08 February 2014
0 kritik

RoboCop

"Meski mendapat jubah dan helm baru, RoboCop menyia-nyiakan potensi besar yang ada dalam naskah, serta narasi yang lemah"

Kota Detroit, tahun 2028, perusahaan multinasional OmniCorp sedang naik daun di bidang teknologi perang. Selama bertahun-tahun, OmniCorp dengan robot-robot tempurnya sukses menurunkan angka kematian serdadu AS di garis depan medan perang di negara-negara konflik. Bermaksud menambah keuntungan, OmniCorp hendak menjual robot-robot tempurnya di tanah sendiri, untuk membantu polisi memerangi kejahatan di dalam negeri. Adanya UU yang menentang penggunaan robot, membuat OmniCorp memanfaatkan detektif Alex Murphy yang cedera serius dan kehilangan berbagai anggota tubuhnya. Alex Murphy pun menjadi RoboCop, setengah manusia dan setengah robot, sebagai pilot project dari robot yang masih dapat dikendalikan manusia untuk memerangi kejahatan. Dibalik rencana bisnisnya, OmniCorp harus ingat bahwa dibalik RoboCop, ada hati nurani manusia yang mencari keadilan sejati.

Berhubung gue memang penggemar film-film tahun 80-an dan 90-an yang sukses, gue termasuk salah satu penonton yang berharap-harap cemas dengan remake dari film yang pertama kali dirilis di layar lebar tahun 1987 ini. Setelah sukses dengan trilogi RoboCop yang dirilis berturut-turut tahun 1990 dan 1993, RoboCop sampai dibuat versi serial televisi di tahun 2000-an. Gue masih ingat gue punya action figure RoboCop yang keren. Ekspektasi menunggu film RoboCop versi modern ini pun meningkat. Apalagi kali ini disutradarai oleh Jose Padilha yang mengguncang dunia perfilman dengan film tentang polisi korup lewat Tropa de Elite (2007) dan sekuelnya. Slurps!



Namun sayang, ekspektasi tinggal ekspektasi. RoboCop versi 2014 ini memang diberkahi dengan rangkaian adegan aksi yang asyik. Oh well, yang pasti penonton juga udah pada bisa tahu siapa yang akan menang; RoboCop vs puluhan mafia kelas kakap. Atau jika RoboCop diadu dengan lusinan droid perang buatan OmniCorp. Yeah, we know. Tapi debut penulis naskah Joshua Zetumer menambah unsur bisnis yang cukup kental dalam naskah film ini, yang jelas menambah bobot yang signifikan daripada sekedar film dar-der-dor biasa. Belum lagi nostalgia sesaat ketika mendengar diputarnya daur ulang lagu tema RoboCop yang tentunya masih menempel pada setiap kepala fans dari film orisinil dan serial televisinya. 

Joshua Zetumer seakan tahu dan sadar, bahwa ia harus menambahkan unsur baru dan berbeda untuk membuat film remake yang sangat terkenal di eranya. Unsur bisnis yang dibawanya jelas membawa nuansa baru dan berbeda, serta mampu mengalihkan memori penonton dari trilogi RoboCop era 80-90an. Subplot OmniCorp dan petinggi-petinggi yang tidak dapat memikirkan hal lain selain meningkatkan laju profit perusahaan jelas menjadi roda penggerak utama dalam film ini. Bahkan seolah-olah, Alex Murphy dan RoboCop yang menjadi objek penderita, sebuah karakter korban yang menjadi pahlawan. Sementara OmniCorp yang menjadi pemeran dan dalang utama dibalik seluruh kisah ini.


Ditangani oleh sutradara Jose Padilha yang berpengalaman mengolah film aksi dengan subplot politik dan kriminal jelas menjadi kombinasi yang potensial. Jose Padilha jelas dapat mengkombinasikan subplot OmniCorp dan otak bisnisnya sejajar dengan unsur aksi tembak-tembakkan. Praktis tidak ada yang menonjol antara satu dengan yang lain. Namun mungkin masalah terbesarnya ada pada naskah dan alur plot yang kurang ada batasan yang jelas dari awal hingga akhir.

Dimulai dari introduksi karakter Alex Murphy dan OmniCorp yang terlalu berat di awal, namun tidak konsisten dengan beberapa alur yang dipercepat, hingga alur emosi dari identifikasi masalah, klimaks, dan anti-klimaks yang kurang cocok dengan konten. RoboCop memang kuat pada identifikasi hingga peningkatan masalah, namun jelas lemah pada klimaks dan anti-klimaks yang seolah-olah hanya lewat saja tanpa penekanan yang berarti. Rasanya ini yang membuat RoboCop terkesan film aksi yang datar-datar saja.


Selain itu, tampak bahwa Joshua Zetumer hendak memberikan lapisan lain pada film ini, yaitu dengan memasukkan elemen yang though-provoking; kehadiran robot dalam keseharian manusia. Apalagi ketika manusia dan robot dijadikan menjadi satu tubuh. Namun sayang, lapisan yang sangat potensial ini ditinggalkan begitu saja di tengah film sementara fokus film tetap pada tipikal film-film aksi kebanyakan; uang dan bisnis.

Jelas memang, ekspektasi yang berlebihan tidak membantu untuk mengangkat mood dan perasaan gue ketika menonton film ini. Jubah RoboCop yang baru memang keren dengan sentuhan warna hitam, apalagi dengan helm barunya. Lapisan subplot yang baru pun memang membuat RoboCop versi 2014 berbeda, namun lemah pada eksekusi dan gaya bercerita.



USA | 2014 | Action / Sci-Fi | 118 min | Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 8 Februari 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top