03 February 2014
0 kritik

Lone Survivor

"Penuh dengan adegan aksi dan peperangan yang menegangkan, serta kuat dalam menceritakan keberanian dan persaudaraan di antara para tentara"

Berdasarkan kisah nyata, Marcus Luttrell dan tiga rekannya yang tergabung dalam tim elit SEAL menjalani sebuah misi untuk mengintai dan membunuh salah seorang pimpinan tinggi Al Qaeda di Aghanistan pada Juli 2005. Di medan pegunungan yang menyulitkan komunikasi dengan markas, secara tidak sengaja mereka bertemu dengan tiga gembala lokal dan menangkap mereka. Dilema dengan peraturan kontak senjata - terutama dengan warga tak bersenjata - mereka harus mengambil pilihan sulit. Ditambah lagi dengan diburunya mereka oleh sepasukan Al Qaeda yang mengepung, mereka harus bertahan hidup.

Diantara film-film perang modern lain yang memiliki pesan politik atau pesan kemanusiaan tentang perang, Lone Survivor hadir hanya untuk menceritakan satu premis; persaudaraan antar tentara yang begitu signifikan. Memang judulnya bisa dibilang sebuah spoiler besar mengenai akhir dari kisah Marcus Lutrell ini, tapi memang film ini hendak menceritakan bagaimana ikatan persaudaran para marinis ini dikala keadaan terdesak antara hidup dan mati. Di medan yang sangat sulit dan tidak mereka kuasai, digempur oleh musuh yang bertubi-tubi, satu-satunya harapan mereka adalah rekan seperjuangan yang begitu setia berada di sisi masing-masing.



Jelas Lone Survivor membawa pesan patriotisme dan keberanian, bagaimana para marinis ini siap mati demi membela negara. Bahkan mereka merasa lebih terhormat jika mati di medan perang, di sisi rekan-rekan perjuangannya. Kekuatan ini yang dimanfaatkan dengan baik oleh penulis naskah dan sutradara Peter Berg (Battleship, Hancock, The Kingdom) dalam menggambarkan peperangan dengan senjata modern dalam film ini. Dengan arahan kamera yang apik, serta tata suara yang masuk dalam nominasi Oscar, penonton berasa di tengah medan perang dengan desingan peluru yang bertubi-tubi seakan lewat di telinga. Belum lagi dengan luka-luka tembak yang diperlihatkan secara grafis. Belum cukup luka tembak, tapi juga luka trauma akibat jatuh dari ketinggian tinggi, yang membuat penonton yang tidak tahan melihat darah dan tulang akan mual.

Keempat karakter yang ada dalam film ini pun dapat dibilang tampil merata, tanpa ada satu pun yang menonjol. Meski Mark Wahlberg yang didapuk sebagai bintang utama, namun penampilan Taylor Kitsch, Emile Hirsch, dan Ben Foster serta-merta tidak tenggelam. Mungkin secara khusus, malah Ben Foster sebagai Matt Axelson yang mungkin akan menjadi idola tersendiri dalam film ini. Dengan keberanian dan kekuatannya yang seakan manusia super, Axel benar-benar melindungi rekannya sampai titik darah penghabisan. Dibawakan dengan sempurna oleh Ben Foster yang mampu menarik simpati yang cukup dalam terhadap karakter ini. Jelas kabar gembira bagi para fans berat Ben Foster :D


Di tengah deretan adegan aksi yang sanggup membuat gue sedikit menahan nafas atau meringis ngeri, film ini tidak membawa sesuatu yang baru. Atau setidaknya suatu pesan kemanusiaan yang thoughtful ala Black Hawk Down (2001). Tidak tidak. Film ini adalah sebuah film yang tepat bagi para adrenalin junkie, atau para penikmat action kelas berat. Jelas film ini akan menghibur dengan pameran senjata modern yang digunakan, termasuk dengan sederet adegan pertempuran yang menegangkan.



USA | 2013 | Action / Biography / War | 121 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 3 Februari 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top