11 July 2014
0 kritik

Dawn of the Planet of the Apes

"Sekuel dengan ekspansi cerita lebih luas dari Rise, tidak saja menghibur lewat adegan aksi, tetapi juga kedalaman cerita yang signifikan"

Koloni kera cerdas dengan genetik yang telah berevolusi terancam keberadaannya ketika ditemukan oleh sekelompok manusia yang selamat dari pandemi Flu Simian. Dipimpin oleh Caesar, koloni kera menegaskan kepada kelompok manusia mengenai batas-batas wilayah diantara dua spesies ini. Diprakarsai oleh Malcolm, perdamaian sempat berjalan antara kera dan manusia. Tetapi perdamaian tersebut tidak berjalan lama ketika ada pihak yang menginginkan peperangan diantara dua spesies untuk menjadi yang paling berkuasa.

Dawn of the Planet of the Apes tidak hanya unggul di efek visual yang luar biasa, tetapi juga dilengkapi dengan kekuatan cerita yang intelek dan penuh dengan kedalaman emosional. Efek motion-capture-nya patut diacungi dua jempol, yang sampai membuat gue terkagum-kagum betapa realistisnya kera-kera cerdas ini sampai pada detil ekspresi wajah. Selain itu film ini tidak hanya menghibur lewat adegan-adegan aksi yang sangat menghibur mata dan telinga, tetapi juga memberikan kedalaman cerita tersendiri. Tipikal jalan cerita yang akan membuat penonton banyak berefleksi mengenai insting manusia dan kera yang ternyata tidak jauh berbeda.



Deretan adegan aksi dalam film ini secara mengejutkan mendapat porsi yang berimbang dengan drama yang disajikan. Melihat para kera, gorila, dan orangutan berkelahi dengan tangan kosong yang memiliki kekuatan dua kali lipat dari manusia saja sudah menakutkan, apalagi melihat mereka membawa tombak. Tidak sampai disitu, lebih mengerikan lagi ketika mereka telah memegang senjata. Terkadang gue merasa beruntung, walaupun manusia jauh lebih lemah secara fisik dibandingkan beberapa spesies hewan, namun manusia diberikan berkah akal budi untuk mengatasi kelemahannya tersebut. Tetapi ketika akal budi itu ada pula pada spesies yang secara fisik lebih superior daripada manusia? Mengerikan!

Jelas premis tersebut sebagai salah satu yang diangkat secara konsisten dalam franchise Planet of the Apes. Meski dalam versi orisinilnya yang dirilis tahun 1968, Planet of the Apes fokus pada isu teologis dan metafora antara kecerdasan kera dan manusia, serta insting untuk berkuasa atas dunia. Dalam prekuelnya, Rise mengangkat tema yang lebih spesifik; insting makhluk yang memiliki tingkat kecerdasan yang signifikan untuk bebas dari segala belenggu, mulai dari belenggu kerangkeng hingga belenggu penyakit.


Namun pada Dawn, kisah yang ada semacam ekspansi yang signifikan dari Rise. Konflik pada Dawn jelas lebih nyata ketika dua spesies yang berbeda ini saling bertemu dan berinteraksi. Ketika ada pihak-pihak yang menginginkan perdamaian, tetapi tetap saja ada pihak - dari kedua belah pihak - yang merasa takut akan intimidasi dan kekuatan berlebih dari pihak lawan. Benar kata Master Yoda, "Fear leads to anger, anger leads to hate". Pada akhirnya, Dawn memberikan gambaran metafora bahwa dalam tataran ingin menjadi yang paling berkuasa, manusia tidak jauh berbeda dengan kera. Apapun dapat dilakukan untuk merebut kekuasan, mulai dari sabotase hingga duel sampai mati untuk menjadi yang terkuat dan berkuasa.

Yang menarik adalah, sejauh apapun berbedaan itu, knowledge diminished fear. Dari segala rupa peperangan dan kebencian yang ditebar kedua belah pihak, ada secuil harapan yang membuktikan bahwa selalu ada kebaikan di dunia ini. Saling berinteraksi, berbagi, dan mengenal lebih dekat jelas menghilangkan sekat gelap terhadap yang tidak diketahui. Pengetahuan lebih akan pihak lain jelas akan melunturkan segala prasangka, dan kemudian menghilangkan ketakutan tersebut.


Pada tahun ini, Dawn jelas menjadi salah satu film brilian dalam tema pre-apocalypse. Tidak hanya kuat pada segi science-fiction yang dibungkus dengan action, tetapi juga brilian dalam segi cerita yang cukup dalam dengan berbagai metafora yang diberikan. Walaupun fokus film ini terbagi pada spesies kera dan manusia, tetapi dua fokus ini terbagi rata dan tidak saling menonjol satu dengan yang lain. Sebuah film yang nyaris sempurna, mulai dari hal teknis hingga hal konten terkait cerita.



USA | 2014 | Action / Sci-Fi | 130 min | Aspect Ratio 1.85 : 1
Rating?
9 dari 10

Wajib 3D? RELATIF
(Walaupun konon memiliki konsep 3D sebelum proses syuting, tapi tidak banyak efek pop-out yang ada. Yang cukup signifikan adalah efek depth yang memberikan kedalaman pada latar belakang yang ada)


Wajib 4DX? TIDAK

(Tidak banyak potensi untuk memberikan efek 4 dimensi seperti goyangan atau air)

- sobekan tiket bioskop tanggal 11 Juli 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top