21 March 2014
3 kritik

The Raid 2: Berandal

"Sekuel yang jelas akan melampaui ekpektasi setinggi apapun dari fans film pertamanya"

Dua jam setelah kejadian dalam The Raid, Rama bertemu dengan Bunawar, kepala unit polisi khusus yang sedang menginvestigasi jaring mafia yang lebih besar. Terbunuhnya Tama akan menarik perhatian dua bos mafia besar yang menguasai kota; Bangun, dan Goto mafia asal Jepang. Pilihan Rama pun hanya dua; dibunuh atau membunuh lebih dulu. Maka Rama pun bergabung dengan tim Bunawar dengan menyamar sebagai napi untuk mendekati Uco, anak Bangun, yang haus kekuasaan. Sukses menjadi orang kepercayaan Uco, Rama malah terjerat dalam peliknya situasi mafia ketika Bejo sebagai mafia pendatang baru masuk ke kota dan terobsesi untuk menguasai seluruh kota. Tidak ada lagi yang dapat dipercaya, baik diantara kalangan mafia, maupun di kalangan polisi.

Ending credits bergulir, lampu bioskop masih gelap, namun standing ovation telah diberikan oleh separuh penonton yang mengisi Studio 2 Epicentrum XXI dalam acara Press Screening The Raid 2: Berandal hari Sabtu 21 Maret 2014. Sementara gue pulang dengan tidak sanggup berkata-kata. It's too overwhelming. Butuh waktu buat gue untuk bisa menulis ulasan ini dengan sadar dan logis.

Mungkin review gue kali ini harus gue buka dengan; siapapun yang skeptis terhadap formula "sekuel tidak lebih baik daripada film orisinilnya" harus mengevaluasi ulang pemikiran itu setelah nonton Berandal!! Naskah Berandal yang ditulis oleh Gareth Evans ini justru selesai lebih dulu di tahun 2009, beserta koreografinya. Namun karena membutuhkan dana yang lebih besar, Gareth memutuskan membuat film dengan budget lebih rendah di tahun 2011; The Raid.



Suksesnya The Raid, naskah Berandal pun direvisi sedemikian rupa agar menjadi sekuel yang sempurna. Jadi memang secara konsep, Berandal jauh lebih "besar dan luas" cakupannya dibandingkan The Raid yang hanya bersetting satu apartemen kumuh. That's why, untuk kasus ini maka jelas Berandal jauh lebih besar, sadis, greget, pecah, dan - you name it! Sebuah improvisasi yang cantik untuk membuat formula "sequel is better than prequel".

Dalam Berandal, landscape-nya lebih luas, porsi drama yang lebih banyak, kisah cerita yang lebih rumit, petarung-petarung jauh lebih banyak, ditambah adegan yang belum pernah ada di film Indonesia manapun; car chase. Fighting scene-nya sendiri tidak hanya lebih banyak - total ada 19 koreografi yang diarahkan oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian - tetapi juga jauh lebih brutal dan sadis ketimbang The Raid. Banyak momen-momen yang *euuwhhh* dan membuat dahi mengernyit. Orang-orang Ambon bergolok? Dalam Berandal yang dibungkus dengan nuansa komikal; ada cewe cantik pegang dua palu dan satu cowo ngehajar orang pake tongkat dan bola baseball. YEAH!!!


Oya, Yayan Ruhian memang main lagi dalam sekuel ini tapi tidak sebagai Mad Dog yang sudah mati - dan bukan pula kembaran atau saudaranya Mad Dog - tapi sebagai karakter lain yang lebih memiliki kedalaman emosi. Kalau final fight scene dalam The Raid mempertemukan Iko Uwais vs Yayan Ruhian, maka dalam Berandal Iko Uwais seakan menemukan "lawan sejatinya" yang sama-sama menguasai pencak silat. Dan adegan ini way more brutal yang membuat nafas terhenti sejenak. Jelas adegan tersebut adalah sebuah showcase pencak silat yang apik dan elegan, dan tidak mengikuti standar baku berkelahi ala Hollywood (jagoan kalah dulu, baru menang). Unpredictable, dan koreografinya benar-benar sempurna untuk memanfaatkan setiap sudut ruangan - dan berbagai peralatan - yang ada di setting tersebut. PECAAHHH!!

