18 March 2010
One kritik

Shutter Island

12:38 AM
sobekan tiket bioskop tertanggal 17 Maret 2010 adalah Shutter Island. sebenarnya sudah lama mengincar film ini sejak posternya pertama kali keluar di akhir tahun 2009 kemarin. apalagi ini persembahan baru dari duet DiCaprio dan Scorsese (Gangs of New York, The Aviator, The Departed).

Pada tahun 1954, US Marshal Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan mitra barunya, Chuck Aule (Mark Ruffalo), datang ke Pulau Shutter untuk menyelidiki hilangnya seorang pasien di Rumah Sakit Ashecliffe untuk pelaku kriminal kejiwaan. Seorang wanita pembunuh bernama Rachel Solando (Emily Mortimer) tiba-tiba menghilang dari pulau terpencil ini, meskipun telah dikurung dalam sel yang terkunci di bawah pengawasan rutin. Ketika badai datang dan memutuskan komunikasi dengan daratan, napi-napi lain yang berbahaya turut melarikan diri tanpa jejak seiring dengan munculnya aneka petunjuk yang semakin membuat bingung. Teddy segera mulai meragukan segalanya; ingatannya, rekannya, bahkan kewarasannya sendiri.

film yang unik dengan jalan cerita yang cukup cerdas. meskipun film ini diangkat dari novel dan gue belum pernah baca novelnya, gue percaya bahwa Scorsese memvisualisasikan cerita ini dengan sangat-sangat indah, dan liar. cukup banyak 'disturbing picture' yang bertebaran di sepanjang film, namun entah kenapa gue suka dengan cara Scorsese menyampaikannya.

gue suka dengan gaya sinematografinya, yang seakan mengikuti liarnya jalan cerita yang ada. setiap gerak kamera dan pemgambilan sudut pandang yang asik dan mendukung adegan. scoring yang ada juga memperdalam kesan thriller, meskipun terkadang agak berlebihan di adegan-adegan yang sebenarnya engga perlu score sedalam itu. tapi mungkin itu tujuan dari si pembuat film, untuk menjaga keadaan thriller sepanjang durasi film. dan memang, kalau gue bayangkan film ini tanpa score sekejam itu, film ini akan jadi film yang datar.
aktingnya DiCaprio sendiri cukup pas untuk memerankan Teddy Daniels, seorang U.S. Marshall yang mengalami trauma pasca perang melawan Nazi. sepertinya gue bisa melihat ciri khas karakter yang dipilih DiCaprio untuk setiap filmnya, seorang karakter yang harus menjalani sebuah misi meskipun dirinya mengalami sebuah tekanan mental. menarik melihat bagaimana dua kekuatan yang bertolak belakang ini; menyelesaikan misi dan tekanan mental, hadir dalam satu karakter. gue juga cukup amaze dengan akting Mark Ruffalo. engga disangkal, dengan sukses dia memerankan seorang sidekick dari si aktor utama. rasanya engga heran apabila Ruffalo masuk nominasi aktor pendamping terbaik di sebuah penghargaan film.
dari segi cerita sendiri, sebenarnya cukup menarik dan rasanya ada alasan khusus kenapa si pembuat cerita memilih untuk menempatkan set di tahun 1950-an. karena pada waktu itu, ilmu psikologi/psikiatri sedang mencari jati dirinya. yang populer pada jaman itu untuk merawat dan 'menyembuhkan' orang-orang yang mengalami gangguan jiwa adalah dengan cara yang cukup 'tidak manusiawi', beberapa sudah disebut di dalam film, seperti kepala dimasukkan ke dalam air es, dimasukkan ke dalam sel yang gelap, dikurung berhari-hari, sampai dijadikan eksperimen percobaan seperti lobotomy. dan memang, ilmu psikologi/psikiatri yang berkembang memandang bahwa cara-cara tersebut tidak sesuai untuk orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. mereka lalu menggunakan cara-cara yang lebih 'manusiawi', secara garis besar, mencoba lebih memahami mereka. Dr. Calwell sendiri memang termasuk aliran 'baru' ini yang cukup revolusioner, mencoba memahami pasien lebih dalam lagi.
dan sebaiknya gue mengakhiri review gue sebelum gue membuat spoiler. hehe.

overall, high recommended untuk pecinta film thriller, maupun penggemar Scorsese dan/atau DiCaprio. buat anak psikologi, menurut gue film ini wajib tonton untuk bahan diskusi ilmiah ;p buat gue sendiri, gue akan nonton film ini untuk kedua kalinya.

rating?
8,5 of 10

1 kritik:

  1. filmnya mikir yaa... kemarin saya nonton dan agak bingung. Hehehe.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top