknya, Namun dalam teori psikologi manapun, jelas bahwa orang insecure butuh bantuan profesional untuk membuat dirinya menjadi lebih baik. Sedangkan Mark dan John layaknya orang buta menuntun orang buta.


Interaksi maut ini pun menyeret orang lain, yang menjadi satu-satunya teman hidup dari Mark. Dave yang jelas stabil secara emosional dan psikologis bergerak murni dari cintanya pada adik satu-satunya. Motivasinya jelas dan murni, membimbing adiknya agar mencapai potensinya secara maksimal. Namun sayang, kehadiran Dave membuat jurang antara real self dan ideal self dari seorang John du Pont semakin lebar. Well, Dave Schultz adalah salah satu legenda gulat AS yang berkarir sebagai pelatih setelah masa pemainnya telah usai. 

Secara keseluruhan, drama kelam yang dihadirkan oleh Foxcatcher sangat menarik. Bennet Miller seakan hendak menghadirkan sebuah deskripsi natural dan close-up bagaimana orang insecure mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Sementara di kulit luarnya, Foxcatcher digarap dengan cantik dan artistik lewat atmosfer yang dibangun secara konsisten dari awal hingga akhir film.


USA | 2014 | Drama | 129 mins | Aspect Ratio Flat 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

Nominated for Best Lead Actor (Steve Carell), Best Supporting Actor (Mark Ruffalo), Best Director (Bennet Miller), Best Original Screenplay (E. Max Frye, Dan Futterman), Best Makeup and Hairstyling (Bill Corso, Dennis Liddiard), Academy Awards, 2015.

Nominated for Best Motion Picture - Drama, Best Actor - Drama (Steve Carell), Best Supporting Actor (Mark Ruffalo), Golden Globe, 2015.

Nominated for, Best Supporting Actor (Mark Ruffalo), Best Supporting Actor (Steve Carell), BAFTA Awards, 2015

Won for Best Director (Bennet Miller), Nominated for Palme d'Or (Bennet Miller), Cannes Film Festival, 2014. 

- sobekan tiket bioskop tanggal 27 Januari 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top