19 December 2013
0 kritik

Soekarno

"Meski terlalu didramatisir, film biografi tentang Presiden RI pertama ini cukup deskriptif dalam menggambarkan momen-momen menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia"

Semasa kecilnya, ia bernama Kusno. Namun karena sakit-sakitan, oleh bapaknya namanya diganti menjadi Soekarno sebagai refleksi dari tokoh besar Adipati Karno. Idealismenya terinspirasi oleh Tjokroaminoto yang mendirikan Sjariat Islam. Namun pidatonya yang berapi-api membuat dirinya diincar oleh Belanda, sehingga akhirnya Soekarno beserta keluarganya diasingkan ke Ende. Mengisi waktu dengan mengajar, Soekarno jatuh cinta pada muridnya Fatmawati, yang berujung pada perceraiannya dengan istri keduanya Inggit.

Ketika Jepang memasuki Indonesia dan menyingkirkan Belanda, Soekarno dibawa ke Jakarta dan kembali ke dunia politik. Kerjasamanya dengan pihak Jepang disikapi dengan sinis oleh berbagai pihak dan golongan pemuda. Sutan Sjahrir tidak sependapat dengannya, sedangkan Hatta melihat ini sebagai kesempatan untuk menggalang kekuatan dan mempersiapkan Indonesia Merdeka.

Menonton film ini bagaikan melihat visualisasi dari kisah-kisah sejarah tentang Bung Karno yang gue baca di buku-buku, itupun yang telah disunat habis di era Orde Baru. Sebagai film bioskop Indonesia pertama yang mengisahkan kisah hidup Soekarno sejak kecil hingga masa Proklamasi, film ini jelas cukup deskriptif dalam menceritakan momen sejarah mahapenting bagi Indonesia. Dengan segala kompleksitas karakter yang dimiliki oleh Bung Karno, sutradara Hanung Bramantyo jelas berhasil untuk menggambarkan karakter Presiden RI pertama ini dengan sangat jujur dan apa adanya. Diluar pidatonya yang berapi-api dan kharismanya yang mudah mengambil hati rakyat, beliau adalah manusia biasa yang tak lepas dari cela.



Sebagai pecinta sejarah, gue pribadi sangat senang dengan penggambaran beberapa momen menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia dalam film ini. Gue selalu menikmati setiap perdebatan antara Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir mulai dari perkara kerjasama dengan Jepang hingga menentukan momen proklamasi. Perdebatan ini jelas menggambarkan bahwa walaupun mereka bertiga memiliki visi yang sama, namun memiliki cara yang berbeda untuk mencapainya. Tidak ada hitam dan putih dalam setiap perdebatan mereka, walaupun masing-masing pendapat mereka pada akhirnya benar. 

Selain itu, ada satu adegan yang jadi favorit gue, yaitu ketika Bung Karno dan Bung Hatta ngobrol berdua di dalam mobil pada tanggal 16 Agustus 1945. Pada saat itu, Bung Hatta menghujani Bung Karno dengan pertanyaan apakah mereka sanggup untuk memimpin bangsa Indonesia yang terdiri dari 70 juta orang dan dari berbagai suku, bahasa, dan agama. Dimana jawaban Bung Karno yang begitu yakin pasti akan menjadi inspirasi banyak orang. Dialog ini sangat emosional mengingat penonton dapat melihat gambaran emosi dan ekspresi yang ditampilkan oleh pemeran Ario Bayu dan Lukman Sardi yang total dan natural. Keraguan Bung Hatta, dijawab dengan tegas dan bijak oleh optimisme Bung Karno, yang semoga akan menjadi landasan para calon pemilih di Pemilu 2014.


Selain itu, film ini juga tampak ingin memberikan sisi lain tentang kehidupan pribadi Bung Karno. Kisah asmaranya dengan Fatma yang berujung pada perceraiannya dengan Inggit dikupas habis dalam film ini. Meski side story ini seakan tidak memiliki signifikansi utama pada alur cerita utama, ada beberapa adegan yang menggambarkan betapa muramnya Bung Karno karena selalu ingin memiliki anak ditambah dengan runyamnya keadaan rumah tangga. Dengan adanya monolog dari Inggit di akhir film, mungkin saja benar bahwa untuk mencapai proklamasi kemerdekaan Indonesia yang berjalan mulus dan tanpa pertumpahan darah, kisah cinta segitiga antara Bung Karno - Inggit - Fatmawati harus terjadi dan harus berakhir dengan seperti itu.

Diluar sisi baiknya, film ini masih terjebak pada dramatisasi yang diselipkan di berbagai adegan. Mulai dari dramatisasi versi slow-motion, dialog, hingga hentakan lagu scoring yang overdramatis. Belum lagi berbagai insert slow-motion yang menggambarkan orang-orang yang sibuk berteriak-teriak dalam ritme teratur dan kaku, atau berbagai cuplikan adegan flashback yang tidak perlu. Adegan klimaks pun jadi turun intensitasnya ketika berbagai insert itu muncul.


Secara keseluruhan, film yang menelan biaya 25 milyar ini sangat baik dan cukup deskriptif dalam menggambarkan sejarah pembentukan negara Indonesia. Meski dituding oleh Rachmawati Soekarnoputri bahwa pihak produser mencoba mendramatisasi dan meregangkan fakta sejarah, rasanya secara garis besar film ini cukup untuk menggambarkan proses lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ya memang Ario Bayu masih jauh dalam membawakan kharisma Bung Karno, bahkan terkesan seakan mereduksi karakter Bung Karno sebagai pecinta wanita. Namun Lukman Sardi dan Tanta Ginting sebagai Sutan Sjahrir yang emosional namun idealis, mampu mengimbangi hal tersebut dan memberikan tontonan yang menarik.



Indonesia | 2013 | Drama / Biography | 137 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top