15 March 2014
0 kritik

The Monuments Men

"Mengangkat fakta sejarah tentang penyelamatan benda mahakarya seni selama PDII, film ini memberikan pencerahan mengenai pentingnya budaya manusia yang dibawakan dengan ringan dan menghibur"

Berdasarkan kisah nyata di Perang Dunia II, sekelompok orang yang menyebut dirinya "The Monuments Men" ditugaskan oleh FDR untuk menyelamatkan ribuan barang-barang seni yang dicuri Nazi dari berbagai negara jajahannya, dan mengembalikan ke pemilik aslinya. Kebanyakan dari mereka berlatar belakang sebagai kurator, direktur museum, sejarahwan seni, dan orang-orang yang lebih familiar terhadap Michaelangelo dan Picasso ketimbang senapan mesin. Namun mereka harus menempuh tugas yang nyaris mustahil, menemukan berbagai mahakarya seni yang dicuri dan disembunyikan di belakang garis musuh. Belum lagi mereka harus berpacu dengan waktu, dimana Hitler telah memerintahkan untuk membumihanguskan semua barang curiannya jika Nazi kalah perang.

Film ini menarik bagi gue di berbagai sisi. Pertama, jelas deretan cast kaliber yang mengisi jajaran pemeran dalam The Monuments Men. George Clooney, Matt Damon, Bill Murray, John Goodman, Jean Dujardin, hingga si cantik pemenang Oscar Cate Blanchett ini seakan menjadi versi Ocean's namun berlatar Perang Dunia II. Walaupun film ini diberkahi oleh pemeran-pemeran kaliber, namun penampilan mereka seakan saling mengisi satu dengan yang lain dan kekuatan karakter mereka tampak sama rata dalam 118 menit durasi film ini. Meski ada karakter yang tampil dengan durasi adegan lebih sedikit, namun karakternya tetap kuat berkat beberapa adegan yang sangat berkesan seperti karakter Richard Campbell yang diperankan oleh Bill Murray di adegan "Have Yourself a Merry Little Christmas" yang sangat menyentuh itu.



Sisi lain yang menarik bagi gue adalah jelas latar Perang Dunia II yang seakan menjadi genre favorit gue. Dengan film ini dan kisah nyata yang diangkatnya, jelas menjadi satu pengetahuan baru bagi gue dalam memahami situasi dan keadaan sulit yang terjadi dalam salah satu perang termahal di bumi itu. The Monuments Men jelas tidak fokus pada pembunuhan Yahudi atau kekejaman Nazi. Pencarian dan penyelamatan barang-barang seni ini yang jelas menjadi hal yang sangat menarik dan unik, apalagi kisah ini sama sekali belum pernah diangkat ke publik.
You can wipe out an entire generation, you can burn their homes to the ground and somehow they'll still find their way back. But if you destroy their history, you destroy their achievements and it's as if they never existed.
Memang quote ini yang menjadi pondasi dasar bagi keseluruhan jalan cerita dalam The Monuments Men. Jujur, jika film ini tidak muncul, gue tidak akan tahu tentang ada sekelompok orang yang bertugas khusus untuk mencari dan menyelamatkan lukisan, patung, hingga monumen dan tugu bersejarah selama Nazi menginvasi Eropa. Bahkan tidak pernah sekalipun terlintas di kepala gue bahwa barang-barang tersebut "cukup penting" hingga harus diselamatkan. Hadirnya film ini pun membuat gue tersadar bahwa jelas barang-barang hasil karya manusia - apapun itu - adalah jiwa, identitas, dan tingkat pencapaian kebudayaan manusia yang nyata dan harus dilestarikan. Tanpa benda-benda seni itu, pencapaian manusia dalam dunia modern akan hilang dan seakan peradaban manusia pada era tersebut tidak akan pernah ada. Bagi anda para fotografer, bayangkan jika lukisan asli potret diri Rembrandt hilang, tentu anda tidak akan pernah tahu tentang istilah "Rembrandt's lighting".


Walaupun film ini berlatar perang, namun George Clooney selaku penulis dan sutradara tetap fokus pada drama pencarian benda seni. Namun tidak lupa menyelipkan beberapa adegan perang dan tembak-menembak, yang menelan dua anggota The Monuments Men. Selain itu, Clooney juga membungkus film ini dengan nuansa komikal yang ringan sehingga mampu memancing tawa penonton di berbagai adegan. Mungkin unsur komikal ini juga diangkat berdasarkan fakta nyata dimana para pelaku seni yang harus memegang senjata, hingga tidak sengaja menemukan seorang perwira tinggi Nazi lewat dokter gigi.

Film ini tidak hanya memberikan hiburan lewat komedi dan unsur komikalnya, tetapi juga memberikan pengetahuan baru tentang sejarah lewat adegan-adegan yang konon sesuai dengan fakta - walau ditambah bumbu Hollywood. Pada intinya, The Monuments Men jelas menjadi media yang sukses dalam menyampaikan pesan untuk melestarikan benda-benda seni hingga kebudayaan manusia.


USA | 2014 | Drama / War | 118 min | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 15 Maret 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top