11 October 2013
0 kritik

The Flu

"Film asal Korea ini intens dalam menyajikan ketegangan, dan tetap dengan unsur drama khas Korea"

Sebuah virus flu mematikan nyaris membunuh separuh warga kota Bundang, suburban yang hanya berjarak 19 km dari Seoul. Virus itu terbawa dari imigran asal Hongkong yang diselundupkan dalam sebuah kontainer. Virus flu yang bermutasi di dalam kontainer selama beberapa hari, berubah menjadi virus mematikan dan menyebar dengan cepat lewat udara. Pemerintah pun memerintahkan menutup kota Bundang dan mengisolasi 500 ribu warga. Diantara orang-orang yang mengambil kesempatan untuk meraih keuntungan pribadi, seorang pekerja Emergency Response Team dan seorang ibu berusaha untuk mencari serum darah yang dapat menjadi vaksin dari virus tersebut.

Gue memang tidak terlalu banyak ter-exposure dengan film-film asal Korea. Tapi khusus The Flu, ini adalah salah satu persembahan terbaik dari Korea. Ya ya ya, mirip sama Contagion (2011) - nya Steven Soderbergh. Tapi jelas ini versi Korea punya. Jadi apa bedanya? Wiu wiu, film epidemic ini kental dengan drama khas Korea, mulai dari drama romantis, drama politik, hingga drama keluarga. Bukan Korea namanya kalau tidak bisa mengemas kisah drama agar tidak terlihat over, tapi masih bisa mengiris hati. Like I said, "wiu wiu" kaya bunyi ambulan.



Cerita virus yang bermutasi di dalam kontainer lalu berubah menjadi virus ganas menyebar lewat udara yang dapat membunuh manusia dalam hitungan jam, mungkin tampak kurang kuat secara ilmiah seperti yang diceritakan dalam film. Tapi The Flu tampaknya tidak ingin terlalu berat secara ilmiah, melainkan hanya ingin fokus pada permasalahan kemanusiaan yang ada ketika sebuah epidemi menyebar di sebuah kota banyak penduduk. Ketika pemerintah, yang dipenuhi oleh birokrat-birokat pencari kesempatan untuk tenar, memutuskan untuk menutup kota Bundang, sederetan permasalahan hak kemanusiaan pun bergulir. Bagaimana cara memisahkan warga yang terinfeksi dan yang tidak? Ketika "mengecap" seorang warga telah terinfeksi, bagaimana nasibnya selanjutnya? Ketika logis berkata bahwa virus tidak boleh menyebar keluar dari kota, apakah itu berarti melakukan hal APAPUN? Termasuk membunuh setiap warga yang melewati garis batas karantina?

Segala macam dilema perihal kemanusiaan ini yang memenuhi 122 menit dari film ini. Dari banyak adegan dengan skala pemerintah hingga presiden Korea, pembuat film berusaha keras untuk membagi penonton menjadi dua kelompok besar; yang menyetujui virus tidak boleh menyebar ke dunia, dan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kurang efektif, namun usaha itu tetap patut diapresiasi. Mungkin faktor gagalnya adalah di pemilihan karakter orang-orang PBB / pemerintah US yang kelewat jerk.


Layaknya film-film drama Korea lainnya, drama romansa masih tetap menjadi primadona dalam film ini. Ya, topik percintaan memang selalu menarik. Apalagi kalau kisahnya kali ini adalah seorang cowo macho jomblo yang sangat filantropis, jatuh cinta pada single mother cantik yang ternyata seorang dokter ahli virus (oh well, terlalu banyak kebetulan ya, but that's ok - they're Korean). Si anak (yang gue lupa namanya) pun secara tidak sengaja jadi bintang utama dalam film ini. Imut super. Setiap ekspresinya minta dielus-elus banget. Dan dengan setiap kebetulannya, si anak ini pun akan jadi tokoh kunci pada cerita. Oh yeah.

Pada akhirnya, film ini memang film yang cukup menarik untuk disaksikan. Tapi tolong jangan dibandingkan dengan film-film di genre yang sama bikinan Hollywood. Untuk kualitas Asia, film epidemic-disaster ini terbilang sangat baik. Efek visualnya meyakinkan. Film ini juga bisa membawa ketegangan tersendiri ketika virus-virus ini menyebar. Tapi ya itu, musti kebal dengan setiap drama khas Korea yang ada.



Korea | 2013 | Drama / Action / Disaster | 122 min | Aspect Ratio 2.35 : 1


Scene After Credits? TIDAK

Scene During Credits? YA
(Akan ada satu adegan komedi di pertengahan ending credits)

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 11 Oktober 2013 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top