23 October 2014
0 kritik

The Book of Life

"Animasi dengan visual yang luar biasa dan edukatif tentang kehidupan setelah kematian"

Manolo, seorang pemuda yang terlahir dan dididik di keluarga matador, harus mengikuti keinginan ayahnya ketika dirinya lebih menyukai musik ketimbang membunuh banteng. Ditambah lagi, Manolo dijadikan bahan taruhan tentang siapa yang akan menikahi Maria oleh dua penguasa alam orang mati; La Muerte penguasa Land of the Remembered dan Xibalba penguasa Land of the Forgotten. Xibalba yang licik menggunakan segala cara agar jagoannya, Joaquin, dapat berhasil menikahi Maria. Sementara Manolo berjuang menulis jalan hidupnya sendiri agar dapat memenuhi passion hidupnya dan bisa bersama dengan cinta sejatinya.

The Book of Life tampil sangat memesona dengan grafis visual yang warna-warni dan luar biasa indahnya. Kisah film ini memang berlatar belakang perayaan besar khas di Meksiko tentang Day of the Dead yang ceria, meriah, dan penuh warna-warni. Latar belakang perayaan itu ditranslasikan dengan sangat baik. Apalagi gaya bercerita dongeng dalam film ini dibawakan dengan karakter boneka kayu, yang jelas para animator dapat berkreasi semaksimal mungkin dengan hasil karya mereka. Ini adalah langkah yang sangat tepat mengingat betapa sulitnya membuat animasi CGI kulit manusia, dan alih-alih ternyata karakter boneka kayu memberikan efek 3D yang cukup efektif.



Menurut gue, kisah yang dibawakan oleh sutradara dan penulis naskah Jorge R. Gutierrez ini adalah cara yang paling ringan dan sederhana untuk menjelaskan mengenai konsep kematian kepada anak-anak. Biasanya, anak-anak kecil akan sulit memahami kemana orang yang telah meninggal akan pergi. Dalam bentuk animasi, konsep kehidupan setelah kematian ini akan sangat edukatif dengan representasi Land of the Remembered dan Land of the Forgotten. Apalagi dengan informasi bagaimana kita harus tetap mengingat kerabat atau saudara yang telah meninggal, atau kalau tidak arwah mereka akan terjebak di Land of the Forgotten.

Namun sayang, gaya bercerita Gutierrez tampak terlalu terburu-buru dalam menceritakan plot berlapisnya, plus banyaknya karakter yang berdesakkan untuk tampil dalam durasi 95 menit. Ketiga karakter utama kita, Manolo-Maria-Joaquin memang mendominasi layar, tetapi duo karakter La Muerte-Xibalba juga seakan berlomba untuk menonjolkan diri dengan bagaimana berpengaruhnya karakter mereka dalam jalan cerita. Belum lagi dengan sub-plot yang juga seakan ingin menonjolkan diri ketimbang plot utama Manolo-Maria-Joaquin. Hasilnya, 95 menit film yang seakan terburu-buru, dan terkesan dangkal karena tidak ada pendalaman karakter berarti.


Diluar gaya bercerita yang akan membuat penonton terengah-engah, The Book of Life tetap menjadi pilihan menarik untuk mencari hiburan di waktu luang. Disamping animasinya yang sangat megah dan memuaskan mata, setiap nyanyian Manolo dan kawan-kawannya yang membawakan lagu-lagu pop masa kini juga sangat menghibur. Setiap lelucon yang ada memang kekanak-kanakan, tetapi juga cukup konyol. Penampilan setiap karakter orang mati dalam film ini memang tidak jauh dari tengkorak, tapi para character designer sepertinya telah berusaha sekeras mungkin untuk membuat penampilan mereka selucu mungkin - dan jelas tidak seseram Corpse Bride atau Nightmare Before Christmas.


Rating?
7 dari 10

USA | 2014 | Animation | 95 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 Oktober 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top