18 November 2017
0 kritik

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak - Review

1:00 PM
"Seruan pahit dari gender yang tertindas, dalam balutan genre film baru di sinema Indonesia; satay western"

Marlina, seorang janda yang baru saja ditinggal mendiang suaminya, didatangi oleh kawanan perampok. Ketika diancam diperkosa secara bergiliran, Marlina memberontak dengan membunuh mereka. Tak tentu arah, Marlina memutuskan untuk keluar dari rumah dan pergi ke kantor polisi untuk menuntut keadilan sambil membawa saksi mata; kepala si perampok.

Ini adalah karya ketiga sutradara dan penulis naskah berbakat Mouly Surya yang masih mengeksplorasi satu tema yang sama; bagaimana seorang wanita menghadapi dunia. Dalam dua karya sebelumnya, Fiksi (2008) dan Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2013) memang membahas peran wanita dalam konteks kehidupan urban. Namun dalam Marlina the Murderer in Four Acts (pilihan judul untuk distribusi internasional), penonton diajak ke tanah Sumba di Timur Indonesia. Sebuah eksposisi tema dan konteks yang paralel; karakter dan latar yang sama-sama "terpinggirkan".

Gue mendengar beberapa penonton cenderung bingung sekaligus takjub melihat telepon genggam menjadi hal lumrah di desa pinggiran Sumba. Tapi justru itulah ironi dari fakta yang ada di lapangan; era modern 2017 ketika mereka mau tidak mau harus memiliki akses untuk berkomunikasi, tetapi listrik dan jalanan aspal masih menjadi komoditi mewah. Sebuah gambaran yang memang harus diterima bagi warga urban yang terkadang take-it-for-granted, bahwa masih ada daerah atau kelompok masyarakat yang "ditinggalkan" - atau cenderung terdegradasi. Bagaimana tidak, mau buat laporan visum pemerkosaan di kantor polisi saja harus menunggu satu bulan lantaran tidak ada alat maupun dokter!


Tema yang sama juga dieksplorasi lewat karakternya yang perempuan, di mana mereka hidup di tengah masyarakat Sumba yang patriarkis. Peran pria diagung-agungkan sebagai pihak yang memberi nafkah sekaligus melindungi anggota keluarganya, sementara peran wanita hanyalah memasak, berhubungan seks, dan melahirkan. Namun ketika seorang istri ditinggal (mati) oleh suaminya, maka tidak ada lagi yang akan melindunginya. Serba salah memang, karena dengan begitu maka diri mereka akan sangat rentan terhadap berbagai pandangan negatif - bahkan tindak kekerasan - dari orang-orang di sekitarnya.

Seorang wanita hamil yang tak kunjung melahirkan? Biasanya sang suami akan menuduh bahwa bayi dalam kandungan berada dalam posisi terbalik, lantaran sang istri selingkuh dan berhubungan seks dengan pria lain. Seorang janda yang membela diri dari para pemerkosa dan memenggal kepala mereka? Maka cap "pembunuh" akan melekat pada dirinya - yang diteriakkan dengan lantang lewat judul film ini. Satu-satunya tempat yang nyaman bagi para perempuan ini untuk berpijak adalah dengan perempuan lain, entah muda atau sudah berumur. Dalam film Marlina digambarkan bahwa Novi si ibu hamil mendapatkan kesegaran mental mengenai kandungannya dari seorang 'mama' yang ditemuinya di perjalanan. Karakter ini pun menonjol lantaran berpengaruh signifikan dalam mengimbangi film 'sunyi dan lamban' ini dengan nada komedik, berkat penampilan cemerlang dari Rita Manu Mona. Sementara Marlina sendiri membuat pertemanan yang singkat namun sejuk dengan seorang anak perempuan penjaga warung sate.


Yang membuat gue semudah itu jatuh cinta pada film ini adalah bungkusannya yang sangat indah dan menyegarkan mata serta telinga. Keindahan alam Sumba yang penuh dengan ladang rumput coklat yang berbukit-bukit serta langit mahabiru, tidak menjadi jualan murahan layaknya video klip perjalanan. Alam - dan juga latar budaya Sumba - hanya menjadi latar belakang film ini layaknya properti dalam panggung teater. Sinematografinya sangat menawan, meski penempatan kameranya konsisten diam dalam satu titik - untuk kemudian memberikan kebebasan bagi penonton untuk mengobservasi apa saja yang terjadi dalam layar dalam waktu yang lama.

Penempatan kamera yang tidak bergerak sama sekali dan terpaku pada satu-dua sudut ini seakan-akan menyampaikan pesan bahwa "tidak ada yang bisa kita semua lakukan untuk membantu karakter tertindas ini". Secara tegas, penonton film dijadikan hanya sebatas penonton kenyataan pedih. Beberapa penempatan kamera bahkan tampak seperti panggung teater, khususnya adegan dalam ruangan. Pesannya jelas, anda adalah "hanya" penonton dan duduklah dengan manis di kursi anda. Jeritan Marlina menganggu anda? You can't do anything about it, so just sit and watch!


Konon, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang telah beredar ke banyak festival di beberapa negara disebut sebagai "satay western". Sebutan yang merujuk pada film khas western ala Indonesia, layaknya "spaghetti western" ala Italia. Marlina memang digambarkan menunggangi kuda sebagai alternatif transportasi, kemudian menenteng golok panjang dan kepala orang sekaligus. Koboy perempuan! Hal ini diperjelas dengan pilihan skoring musik yang sangat Morricone sekali dengan dentingan gitar ala western. Ketika skoring satay western ini dipadukan dengan nyanyian daerah Sumba lewat suara aktor Yoga Pratama, tidak akan ada yang menyangka bahwa Indonesia juga bisa menelurkan film bergenre western namun bercita rasa lokal. Kalau rumah produksi Cinesurya mengeluarkan album official soundtrack, gue yang akan menjadi orang pertama untuk mengantri!

Untuk menutup ulasan yang panjang ini, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah salah satu tonggak pencapaian yang paling penting bagi sinema Indonesia. Lewat cerita yang diprakarsai oleh Garin Nugroho, Mouly Surya tidak hanya menelurkan genre baru dalam perfilman Indonesia. Tetapi juga mampu mengeksplorasi tema yang sangat penting dan masih ramai dibicarakan di media sosial dalam hal pemerkosaan. Selain itu, penggambaran budaya Sumba juga sedemikian detil, sampai pada visualisasi menaruh jenazah dalam kondisi jongkok di dalam rumah - yang termasuk tahapan ritual pemakaman orang Sumba. Diceritakan dalam empat babak dengan judul ala Tarantino, jelas ini adalah tontonan film Indonesia yang sangat segar, sekaligus pengalaman budaya yang sangat mengesankan.





Rating Sobekan Tiket Bioskop:

Indonesia | 2017 | Arthouse / Drama / Feminist / Western | 103 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Premiere at Director's Fortnight, Cannes International Film Festival, 2017
Winner, Best Actress (Marsha Timothy), Sitges International Fantastic Film Festival, 2017

- sobekan tiket bioskop tanggal 17 November 2017 -

----------------------------------------------------------
  • review film marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • review marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts movie review
  • marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts film review
  • resensi film marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • resensi marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • ulasan marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • ulasan film marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • sinopsis film marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • sinopsis marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • cerita marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts
  • jalan cerita marlina si pembunuh dalam empat babak the murderer in four acts

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top