14 March 2014
0 kritik

The Wind Rises

"Memiliki porsi drama yang kental, film terakhir Hayao Miyazaki ini penuh dengan makna yang membuat anda lebih menghargai hidup masing-masing"

Jiro Horikoshi adalah pemuda Jepang yang memiliki mimpi untuk menjadi pilot. Namun rabun jauhnya membuat ia menggeser mimpinya; menjadi perancang pesawat. Terinspirasi oleh perancang pesawat asal Italia, Caproni, Jiro masuk ke perusahaan perancang pesawat terbang dan menjadi salah satu perancang terbaik. Film ini juga mengangkat kejadian-kejadian historis yang nyata; Gempa Besar Kanto 1923, Depresi Besar, epidemi TBC, hingga keikutsertaan Jepang pada Perang Dunia II. Sementara Jiro jatuh cinta pada Nahoko, ia harus menyelesaikan pesawat rancangan pertamanya, yang digunakan Jepang dalam PDII; Mitsubishi Zero Fighter.

Diantara film-film sutradara dan penulis naskah Hayao Miyazaki yang lain, bisa dibilang The Wind Rises adalah film animasi yang cukup dewasa dan memiliki unsur drama yang sangat kental. Konon katanya film ini adalah film terakhir sebelum pensiun, satu-satunya celah bagi Hayao untuk berfantasi-ria adalah mimpi Jiro tentang Caproni dan pesawat-pesawat ciptaannya. Sisanya adalah jalan hidup Jiro dari kecil, remaja, jatuh cinta, menikah, hingga membuat pesawat pertamanya. Praktis mirip kisah dalam film perancang pesawat asal Indonesia; Habibie & Ainun.


The Wind Rises seakan sebuah film biografi dalam bentuk animasi, meski karakter Jiro sendiri diadaptasi secara lepas dari tokoh asli Jiro Horikoshi dan ditambah dengan bumbu dari novel karya Tatsuo Hori. Setelah Howl's Moving Castle (2004) dan Ponyo (2008), tampaknya ekspektasi terhadap dunia fantasi yang diciptakan oleh Hayao Miyazaki perlu diturunkan jauh. Namun seperti kebanyakan film-film karyanya, The Wind Rises masih membawa makna yang begitu dalam dan tampak jelas pada jalan cerita.

Memang Hayao Miyazaki selalu handal dalam mengutak-atik makna mengenai dilematis dan kecenderungan manusia dalam setiap filmnya. Dalam The Wind Rises, secara khusus Hayao ingin menyoroti betapa kehidupan manusia sebenarnya sangat indah dan menghangatkan dada, meski di saat genting dan terberat sekali pun. Hayao ingin menunjukkan bahwa Jiro dalam keadaan tersulit sekalipun, ia masih dapat melihat titik cerah dan memanfaatkan hal positif tersebut sebaik mungkin. Mulai dari gempa bumi dahsyat, hingga keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II.


Selain itu, yang menjadi garis utama dalam film ini adalah jelas kecintaan Jiro (dan Hayao) terhadap pesawat. Betapa Jiro begitu mengagumi pesawat terbang yang indah dan terbang melampaui angin. Namun ada manusia-manusia lain yang memanfaatkan keindahan tersebut menjadi mesin pembunuh. Disinilah titik dilematis yang harus Jiro hadapi. Kecintaan dan kekagumannya pada pesawat, harus disejajarkan dengan bagaimana karya ciptaannya akan digunakan untuk membunuh sesama manusia.

Dari segi drama yang kental, jelas ini adalah bukan film untuk semua orang. Namun jelas film ini dapat menjadi suatu studi karakter yang sangat menarik, khususnya terhadap karakter Jiro dalam film ini. Dengan porsi drama yang dibawakan, jelas film ini akan membawa rasa hangat di dada. Apalagi dibungkus dengan score syahdu karya Joe Hisaishi yang selalu setia menemani Hayao Miyazaki. Selain itu, berterimakasihlah kepada Blitzmegaplex yang telah menayangkan film ini dengan bahasa aslinya tanpa dubbing bahasa Inggris dari Disney; bahasa Jepang! Nonton film berbahasa asing di bioskop adalah sebuah hal yang cukup langka, bukan? :D



Japan | Animation / Drama | 126 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

Nominated for Best Animated Feature, Academy Awards, 2014.
Nominated for Best Foreign Language Film, Golden Globes, 2014

- sobekan tiket bioskop tanggal 14 Maret 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top