15 October 2014
One kritik

Rurouni Kenshin: The Legend Ends

"Tidak sempurna, tapi tetap menjadi penutup yang memukau dari trilogi Rurouni Kenshin"

Bagian ketiga dan terakhir dari trilogi "Rurouni Kenshin", dimana Kenshin yang terluka dan melemah harus berlatih kembali demi dapat mengalahkan Sishio dan anak buahnya. Namun Kenshin tidak memiliki banyak waktu karena Sishio semakin dekat dengan rencana besarnya. Sementara itu, Sishio yang sudah mencapai Tokyo hanya selangkah lagi dalam menguasai Jepang dengan menyerbu ibukota. Pertarungan besar dan terakhir antara Kenshin dan Sishio pun tidak dapat dihindarkan lagi.

Bagi para penonton dan fans yang dibuat menggantung dan penasaran sejak Kyoto Inferno, jelas akan terpuaskan secara maksimal dengan The Legend Ends. Disyuting berbarengan dengan Kyoto Inferno, sepertinya memang tidak ada momen lain yang lebih apik untuk memotong kisah Kenshin di ending Kyoto Inferno. Segala macam pertanyaan tentang Kenshin, Sishio, Aoshi, dan lainnya terjawab dengan sangat baik. Segala macam penasaran penonton tentang bagaimana adegan pertarungan Kenshin vs Aoshi, Kenshin vs Sojiro babak dua, bahkan Kenshin vs Sishio juga akan terbayar dengan maksimal - bahkan diluar ekspektasi gue pribadi. The point is, The Legend Ends delivers really well what the audience expects.



Setiap fight scene yang ada bisa dibilang over the top. The Legend Ends menyajikan koreografi adu pedang yang sangat luar biasa. Tidak hanya dengan teknik dan jurus yang sangat menarik, tetapi juga sangat setia pada jurus yang ada dalam versi manga dan kartun serialnya. Siapa yang menunggu-nunggu Saito mengeluarkan jurus andalannya? Nah silahkan berekspektasi setinggi mungkin untuk yang satu ini. Selain itu, setiap fight scene yang ada dikemas dengan camera work yang cantik dan indah. Sebuah pergerakan kamera yang terasa alih-alih menonjolkan sisi kekerasan, tetapi menekankan pada bela diri sebagai sebuah karya seni.

Namun diluar jualan utamanya yang adalah deretan fight scenes yang memukau, film ini memiliki beberapa kekurangan yang cukup disayangkan. Yang paling utama adalah jelas jalan cerita yang menjadi tidak setia pada versi manga, dimana kekurangan yang satu ini akan membuat pada die hard fans-nya sedikit kecewa. Tapi tenang saja, bagi non-pembaca manga masih dapat menikmati jalan cerita yang ada.


Kelemahan lainnya ada di pengembangan karakter yang menjadi sangat minim, karena sutradara Keishi Ohtomo rasanya memang ingin lebih fokus pada fight scenes dan perkembangan karakter Kenshin yang ingin mengalahkan Shishio. Konsekuensinya adalah karakter-karakter lain menjadi tidak mendapat porsi yang cukup untuk diceritakan lebih lanjut. Yang sangat disayangkan adalah bagaimana karakter Kaoru yang jadi seakan tempelan belaka dalam The Legend Ends, mengingat dalam sekuel pertama dan kedua Kaoru cukup berperan besar terhadap Kenshin.

Secara keseluruhan, The Legends Ends jelas menghibur penontonnya lewat fight scenes showcase. Lupakan setiap drama dan jalan cerita karena anda telah mendapatkannya dalam sekuel pertama dan keduanya. The Legend Ends benar-benar to the point, layaknya The Raid dibandingkan Berandal. Tidak sesempurna itu, tetapi menjadi sebuah penutup yang tegas dari trilogi Rurouni Kenshin yang fenomenal.



Japan | 2014 | Action | 131 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 15 Oktober 2014 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top