19 August 2015
0 kritik

Inside Out

"Animasi yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik tentang sulitnya seorang remaja untuk bertumbuh dewasa"

Film ini berkisah tentang apa yang ada dalam kepala seorang gadis berusia 11 tahun, Riley. Dikisahkan bahwa kita semua memiliki 5 emosi dasar yang mengendalikan setiap perilaku kita; Joy, Sadness, Fear, Disgust, dan Anger. Berfokus pada Riley, hidupnya tampak sempurna dengan kebahagiaan yang dialami oleh Riley. Namun semua itu berubah seketika pada saat dia dan keluarganya pindah rumah, dari daerah pinggiran ke daerah perkotaan. Rumah yang sempit, sekolah dan teman-teman baru, dan segala hal baru yang jauh dari sempurna yang membuat Riley jauh dari kebahagiaan. Kelima emosi ini pun harus bekerja sama dalam mencapai keseimbangan demi Riley mendapatkan hidup yang lebih bermakna.

Jarak rilis di US yang dua bulan lebih dulu ketimbang Indonesia jelas membuat gue memiliki banyak waktu untuk menabung ekspektasi setinggi mungkin. Tapi bahkan dengan ekspektasi gue yang sangat tinggi tersebut, masih sanggup membuat gue terpukau, kagum, tertawa, bahkan meneteskan air mata. Inside Out tidak hanya menghibur lewat animasinya yang mengagumkan dan mampu membuat diferensiasi warna dan rasa antara "dunia luar" dengan "dunia pikiran". Tetapi film terbaru dari Pixar ini juga sangat edukatif dengan memberikan banyak label dan visualisasi terhadap apa yang terjadi dalam pikiran kita, dan bagaimana pikiran kita bekerja sepanjang hari.



Dalam seminar Behind the Scene di Binus University tempo hari, Pete Docter mengakui bahwa dirinya dan Pixar tidak pernah mengikuti sebuah formula yang pakem dalam membuat film - khususnya film yang sukses dan mendatangkan banyak uang. Dia bilang bahwa setiap film adalah mainan baru bagi mereka, dan mereka lebih dari siap untuk mulai lagi dan lagi dari nol. Inside Out adalah salah satunya. Sebagai salah satu religious fans dari Pixar, gue sama sekali tidak menemukan pakem tertentu yang mirip dengan film-film mereka lainnya. Apalagi kali ini, peran utama protagonis jatuh lagi pada gender wanita - sesuatu yang jarang dilakukan sejak Brave (2012). Khususnya dalam hal cerita, dimana menonton Inside Out adalah seperti pengalaman menonton yang sangat berkesan. Karena tidak hanya menghibur dengan setiap leluconnya yang efektif, tetapi juga seakan melihat gambaran diri sendiri pada layar lebar.

Jika ada satu pakem yang sama dalam film-film Pixar, maka hal tersebut adalah relasi antara film dengan penontonnya. Pixar selalu memberikan hati dalam setiap filmnya, sehingga setiap penontonnya dapat merelasikan dirinya sendiri terhadap salah satu atau dua karakternya. Luar biasanya, dalam Inside Out relasi ini dimaksimalkan untuk ke penonton secara umum. Tua atau muda, lelaki atau perempuan, rasanya semua akan dengan mudah untuk menemukan sekeping dari dirinya pada apa yang terjadi di layar.


Untuk mencapai tujuan itu dengan efektif, dengan jenius Pete Docter dan rekan-rekannya memulai dengan hal-hal yang sederhana dan sangat umum. Siapa sih yang tidak pernah tiba-tiba teringat pada satu potongan lagu yang random? Sebuah jingle iklan atau lagu tema dari serial TV favorit anda? Atau random flashback yang dipicu oleh suatu kejadian? Misalnya kenangan lama tentang guyonan anda bersama teman-teman? Ketika penonton merasa wah-gue-banget-nih, maka mereka akan masuk lebih dalam lagi.

Bagi lulusan psikologi seperti gue, menonton Inside Out akan menjadi sangat menyenangkan karena rasanya seperti mengalami 101 menit kuliah psikologi tentang bagaimana pikiran bekerja. Dibungkus dengan kemasan petualangan komedi, Inside Out menjadi visualisasi yang jenius bagaimana cara memori dan emosi bekerja. Mulai dari identifikasi emosi, kumpulan memori yang membentuk kepribadian, hingga mekanisme short-term memory yang masuk ke dalam long-term memory ketika kita tidur. Nah yang menarik adalah bagaimana film ini menawarkan sudut pandang baru, dimana kumpulan memori ini dapat dilihat dari perspektif yang berbeda lewat kacamata emosi. Selain itu, hal yang dapat lebih jelas ditangkap adalah bagaimana setiap emosi - senegatif apapun - ternyata berguna bagi perkembangan psikologis seseorang.


Bagi gue, sebuah film yang baik adalah film yang memiliki ide yang unik, dan dapat menyampaikan ide tersebut ke penontonnya dengan baik. Lima tahun lalu, Pete Docter mendapatkan ide untuk film ini dari pengalaman pribadinya menghadapi putrinya yang berumur 11 tahun, yang mengalami turbulensi dalam beranjak dewasa. Yes, Inside Out memiliki ide dasar yang sangat brilian. Lewat riset selama 5 tahun agar setiap sisi psikologisnya dapat di eksplorasi seakurat mungkin, ide tersebut dieksekusi dengan cara yang sangat jenius. Maka dari itu, pesan dalam film ini tersampaikan dengan sangat baik pada setiap penontonnya, lewat setiap representasi yang diberikan. Sebuah pembelajaran yang berharga tentang sulitnya para remaja untuk tumbuh dan berkembang, sekaligus memahami bahwa mengalami kesedihan bukan berarti akhir dari dunia.


USA | 2015 | Animation | 101 mins | Scope Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
10 dari 10

Scenes During Credits? Yes!

Scenes After Credits? No

Wajib 3D? No

Wajib IMAX/SphereX? Yes

Won for Best Animated Feature, Nominated for Best Original Screenplay, Academy Awards, 2016.

Won for Best Animated Feature, Golden Globes, 2016.

Won for Best Animated Feature, Nominated for Best Original Screenplay, BAFTA Awards, 2016.

- sobekan tiket bioskop tanggal 19 Agustus 2015 -


NB: gue sedang dalam proses menulis essay tentang interpretasi dan melihat Inside Out dalam kacamata psikologi. Will update it here soon!

*UPDATE 24/08/15
my over-analysis in the perspective of psychology:
Our Identity Through Emotions, An Interpretation of Inside Out (2015)

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top