13 March 2014
0 kritik

300: Rise of an Empire

"Dibungkus dengan efek visual yang sama dengan film pendahulunya, film ini tidak menyajikan hal baru sebagai film aksi dan lemah di gaya penuturan cerita"

Setelah mengalahkan 300 pasukan Sparta dalam Battle of Thermopylae, pasukan Persia yang dipimpin oleh Xerxes mulai maju ke kota-kota besar Yunani. Sementara itu komandan angkatan laut, Artemisia, diberi tugas untuk menghancurkan armada laut Athena yang terkenal kuat. Dipimpin oleh ahli strategi Themistocles, armada laut Athena dengan kapal-kapal mereka yang jauh lebih kecil dan kalah banyak harus menghadapi ratusan kapal-kapal besar Persia. Dengan cita-cita menyatukan Yunani, Themistocles pun mau tidak mau meminta bantuan kepada Sparta, yang masih berkabung sepeninggalan Raja Leonidas. Sementara armada laut Persia semakin mendekat, Themistocles harus mengerahkan strategi terbaiknya dalam menghadapi perang terbesar untuk membela kemerdekaan Yunani.

Entah apa yang membuat Zack Snyder harus menunggu tujuh tahun untuk membuat sekuel dari 300 (2007) yang sangat fenomenal itu. Pada masanya, film 300 jelas menjadi patokan bersejarah dalam genre film aksi lewat deretan adegan yang brutal dan berdarah, dibungkus dengan efek visual yang magis dan fantastis. Semenjak itu, banyak film pun mengikuti jejak resep efek visual yang diusung oleh 300. Ketika sekuel Rise of an Empire hadir di tahun 2014, keunikan efek visual tersebut pun otomatis bukan menjadi hal baru. Dengan tidak adanya teknik efek visual baru - selain adegan super slow-motion yang terlalu sering - praktis menjadikan Rise of an Empire terlihat tidak secemerlang 300.



Ketika dari tampilan efek visual yang tidak ada peningkatan yang berarti, tampilan detilnya justru malah menurun. Banyak tampilan detil yang tidak meyakinkan. Tentu kita ingat bagaimana efek muncratan darah dari kepala terpenggal yang fenomenal dalam 300. Nah muncratan darah ini bertambah 100x lipat dalam Rise of an Empire, yang hadir setiap detik namun... tampak lebih kental dan tidak seperti darah sama sekali. Pembuat film tampak ingin menampilkan sebuah film yang jauh lebih berdarah dibandingkan 300 dengan bergalon-galon darah (digital) hingga mampu mengejutkan penonton 3D. Namun sayang darah yang terbuang tersebut tampak sia-sia karena bentuknya yang lebih mirip sirup merah yang tumpah di luar angkasa.

Dari segi cerita pun tidak banyak menyelamatkan film ini, sama tidak ada harapannya seperti jutaan pasukan Xerxes yang menginvasi dataran Yunani. Zack Snyder bersama partnernya dalam menulis naskah 300,  Kurt Johnstad, mengadaptasi kisah Themistocles dan Artemisia dari novel grafis karya Frank Miller yang berjudul asli Xerxes. Namun novel ini bahkan belum selesai ditulis oleh Frank Miller - bahkan sampai Rise of an Empire dirilis. Meski secara garis besar, kisah Themistocles dan Artemisia dalam film ini masih setia pada kisah yang dituturkan oleh Herodotus seorang sejarawan Yunani, namun tampak bagaimana Zack Snyder cukup keteteran dalam menuangkan semua subplot yang ada dalam 102 menit film ini. Tidak fokus dan seakan terlalu memaksa untuk kembali melibatkan pasukan Sparta yang fenomenal itu, sambil berharap untuk membuat fans berat 300 berteriak kegiarangan.


Namun konsep cerita yang dibawakan oleh Zack Snyder jelas suatu hal yang menarik. Rise of an Empire adalah sekuel sekaligus prekuel dari apa yang terjadi sebelum Battle of Thermopylae terjadi. Secara garis besar, kisah yang diceritakan dalam Rise of an Empire adalah dimulai dari sedikit flashback 10 tahun sebelum Xerxes menyerbu Yunani, beberapa saat sebelum dan selama Battle of Thermopylae berlangsung, hingga sesudahnya. Cara ini jelas sukses untuk mengingat kembali, sekaligus memberikan penghormatan tersendiri terhadap film 300 yang fenomenal.

Satu-satunya hal yang keren dalam film ini adalah animasi di ending credits yang tampak rupawan dan membuat gue penasaran dengan isi novel grafis Frank Miller terbaru. Dan oh satu lagi, adegan seks Eva Green yang dengan hot-nya kena potong sensor di bioskop. Well, jelas strategi ini mampu menarik banyak kaum Adam untuk menonton film ini; perang, seks, dan puluhan pria topless berperut six packs!

)

USA | 2014 | Action | 102 min | Aspect Ratio 2.35 : 1



Rating?
6 dari 10

Wajib 3D? RELATIF
(jika anda ingin merasakan cipratan darah pada layar, sebagai satu-satunya efek pop-out yang ada dalam film ini)

Wajib IMAX? TIDAK
(film ini tidak disyuting dalam format IMAX)

- sobekan tiket bioskop tanggal 13 Maret 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top