05 December 2013
0 kritik

Sagarmatha

"Film road trip tentang dua sahabat yang mendaki mimpi menuju Everest ini memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, serta sangat indah secara visual"

Shila dan Kirana yang telah bersahabat sejak kuliah, mulai menghidupkan mimpi mereka kembali sebagai pendaki gunung; mendaki puncak gunung tertinggi di dunia. Di tengah kepenatan hidup di Kolkatta, mereka berdua pun berangkat ke Nepal - meski Shila sempat ragu karena memiliki janji terhadap kekasihnya di Jakarta. Perjalanan Shila dan Kirana menuju Sagarmatha - istilah Nepal yang artinya "head of the sky" - pun lama kelamaan mulai mengungkap rahasia yang ada.

Tentu kita masih ingat dengan film 5 cm (2012) yang mengisahkan lima sahabat yang mendaki puncak tertinggi di pulau Jawa, yang berdampak pada penuhnya gunung Semeru setelah film tersebut dirilis. Kini film produksi lokal yang memiliki ambisi nekat; menaklukkan puncak tertinggi dunia. Yang perlu diapresiasi dari para pembuat film Sagarmatha adalah, film ini dibuat dengan biaya rendah - yang bahkan jauh sekali dibandingkan dengan biaya pembuatan 5 cm.



Dengan klasifikasi film indie, maka jelas pembuat film tak perlu pusing dengan urusan komersial dan bisa fokus pada idealisme semata. Ini yang gue suka dan hasilnya tampak jelas pada film berdurasi 98 menit ini. Banyak insert atau potongan-potongan gambar yang cantik, indah, dan artistik. Apalagi dengan setting Nepal dan pegunungan Himalaya yang eksotis, jelas ini merupakan kemudahan serta tantangan tersendiri bagi sinematografer untuk mampu menangkap sudut-sudut pemandangan tanpa menjadikannya terlalu murah. Menonton film ini pun tampak jadi menonton rekaman perjalanan dua orang backpacker dari kota ke kota, dan bertemu dengan berbagai orang asing di sepanjang jalan. 

Namun sayang, apa yang sejatinya muncul di genre film road trip, kurang terlihat dalam Sagarmatha. Sebagai mantan backpacker, gue sering mengalami masa-masa dimana gue ngobrol dan diskusi tentang banyak hal dengan orang-orang asing yang gue temui di sepanjang jalan. Atau bahkan dengan teman seperjalanan. Tidak seperti Shila dan Kirana yang seakan backpacker melankolis yang memiliki sejumput masalah keluarga dan hubungan mereka, yang malah menggeser atmosfer road trip ke ranah drama sinetron. Usaha untuk berinteraksi dengan orang asing di sepanjang perjalanan tampak pada potongan "wawancara", tapi itu pun dengan ras Kaukasian. Keinginan penonton untuk berkenalan dengan budaya Nepal pun direduksi hanya dengan shot-shot Shila yang bermain dan mengajar alfabet kepada anak-anak kecil.


Secara keseluruhan, walaupun banyak potensi dialog yang dapat dimaksimalkan, film ini tetap sangat indah untuk ditonton. Dengan narasi yang maju-mundur, akan membuat rasa menonton menjadi sangat menarik. Bagi anda yang memiliki mimpi yang sama dengan Shila dan Kirana, menonton film ini menjadi sebuah teaser yang sangat menggoda sebelum benar-benar berangkat ke Nepal - atau bahkan bisa jadi stimulus yang signifikan jika melihat ajaibnya pemandangan alam disana. Dengan ending yang cukup twisted, mungkin dapat membuat sebagian orang ingin menonton filmnya lagi untuk memastikan hal tersebut.


Indonesia | 2013 | Drama / Adventure | 98 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 5 Desember 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top