26 August 2015
0 kritik

Paper Towns

"Kisah romansa yang jujur, dengan ending yang berbeda dari film kebanyakan"

Diadaptasi dari novel karya John Green (The Fault in Our Stars), Paper Town adalah sebuah kisah coming-of-age yang berpusat pada Quentin dan tetangganya, Margo yang misterius. Setelah mengajak Quentin untuk melakukan serangkaian pembalasan dendam pada teman-temannya, Margo menghilang - dan meninggalkan berbagai petunjuk bagi Quentin untuk memecahkannya. Perasaan yang telah ditimbun sejak kecil oleh Quentin, membawa ia dan para sahabatnya untuk melakukan road trip demi menemukan Margo.

Personally, jika harus dibandingkan dengan The Fault in Our Stars, maka gue lebih suka dengan Paper Towns. Karena selain film ini jauh dari nuansa menye-menye dan jauh lebih "ceria", Paper Towns juga memiliki ending yang jelas jauh berbeda dari film drama romantis kebanyakan. Yes, thanks to its characters yang penuh dengan celetukan kocak dan tingkah laku yang sengklek, membuat film ini menjadi jauh lebih ringan dan cenderung seru untuk dinikmati hingga akhir film. Belum lagi kisah cinta yang dialami oleh Quentin yang mungkin akan cenderung mudah untuk relate dengan para penonton laki-laki.


Seperti layaknya The Perks of Being a Wallflower (2012), penonton mengikuti para karakter yang termasuk dalam klasifikasi nerds, atau at least yang sering menjadi korban bully dari kelompok tenar. Tapi yang menariknya, Quentin berteman dengan Margo, yang masuk dalam kategori kelompok tenar. Hal ini membuat Quentin secara tidak langsung juga menjadi "terlihat" di depan teman-temannya Margo. 


Nah yang menarik adalah karakter Margo, yang membuat film ini menjadi lebih berisi - bahkan ketika Margo tidak muncul di layar. Margo Roth Spiegelman digambarkan sebagai seorang perempuan yang senang dengan hal-hal berbau misteri dan menjalani hidup penuh dengan hal-hal impulsif. Beruntungnya ia cantik, jadi itu jelas menambah beberapa poin. Beruntungnya karakter ini diperankan dengan cukup baik oleh Cara Delevingne, sekaligus menjadi film pertamanya sebagai pemeran utama - yang kabarnya ia seperti memerankan dirinya sendiri.

Namun Margo cenderung anti-komitmen, dan jelas hal yang membuat ia bahagia bukanlah hidup menikah dan berkeluarga - namun bertualang dan selalu keluar dari zona nyaman. Ketika disandingkan dengan karakter Quentin yang fokus belajar untuk mendapatkan nilai tinggi demi masuk sekolah kedokteran, tentunya mereka menjadi pasangan yang menarik. Tapi apakah mereka berdua akan cocok satu sama lain?


Margo memang karakter yang sangat menarik, and again, cantik. Misterius dan tidak dapat diprediksi. Ketidakpastian dari perilakunya ini yang kemudian menarik hati para jomblo ngenes seperti Quentin, atau gue. Tetapi menonton Paper Towns tanpa Margo, jelas akan berkurang tingkat kenikmatannya - seperti 70% dari film ini di bagian tengah ketika Margo menghilang. But that's the thing about Margo; ketika ia hilang maka dunia akan hambar. Meski rasa penasaran masih saja bergolak walaupun hanya dimotori oleh nama dan peninggalan jejaknya. 

Well I don't want to spoil anything, tapi menurut gue hal ini yang membuat Paper Towns begitu menarik dan jelas akan memancing pembahasan lebih lanjut ketika lampu bioskop telah menyala. Sebuah kisah romansa yang sangat dekat dengan dunia nyata, termasuk ke akhir kisah mereka yang cenderung logis secara psikologis.



USA | 2015 | Drama / Romance | 109 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 26 Agustus 2015 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top