30 January 2014
0 kritik

Comic 8

"Film action-comedy yang diperankan oleh delapan standup-comedian ini jelas menjadi pilihan film Indonesia yang segar saat ini"

Tiga komplotan perampok secara kebetulan merampok satu bank di waktu yang sama. Dengan kemampuan dan jam terbang yang berbeda-beda, mereka merampok dengan motif yang berbeda satu sama lain. Terdesak oleh kepungan polisi yang dipimpin oleh kapten yang cantik, tiga komplotan ini harus bekerja sama untuk mencari jalan keluar.

Mongol Stres, Mudy Taylor, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Arie Kriting adalah delapan standup-comedian atau yang biasa disebut dengan comic yang sedang naik daun di Indonesia. Ditangan duet penulis naskah Fajar Umbara dan sutradara Anggy Umbara, duo yang berada di balik Mama Cake (2012), sebuah film action-comedy dibuat untuk memanfaatkan kelucuan dan tingkah komikal dari delapan pelawak tunggal ini. Dengan segala adegan tembak-menembak mulai dari pistol, senapan mesin, granat, hingga bazooka, ditambah dengan berbagai lelucon yang dilempar, ini adalah sebuah film Indonesia yang unik, berbeda, dan segar.

Kedelapan comic kita ini memang bukan berlatar belakang akting, maka ya kita maklumkan saja kualitas akting mereka yang beberapa kali tampak kurang meyakinkan. Namun mereka benar-benar memanfaatkan latar belakang mereka sebagai seorang standup-comedian, dimana Fajar Umbara tampak memberikan keleluasaan bagi mereka untuk mengucapkan berbagai punch line, termasuk line yang menjadi ciri khas standup mereka. Karakter mereka pun dibuat sedekat mungkin dengan ciri khas mereka, yang jelas memudahkan penonton untuk merelasikan mereka yang biasa melawak seorang diri.


Dibawah arahan Angga Umbara, Comic 8 ini pun masih mengikuti ciri khasnya yang tampak pula pada Mama Cake (2012); gaya bercerita yang komikal dengan 2-3 frame sekaligus dalam satu layar, hingga pergerakan kamera yang dinamis. Pergerakan kamera yang liar ke kanan-kiri, atas-bawah, maju-mundur memang terasa asyik dan tidak monoton. Tetapi alangkah mengganggunya ketika metode ini digunakan terlalu sering, yang rasanya bisa saja membuat salah satu penonton merasa mual. Selain itu, penggunaan efek slow-motion dalam memperlihatkan setiap adegan tembak-tembakan dalam film ini harus diapresiasi. Karena tidak saja efek ini digunakan pada momen yang tepat, tetapi perhatian pada detil seperti senjata dan peluru yang patut diacungi jempol.

Usaha Fajar Umbara dalam menulis naskah sebuah film action-comedy yang penuh dengan twist yang terungkap di tiga-perempat terakhir film pun patut diberikan apresiasi. Hanya saja mungkin gaya penceritaan bagaimana twist tersebut terungkap yang terkesan seakan kurang mengejutkan, atau tampak sambil lalu. Selain itu, bungkusan komedi dalam film ini memang sangat kental. Namun entah kenapa beberapa line lelucon dalam film ini termasuk kadaluarsa, atau malah terkesan absurd, yang hanya mampu menarik senyuman dari para penonton - well, setidaknya gue. Tapi jelas ada banyak adegan komedi yang membuat seisi bioskop tertawa ngakak.


Comic 8 jelas menjadi film hiburan tersendiri dan penyegar yang cantik di tengah-tengah perfilman Indonesia yang tampak latah dengan satu-dua genre tertentu. Apalagi film ini benar memanfaatkan momentum komedi lawak tunggal yang sedang naik daun di Indonesia. Baru kali ini juga gue nonton film Indonesia - "film Indonesia", catat! - di bioskop, dan nyaris seluruh kursi terisi penuh! Sensasi nonton film komedi di dalam bioskop itu pun tak terkalahkan ketika gue tertawa bersama-sama dengan ratusan orang lainnya. Belum lagi ketika para penonton menemukan banyak cameo dari artis Indonesia dalam film ini. Wuih!

Dan bertahanlah sampai scrolling end credits selesai! Karena sebuah film tentang standup comedy tentunya tak akan lengkap jika tidak ada bit standup comedy dari para comic-nya, betul?


Indonesia | 2014 | Action / Comedy | 105 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 30 Januari 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top