Thor: Ragnarok - Review

"Sekuel yang terlahir kembali dengan menyajikan hiburan maksimal lewat kekuatan karakter dan humor yang kocak"

Thor terjebak di sisi lain dari alam semesta dan terjebak sebagai tahanan. Sementara itu, Asgard terancam dengan masa Ragnarok sebagai kehancuran total oleh ancaman Hela, Dewi Kematian. Dikejar oleh waktu, Thor harus memanfaatkan siapapun yang ada untuk membantunya menghentikan Ragnarok oleh Hela.

Harus diakui bahwa dari semua film-film Marvel Cinematic Universe (MCU), Thor adalah salah satu yang tidak menjadi favorit gue. Kedua sekuel pendahulunya tidak berkesan - bahkan jalan cerita yang tidak gue ingat - karena kisahnya yang terlalu out of this world. Suatu hal yang tidak dapat menyamai kualitas Guardians of the Galaxy yang masih menggunakan deretan lagu tahun 70-an dan 80-an. Tapi semuanya dijawab dengan sangat baik lewat Ragnarok, yang tampil sangat menyenangkan dan mengocok perut.


Dalam mitologi Nordik, Ragnarok adalah peristiwa penting di mana kehancuran dunia terjadi karena pertempuran besar antara dewa-dewa - dan mengakibatkan beberapa dewa yang mati. Setelah Ragnarok, dunia pun akan berubah dengan beberapa dewa bergabung menjadi satu dan kelahiran baru pun terjadi. Definisi ini sangat tepat untuk menggambarkan Thor: Ragnarok, yang banyak mendefinisikan ulang kisah Thor. Mulai dari potongan rambut barunya, kehilangan palu Mjolnir, hingga selera humornya yang mengalami peningkatan drastis sejak dua film sebelumnya. Berbagai manuver baru ini sangat efektif meningkatkan kualitas Ragnarok dalam triloginya, dan bisa menjadi standar baru dalam film-film MCU ke depannya.


Dari semua film MCU, memang Ragnarok adalah yang paling kocak dan mampu membuat gue tertawa terbahak-bahak sampai akhir film. Semua ini berkat penampilan cemerlang Chris Hemsworth yang tampil sangat luwes dan jauh dari kesan serius seperti yang terlihat di film-film MCU sebelumnya. Konon menurut sutradara Taika Waititi, 80% dialog dalam film ini adalah hasil improvisasi demi keluwesan penampilan para aktor dan aktrisnya. Hasilnya adalah film aksi pahlawan super tidak pernah semenyenangkan ini dengan banyolan-banyolan kocak dan receh.

Yang perlu digarisbawahi adalah, setiap lelucon tidak akan terkesan lucu jika keluar dari karakter yang tidak meyakinkan. Hal ini yang membuat Thor: Ragnarok menjadi spesial dalam standar MCU karena menampilkan deretan karakter yang kuat dan meyakinkan. Mungkin saja ini terlihat karena penonton sudah terbiasa melihat aksi Thor, Loki, dan Hulk di film-film MCU sebelumnya. Tetapi bisa jadi karena jalan cerita yang ada mengharuskan Thor - bahkan juga Loki - untuk meninggalkan cara lama mereka dan harus mencari cara baru demi menghadapi tantangan yang lebih besar. Bisa jadi juga karena Hulk yang akhirnya bisa berbicara banyak sejak Age of Ultron (2015) dan membuat film ini jauh lebih berkesan.


Biasanya film-film fantasi yang sangat jauh dari dunia nyata tidak begitu meninggalkan kesan bagi gue. Tetapi Thor: Ragnarok bisa masuk dalam daftar pengecualian ini. Berkat karakter-karakternya yang sangat berkesan sehingga mampu memancing tawa, jalan cerita yang terlalu "Hollywood" pun bisa dengan mudah dimaklumi. Apalagi kali ini tema visual penuh warna ala tahun 80-an turut dibawa dan tampak konsisten mulai dari desain judul hingga beberapa adegan. Thor: Ragnarok jelas menjadi pencapaian penting dalam fase ketiga MCU, dan konon memiliki peran signifikan dalam persiapan menuju Avengers: Infinity War tahun 2018 nanti.







Rating?

USA | 2017 | Action / Superheroes | 130 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 Oktober 2017 -
----------------------------------------------------------
  • review film thor ragnarok
  • review thor ragnarok
  • thor ragnarok movie review
  • thor ragnarok film review
  • resensi film thor ragnarok
  • resensi thor ragnarok
  • ulasan thor ragnarok
  • ulasan film thor ragnarok
  • sinopsis film thor ragnarok
  • sinopsis thor ragnarok
  • cerita thor ragnarok
  • jalan cerita thor ragnarok

Comments

Post a Comment