20 December 2013
One kritik

47 Ronin

"Film adaptasi Hollywood dari legenda klasik para samurai tak bertuan yang membalas dendam atas kematian majikannya ini menggantungkan diri pada efek visual dan CGI, namun gagal menceritakan nilai-nilai heroisme"

Lord Asano sebagai penguasa daerah Ako, dijebak oleh rivalnya Lord Kira. Shogun Tokugawa pun menghukum Lord Asano dengan menyuruhnya melakukan seppuku, sebuah cara bunuh diri yang terhormat. Lord Kira pun menguasai daerah Ako, sekaligus mengasingkan para samurai yang kini tak bertuan, yang disebut sebagai Ronin. Setelah setahun, Oishi sebagai pemimpin para ronin mengumpulkan kembali anak buahnya, sekaligus meminta bantuan dari orang Jepang yang berdarah-campuran, untuk membalas dengan kepada Lord Kira. Sebelum Lord Kira menikahi putri dari Lord Asano dan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa daerah Ako, para ronin harus membunuhnya sebagai balas dendam seorang samurai sejati, atau bushido.

Legenda klasik Jepang tentang 47 ronin yang membalas dendam kematian tuannya adalah sebuah cerita yang tidak lekang oleh waktu. Film ini adalah adaptasi ke-7 dari legenda tersebut, meski ini adalah adaptasi versi Hollywood pertama. Carl Rinsch pun memulai debut penyutradaraannya lewat film ini, dan dibantu dengan budget besar. Hasilnya, ini adalah adaptasi dari legenda klasik Jepang yang diinterpretasi ulang dengan bumbu mitos dan ilmu gaib, serta orang-orang Jepang abad ke-18 yang bisa berbahasa Inggris dengan baik!



Benang merah 47 Ronin jelas masih mengikuti kisah klasiknya, meski beberapa detil kisahnya tidak setia pada kisah yang beredar di para leluhur. Sebaliknya, pembuat film lebih berhasrat untuk menambahkan bumbu Hollywood dalam film ini. Dengan modal budget yang besar, segala rupa efek visual dan CGI pun digunakan untuk menggambarkan binatang buas, monster, serta ilmu gaib yang ada dalam film ini. Lupakan soal kenyataan, ucapkan selamat datang pada dunia universe Jepang versi Hollywood yang memiliki gadis yang bisa berubah wujud menjadi naga.

Entah apa kata orang Jepang jika melihat film ini. Tidak heran jika pekan pertama film ini diputar disana, penjualan tiketnya tidak terlalu tinggi. Gue rasa orang Jepang akan terheran-heran melihat penampakan manusia dan makhluk gaib yang digambarkan dalam film ini. Rasanya ini adalah suatu upaya bumerang bagi pembuat film, yang ingin filmnya diterima oleh audiens yang lebih besar dengan menambahkan unsur "pop". Namun sayang sekali, segala rupa kultur dan budaya Jepang pun direduksi sedemikian rupa ke dalam bentuk dialog saja. Jelas tergantikan oleh hingar-bingar CGI dan efek visualnya.


Untuk menonton adegan penyerbuan 47 ronin ke dalam istana Lord Kira pun penonton harus menunggu sampai tiga perempat film. Ya, pembuat film berniat untuk membangun cerita dengan perlahan dan tidak terburu-buru dengan menceritakan segala detil latar belakang motif balas dendam para samurai tak bertuan ini. Namun adegan klimaks yang ditunggu-tunggu itu pun dijawab dengan... "udah gitu doank?". Sepulang nonton, rasanya lebih seru membaca kisah penyerbuan aslinya di wikipedia daripada lewat layar lebar. 

Jika orang-orang Jepang membutuhkan bantuan seseorang yang jauh lebih kuat dan mampu menghabisi musuh dalam sekejap, dialah Keanu Reeves. Yes, si bule AS ini memang malang melintang di film-film bela diri Asia. Jika Tom Cruise mampu menjadi seorang samurai terakhir, maka Keanu Reeves pun tak mau kalah dengan menjadi salah satu dari legenda 47 ronin yang terkenal itu. Setidaknya dalam film ini, Keanu tidak terlihat tua dan powerless seperti dalam Man of Taichi (2013). Sekali lagi, dimanapun mereka berada, seseorang dengan keturunan Barat saves the day!



USA | 2013 | Action / Fantasy | 119 min | Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 20 Desember 2013 -

1 kritik:

  1. Sepakat. Film yang buruk. Sebuah pelecehan untuk kisah klasik ini...

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top