08 July 2014
0 kritik

Toilet Blues

"Meski padat dengan metafora, film ini tetap menarik untuk dinikmati dengan gaya bercerita yang segar dan unik"

Anjani kabur dari rumah setelah ia ketahuan oleh ayahnya ketika ia tidur bersama tiga orang laki-laki dalam satu kamar. Ia mengikuti Anggalih, yang juga kabur dari Seminari Tinggi karena dilema antara keraguan dan ingin membuat bangga ayahnya. Terus berjalan tanpa arah dan tujuan, ayah Anjani mengirim Ruben, tangan kanannya yang handal untuk membawa pulang Anjani. Perpisahan Anjani dan Anggalih menjadi refleksi hidup bagi mereka berdua.

Ini adalah salah satu film yang cukup sulit bagi gue untuk mengerti apa yang ingin dibawakan dalam kisahnya. Banyak metafora dan bahasa gambar yang dipakai oleh sutradara dan penulis naskah Dirmawan Hatta. Awalnya cukup penasaran untuk menebak-nebak apa makna dari metafora ini, hingga pada akhirnya gue menyerah dan cenderung tak peduli. Namun film ini indah pada gaya bercerita dan bahasa gambarnya. Cenderung tenang, hening, dan berjalan lambat. Seakan menggambarkan bagaimana Anjani dan Anggalih menikmati setiap detik kaburnya mereka dari zona nyaman masing-masing.



Seperti yang bisa kita lihat pada poster film ini yang menampilkan cuplikan adegan, akan ada sederet adegan-adegan dengan panorama yang indah. Ini bukan merupakan pameran-pameran pemandangan yang menjual daerah tertentu, malah ini terbilang bukan daerah-daerah pariwisata. Namun dengan teknik sinematografi yang sederhana namun artistik, membuat lokasi syuting film ini menjadi jauh lebih menarik dan menawan.

Jika menyelami lebih jauh mengenai apa yang hendak disampaikan oleh Toilet Blues, nampaknya memang sesederhana dilema remaja dan problematika coming of age. Problem-problem dilematis mengenai mana benar mana salah, dimana tidak ada batasan yang jelas diantara hal paradoksal tersebut. Yang kemudian ditranslasikan oleh Dirmawan dengan bahasa-bahasa visual yang metaforik, tanpa semudah itu memberikan kejelasan yang berarti. Mungkin seabsurd pemikiran remaja yang cenderung impulsif dan tak ingin ambil pusing pada setiap persoalan.


Pada akhirnya, rasanya film ini memang tidak meminta untuk dimengerti lebih jauh. Rasanya menikmati film yang telah mendapatkan berbagai penghargaan di berbagai festival film di luar negeri ini cukup pada lapisan pertamanya. Beberapa adegan metaforiknya - yang cenderung absurd - rasanya akan cukup lama menempel di ingatan, sembari menunggu makna yang terungkap oleh waktu



Indonesia | 2013 | Drama / Art-House | 89 min | Aspect Ratio 1.85 : 1


Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 8 Juli 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top