22 January 2014
0 kritik

The Wolf of Wall Street

"Film yang mengikuti karir seorang pialang saham dari naik daun hingga kejatuhannya ini penuh dengan unsur komedi dan sangat jujur dalam menggambarkan betapa rapuhnya manusia terhadap hal-hal duniawi"

Berdasarkan kisah nyata, film ini mengikuti kisah naik daun hingga kejatuhannya Jordan Belfort, seorang pialang saham muda yang bermain di saham-saham kecil. Dijuluki The Wolf of Wall Street, Jordan melakukan apa saja demi memperkaya diri sendiri, mulai dari pencucian uang, korupsi, hingga penipuan saham. Mendirikan firma saham Stratton Oakmont, batas-batas hukum dan legal pun menjadi kabur demi mencapai impian manusia manapun; mobil kaya, gadis cantik, rumah mewah, hingga kapal pesiar. Jordan pun tak perlu menunggu waktu lama hingga aksinya tercium oleh FBI.

Sekali lagi, Martin Scorsese menyajikan film yang menjadi ciri khasnya. Memberikan deskripsi yang nyata dan menyeluruh mengenai betapa rapuhnya manusia sehingga sangat mudah terjebak dalam kebobrokan moral, ditengah perkembangan dunia dimana batas baik-buruk dan legal-ilegal menjadi lebur. Dalam adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis sendiri oleh Jordan Belfort, Scorsese memberikan deskripsi tersebut sevulgar mungkin dengan tetap setia - hingga hal-hal detil - terhadap novelnya. Ini juga kali kelima bagi Scorsese bekerja sama dengan Leonardo DiCaprio yang selalu tampil sempurna - namun lebih nyata dalam film ini - sebagai Jordan Belfort.




DiCaprio memang sangat kuat dan seakan memegang kendali pace dalam film ini. Namun bukan berarti karakter-karakter pendampingnya tenggelam begitu saja. Penampilan Jonah Hill yang "rada serius" dalam film ini pun sangat menonjol. Meski masih dalam zona nyaman karakter "geek" yang selalu dibawanya, namun kekuatan karakter Donnie Azoff sangat terasa sehingga membuat gue menaruh simpati tersendiri. Setiap cameo dari Matthew McConaughey, Jean Dujardin, dan Jon Favreau (ya si sutradara Iron Man itu) pun cukup mencuri perhatian. Namun yang mau gue acungi jempol adalah penampilan Rob Reiner sebagai ayah dari Jordan Belfort, yang memiliki karakter yang sangat komikal; sangat tempramental namun bisa menjadi sangat lembut ketika menerima telepon. Saking kocaknya karakter Max Belfort ini sampai membuat gue menunggu-nunggu setiap kehadiranya di layar.

Biografi yang serius ini dibungkus dengan atmosfer komedi yang kocak oleh Scorsese. Dibantu dengan plot dimana Belfort yang kecanduan narkoba, membuat setiap adegan dimana Belfort dan sahabatnya Donnie Azoff sedang high menjadi kocak. Belum lagi bagaimana berbagai kebodohan yang ada dari teman-temannya Belfort yang selalu menggelikan. Tenang saja, meski latar utama dalam film ini adalah saham dan ekonomi, dijamin tidak ada bahasa-bahasa ekonomi yang terlalu berat. Bahkan Jordan Belfort sendiri yang tidak mau terlalu detil membahas permasalahan saham. Intinya, Martin Scorsese berhasil membuat drama biografi ini menjadi sangat nikmat untuk ditonton dan dapat diakses untuk semua kalangan penonton, bahkan tidak berasa jika ternyata The Wolf of Wall Street berdurasi tiga jam.


Martin Scorsese dan Leonardo DiCaprio yang sebagai produser juga tampak sangat santai dan "slengean" dalam menanamkan konsep komedi dalam The Wolf of Wall Street. Dengan beberapa kali karakter Jordan Belfort yang berbicara kepada kamera seakan seorang narator, hingga adegan koplak dimana adegan menjadi sok-sok iklan tahun 80-an ketika memerkan setiap barang baru dari Jordan Belfort. They are really having fun at this movie, dan di tangan seorang Martin Scorsese yang membuat konsep nyeleneh tersebut menjadi sebuah masterpiece.

Oya, jangan kaget ketika lo merasa film ini banyak disensor. Karena memang LSF menyensor film ini dengan total durasi 15 menit! Ya bukan Martin Scorsese namanya jika tidak membuat film yang kontroversial. Saking setianya pada tema pialang saham yang hobi ngeseks dan menghirup kokain, segalanya mesti ditampilkan apa adanya. Yup, termasuk pesta seks para karyawan Stratton Oakment dengan puluhan pelacur, adegan masturbasi Donnie Azoff di depan umum, hingga adegan menghirup kokain diatas dada wanita. Tapi ya, semua itu tentunya akan hilang dari layar lebar di bioskop Indonesia.

Makna yang diusung dalam film ini pun tak sulit untuk digali. Jordan Belfort sejatinya memiliki kelebihan sebagai seorang agitator yang meyakinkan, bak Soekarno yang effortless memikat rakyat Indonesia lewat kharisma dan pidato berapi-api. Selain itu, Belfort juga memiliki kemampuan yang sempurna sebagai seorang salesman. Namun sayang, ia menggunakan kelebihan tersebut hanya untuk memperkaya diri sendiri, ditambah dengan cara-cara yang ilegal. Sampai di titik ini jelas bagaimana rapuhnya manusia dalam menghadapi hal-hal duniawi yang sangat menggoda. Kebobrokan moral ini pun telah melewati batas akal sehat dengan berbagai tingkah laku yang sangat mengesampingkan nilai-nilai humanis. Film ini pun sangat jujur dalam menggambarkan betapa para pegawai di Wall Street yang telah melunturkan rasa kemanusiaan.


USA | 2013 | Biogaphy / Comedy / Crime / Drama | 180 min | Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 22 Januari 2014 -


Nominated for Best Motion Picture, Best Leading Actor (Leonardo DiCaprio), Best Supporting Actor (Jonah Hill), Best Directing (Martin Scorsese), Best Adapted Screenplay (Terence Winter), Academy Awards, 2014

Won for Best Actor in Musical or Comedy (Leonardo DiCaprio), Nominated for Best Motion Picture - Comedy or Musical, Golden Globes, 2014

Nominated for Best Adapted Screenplay, Best Leading Actor, Best Editing, Best Director, BAFTA Awards, 2014

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top