13 December 2013
0 kritik

Frozen

"Kuatnya kisah relasi antar saudara kandung, serta dibungkus dengan humor yang kocak dan deretan lagu yang indah membuat Frozen menjadi tipikal film klasik dari Disney"

Tuan Putri Elsa, harus meminta bantuan dan bekerja sama dengan Kristoff, lelaki yang biasa melintasi pegunungan, untuk menemukan kakak kandung dari Elsa yang menghilang dari Kerajaan Arendelle; Ratu Anna. Menghilangnya Anna pun bukan tanpa alasan, untuk menyelamatkan kerajaan dan orang-orangnya - termasuk Elsa sendiri - dari kekuatan es ajaibnya yang tidak dapat ia kendalikan. Kekuatan es yang ia sembunyikan sejak kecil, ternyata malah semakin kuat dan tak terkendali, yang membuat Kerajaan Arendelle tertutup oleh musim dingin abadi. Ditemani dengan Sven, rusa piaraan Kristoff yang setia, dan Olaf, manusia salju yang dapat berbicara, Elsa dan Kristoff harus berpacu dengan waktu untuk menemui dan membantu Anna untuk dapat mengendalikan kekuatannya.

Film animasi Disney memang selalu gue tunggu-tunggu. Sejak Tangled (2010) dan Wreck-It Ralph (2012), Walt Disney Animation Studios seperti telah menemukan jalannya untuk kembali membuat film animasi yang klasik dan timeless, serta berbentuk musikal. Terinspirasi dari sebuah kisah klasik karya Hans Christian Andersen, The Snow Queen, film animasi Frozen pun menjadi sebuah kisah tentang sibling relation yang sangat dekat dan siapapun yang memiliki saudara kandung dapat merelasikan dirinya terhadap Anna maupun Elsa. Disisipi dengan berbagai jenis humor - mulai dari slapstik hingga dialog cerdas - membuat film ini menjadi sangat menghibur untuk ditonton.



Yang selalu membuat gue jatuh cinta pada film-film animasi karya Disney adalah lagu-lagu musikal yang mereka sisipkan dalam film. Memang tidak semua film memiliki komposisi lagu yang catchy dan mudah diingat, seperti yang terjadi pada Tangled. Namun bagi gue, Frozen memiliki deretan lagu yang sangat indah dan ear-catchy. Ketika instrumen mulai terdengar sebagai backsound, maka tingkat excitement gue pun meningkat untuk mendengarkan lagu seperti apa lagi yang akan dinyanyikan oleh para karakternya. Lebih jauh lagi, menurut gue setiap lagunya tidak hanya berisi lirik dan not, tetapi memiliki hati. Balutan antara lirik, not, melodi, instrumen, bahkan karakter dan jalan cerita, bagaikan jalinan yang tidak terpisahkan yang menjadikan setiap lagunya menjadi jauh lebih bermakna. Di sisi lain, setiap lagunya pun sangat berpengaruh terhadap emosi dan atmosfer yang ada dalam keseluruhan cerita.

Selain lagu, Frozen kaya dengan berbagai lapisan makna yang dapat ditarik dan direlasikan dengan siapapun yang memiliki saudara kandung. Kudos untuk sutradara debutan Jennifer Lee yang menulis naskah untuk Wreck-It Ralph, karena dialah yang bertanggung jawab terhadap konten cerita dan perkembangan karakter yang ada. Dibantu dengan John Lasseter sebagai eksekutif produser, Jen membuat film Disney terbaru ini terkesan lebih feminim dengan fokus pada relasi sibling yang kompleks antara Elsa dan Anna. Jen juga memperdalam karakter dua karakter ini, namun dapat menyesuaikan satu dengan yang lain agar tidak ada yang tampak mencolok selama 108 menit film ini.


Sebagai pemeran utama, pengisi suara Kristen Bell membuat Anna menjadi seorang tuan putri yang tidak sesempurna Disney Princess lainnya. Canggung, cenderung lugu, namun optimis dan pantang menyerah adalah beberapa kata yang dapat menjelaskan karakter dari Anna. Keluguan dan innocence yang ada pada Anna membuat ia selalu tidak pernah menyerah untuk mencari kebaikan dalam diri orang lain, serta selalu ingin membangun hubungan dengan orang lain. Karakter ini yang rasanya dapat menginspirasi banyak orang. Sementara Elsa mungkin akan dengan mudah disalahartikan sebagai saudara yang dingin, padahal ada maksud yang jauh lebih mulia dibalik tindakannya mengisolasi dirinya dari dunia - dan dari Anna khususnya. Bisa saja Elsa memiliki altruisme yang sangat tinggi, yang membuatnya lebih mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kebahagiaan dirinya. 

Ketika dua karakter ini saling berinteraksi, terjadilah hubungan yang kompleks dan rumit. Yang satu ingin sekali berhubungan baik dengan kakaknya seperti masa kecilnya dahulu, sementara yang satu ingin melindungi adiknya dengan menjauhi dan mengisolasinya. Interaksi yang kompleks inilah yang digambarkan dengan gamblang dan apa adanya dalam Frozen. Special mention untuk karakter Olaf yang membuat film ini menjadi jauh lebih kocak dan menghibur, dengan kuatnya karakter dia yang super-lugu dan kelewat kocak.


Sementara duet sutradara Jennifer Lee dan Chris Buck mempercantik bungkusannya dengan rasa timeless, sehingga film ini dapat ditonton entah di tahun 2013 atau di tahun 2063, sehingga penonton umur berapapun di tahun berapapun dapat selalu merelasikan dirinya dengan film ini. Timeless feel inilah yang menjadi ciri khas dalam setiap film klasik karya Disney, seperti ketika anda menonton Pinocchio (1940), Beauty and the Beast (1991), atau Aladdin (1992).

Di era modern, Frozen pun sukses menjadi sebuah film klasik yang dapat menjadi inspirasi banyak orang dan sangat menghibur. Dengan humor yang umum dan kena, ditambah dengan deretan lagu yang sangat indah, jelas film ini akan menjadi sebuah film yang abadi yang akan ditonton oleh banyak generasi.

Bersanding dengan The Croods (2013) dan Despicable Me 2 (2013) dalam nominasi Golden Globes 2014, rasanya Frozen akan membawa pulang piala dengan mudah :D



USA | 2013 | Animation | 108 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? YA

Wajib 3D? RELATIF 
(Frozen tidak memiliki banyak adegan pop-out, tetapi memakai kacamata 3D sangat membantu untuk menikmati suasana musim dingin di Kerajaan Arendelle)

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 13 Desember 2013 -

Won for Best Original Song (Let It Go), Best Animated Feature Film, Academy Awards, 2014

Nominated for Best Original Song (Let It Go), Best Animated Film (Chris Buck, Jennifer Lee), Golden Globes 2014

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top