10 February 2014
2 kritik

Killers

"Beda spesies dari Rumah Dara, The Mo Brothers menyajikan film psychological thriller yang sangat kuat dalam mengeksplorasi sisi tergelap dalam manusia, dibungkus dengan cipratan darah dan tengkorak yang pecah"

Sepak terjang Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto di dunia perfilman memang tidak lepas dari genre slasher. Belum lagi bagaimana The Mo Brothers yang meroket namanya sejak dirilisnya debut film panjang mereka, Rumah Dara tahun 2009. Semenjak itu, Timo pun dipercaya untuk menyutradarai satu segmen (L is for Libido) dalam film antologi The ABCs of Death (2012) dan segmen Safe Haven dalam antologi V/H/S/2 (2013). Kini yang ditunggu-tunggu pun tiba. Film kedua mereka sekaligus menandai kerja sama mereka dengan rumah produksi asal Jepang, Nikkatsu, yang akan menjadikan Killers sebagai film yang bersetting di dua kota sekaligus; Jakarta dan Tokyo.

Di Tokyo, seorang eksekutif muda yang psikopat memiliki kebiasaan untuk mengundang seorang wanita ke rumahnya, bercinta, kemudian membunuhnya dengan cara-cara baru. Detik-detik pembunuhan hingga nafas terakhir si korban ini yang selalu direkam oleh Nomura, untuk kemudian diunggah di sebuah situs video. Sementara di Jakarta, Bayu yang kesehariannya adalah seorang jurnalis tergugah oleh video pembunuhan yang diunggah oleh Nomura. Video tersebut, dan perbincangan jarak jauh dengan Nomura, seakan membangkitkan nafsu membunuh yang jauh terpendam. Interaksi diantara dua karakter yang berhubungan jarak jauh ini pun menjadi semakin menarik ketika masing-masing seakan "berlomba" untuk membunuh korbannya dengan cara yang paling ekstrim.


Killers jelas tidak bermaksud ingin menandingi Rumah Dara. The Mo Brothers sadar betul bahwa mereka harus melepaskan stigma yang terlanjur melekat pada mereka, dan membuktikan diri bahwa mereka sanggup keluar dari zona nyaman mereka. Dari kisah yang diajukan oleh produses dan penulis naskah Takuji Ushiyama, Timo mengembangkan kisah tersebut menjadi sebuah cerita psychological thriller yang kompleks dan mendalam. Meski masih mengusung deretan adegan gory dan slasher yang membuat perut mual, The Mo Brothers berhasil membungkus film ini dengan narasi yang tebal dengan jalan cerita yang sangat diarahkan oleh dua karakter utama.

Dengan jalan cerita yang unik dan segar, gue dibuat seperti menonton sebuah film yang benar-benar baru, tanpa mampu membanding-bandingkan atau mengingat film-film tipikal yang sejenis. Jalan ceritanya benar-benar tidak tertebak! Seakan benar bahwa film dengan formula character driven ini seolah dituturkan murni dari otak sakitnya Nomura dan Bayu. Dan penonton pun dipaksa untuk menyelami paket combo kegilaan yang ada di dalam pikiran Nomura, sekaligus Bayu.


Disandingkannya dua karakter ini dalam satu layar, tidak semerta-merta membuat satu karakter lebih menonjol dibandingkan yang lain. Porsi Tokyo dan Jakarta diceritakan dengan proporsi yang pas dan seimbang. Kekuatan karakter Nomura dan Bayu pun dieksplorasi dengan sama dalam dan kuatnya. Apalagi ditunjang dengan penampilan apik dari Rin Takanashi dan Oka Antara yang merata. Rin sangat berhasil membawakan karakter Nomura yang terbilang cukup kompleks; psikopat, dingin, sangat percaya diri, sekaligus menyimpan luka masa lalu yang tampak menjadi titik balik perkembangan karakter dan pemikirannya. Sementara Oka sukses menampilkan karakter Bayu yang bisa dibilang berbanding terbalik; insecure, ambisius, dan cenderung impulsif.

Namun perbedaan sifat dan karakteristik dua karakter utama kita ini memiliki benang merah yang sangat jelas; nafsu membunuh yang terpendam dalam di setiap diri manusia. Hanya saja yang satu telah berhasil mengeluarkannya dan bermain-main dengannya, sementara yang satu masih ragu meski sangat ingin menginginkannya. Ini yang sangat sinkron dengan tagline Killers; inside us lives a killer. The Mo Brothers dengan jelas ingin mengeksplorasi premis sederhana ini ke dalam sebuah film drama thriller dengan nyaris sempurna dan tanpa cacat dalam menyampaikan pesannya.


Bagaimana setiap dalam diri manusia, pastinya memiliki sisi tergelap. Bisa dibilang ada spektrum dimana ada orang yang berhasil mengubur sisi itu dalam-dalam, sementara di sisi spektrum lainnya ada orang yang bisa bermain-main dengannya, sementara ada juga yang berada di spektrum tengah. Dalam 137 menit dengan sampel kota Tokyo dan Jakarta, The Mo Brothers berhasil menggambarkan berbagai dimensi dari garis spektrum tersebut lewat setiap karakter yang ada dalam Killers. Dipimpin oleh Nomura dan Bayu, dengan karakter-karakter di sekitarnya yang juga menyimpan sisi tergelap manusia tersebut.

Eksplorasi ini yang menjadi tema utama dalam Killers, sementara adegan-adegan pembunuhan "karya" Nomura dan Bayu seolah-olah menjadi hiasan untuk mempercantikan keseluruhan film. Jika Rumah Dara seakan sebagai parade pembantaian manusia, maka jelas mudah untuk memilih cara membunuh seperti apa yang pas dimasukkan dalam Killers. Namun bangsatnya, berkat kekuatan narasinya, The Mo Brothers berhasil seolah-olah menempatkan penonton di kursi korban. Jelas ini adalah sebuah pembantaian manusia yang stylish dan elegan. Ditambah iringan scoring menyayat arahan Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal, membuat gue harus menggeliat ngeri di kursi bioskop. NJRIT!


Indonesia / Japan | 2014 | Drama / Thriller / Slasher | 137 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 10 Februari 2014 -

2 kritik:

  1. Bgusan mana ama film Hongkong ygg jdulnya dreamhome?

    ReplyDelete
  2. dibandingkan dengan = I Saw The Devil = ???

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top