Adegan yang menurut gue keren adalah jelas adegan Prison Riot yang fenomenal itu. Konon butuh 8 hari untuk menyelesaikan adegan beberapa menit dimana puluhan napi adu jotos dengan puluhan polisi berpentungan dengan lumpur setinggi mata kaki. EPIK! Ditambah dengan ketegangan yang dibangun oleh motivasi Rama dalam perkelahian massal tersebut membuat adegan itu menjadi salah satu adegan perkelahian dramatis di paruh pertama film. Selain itu, kemampuan editing dari Gareth Evans juga perlu dipuja melalui deretan adegan quick cut untuk menceritakan tiga adegan perkelahian yang terjadi secara pararel, dan jelas meningkatkan tensi ketegangan setinggi-tingginya.


Sinematografinya yang nyaris sempurna membuat gue berdecak kagum sambil mikir "ini gimana caranya??". Dalam The Raid, ingat adegan kamera yang bergerak dari atas ke bawah melalui lantai apartemen yang bolong? Di Berandal, anda akan menyaksikan lebih banyak lagi teknik kamera yang bergerak dinamis seperti itu, dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Dibungkus dengan score dramatis Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal, yang kali ini melibatkan secara langsung komposer yang mengerjakan score The Raid versi AS; Joe Trapanese. Menakjubkannya scoring arahan mereka bertiga adalah bagaimana mereka seakan dapat menyatukan materi suara mentah - seperti suara pukulan, ayunan baseball, hingga musik reog - menjadi sebuah komposisi musik rock-alternatif yang epik.

The Raid 3? Gareth Evans bilang bahwa ia ingin mengerjakan proyek lain dulu selama 2-3 tahun ke depan sebelum kembali pada The Raid. Akhir kata, silahkan menaruh ekspektasi setinggi-tingginya karena setinggi apapun ekspektasi anda, Berandal akan menjawabnya dengan adegan-adegan yang lebih berdarah, lebih mewah, dan lebih brutal. Tonton saja semua trailer yang ada karena semua trailer yang dirilis sama sekali - catat, sama sekali! - tidak menggambarkan keseluruhan jalan cerita yang ada. Beruntung gue menyaksikan versi premiere yang belum dipotong oleh LSF. Dengan jarak premiere 7 hari sebelum rilis nasional, rasanya itu waktu yang cukup untuk memotong berbagai adegan berdarah dan kata-kata seperti "ngent*t" dan "ng*we" yang ada dalam film berdurasi 150 menit ini. Dan ya, ada satu adegan yang pasti kena sensor jadi anyway gue akan cerita aja disini, dalam rangka menggambarkan betapa sick bastard-nya film ini; cewe berdildo (!!) yang jalan santai keluar dari bilik tempat syuting film bokep dengan telanjang dada! *HAHAHAHA* Sakit!!

Gareth Evans, lo sarap!! Tapi gue doain lo semoga sehat selalu dan panjang umur biar bisa tetep bikin film Indonesia yang gokil. Selanjutnya: The Night Comes for Us kolaborasi dengan sutradara Timo Tjahjanto :D


Indonesia | Action / Crime | 150 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
10 dari 10










- sobekan voucher bioskop tanggal 21 Maret 2014 -

3 kritik:

  1. bang, saya nonton versi LSF-cut aja udah merinding disko haha
    apalagi lihat duelnya Rama a.k.a Yuda lawan duo HG dan BBM ditambah duelnya lawan The Assassin yang sumpah sampai harus tahan nafas.
    Puas banget! Tapi kecewa juga liat orang-orang pada nggak paham adegan salju

    haahaha beyond expectation lah

    ReplyDelete
  2. hai, aku boleh comot gambar2nya ya....untuk dimuat di blog... ^_^ Thank you

    ReplyDelete
  3. gw jg kaget tuwh liat cewe berdildo n telanjang dada....hahaa....sarap.!!!

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top