11 April 2012
0 kritik

Titanic (3D)

Siapa yang belum pernah menonton Titanic? Bagi anda para wanita, sudah berapa belas kali anda menonton Titanic? Siapa yang belum pernah mendengar quote "You jump, I jump" atau "I'm the king of the world"? Atau jika anda sudah pernah menontonnya, pernah menonton di layar lebar? Nah dalam rangka 100 tahun tenggelamnya kapal Titanic di tanggal 15 April 1912, film Titanic yang keluaran tahun 1997 ini akan dirilis ulang di bioskop-bioskop di seluruh dunia dalam bentuk konversi 3D.

84 tahun semenjak kapal pesiar mewah Titanic tenggelam, seorang wanita berusia 101 tahun bernama Rose DeWitt Bukater menceritakan kisah hidupnya sebagai salah satu penumpang yang selamat kepada para ilmuwan yang sedang mencari harta karun dalam kapal Titanic yang karam. Cerita itu pun bermula dari bagaimana dirinya bertemu dengan seorang seniman muda bernama Jack Dawson, sementara dirinya telah bertunangan dengan seorang bangsawan demi menyelamatkan keluarganya yang bangkrut. Kisah kapal Titanic yang untuk pertama kalinya berlayar setelah selesai dibuat sampai pada akhir hayatnya hanya dalam beberapa hari tersebut diwarnai dengan bumbu cinta antara Rose dengan Jack.

Diantara film-film James Cameron yang lain yang lebih mengarah ke fiksi ilmiah, rasanya hanya Titanic (1997) yang mengangkat cerita dari kisah nyata dan ditambah dengan bumbu-bumbu fiksi. Saking yakinnya dengan publisitas yang akan diperoleh, Cameron benar-benar menggarap film ini dengan sangat serius. Mulai dari membangun set kapal dengan skala riil sampai dengan mengambil gambar sendiri puing-puing kapal Titanic yang karam di dasar Samudera Atlantik. Total 200 juta USD yang dihabiskan untuk membuat film ini pun lebih mahal ketimbang kapal Titanic itu sendiri. Namun biaya itu tidak percuma, mengingat film ini berhasil meraup kurang lebih 1,8 milyar USD dan berada di nomor dua film terlaris sepanjang masa, dibawah film Cameron yang lain; Avatar (2009).

gambar diambil dari sini
Mulai dari The Terminator (1984), Aliens (1986), sampai dengan Avatar (2009), film-film karya James Cameron memang selalu menyertakan tema yang serupa; perbedaan kelas, arogansi manusia, dan ketergantungan pada teknologi yang berujung pada kehancuran. Saking dekatnya kisah dalam film Titanic ini dengan kehidupan manusia, tidak heran jika film ini berhasil menyentuh hati banyak orang yang menontonnya. Perbedaan kelas sosial yang sampai detik ini masih terjadi di berbagai belahan dunia, digambarkan dengan sangat gamblang lewat perbedaan perlakuan penumpang kelas satu dengan kelas tiga. Arogansi manusia yang ingin menjadi makhluk terhebat dengan membuat bangunan sehebat mungkin layaknya menara Babel, digambarkan dengan para insinyur Titanic yang begitu yakin telah membuat kapal yang tidak bisa tenggelam. Saking yakinnya bahkan sampai rela mengurangi jumlah perahu penyelamat demi keindahan geladak kapal. Tidak lupa, Cameron juga menyisipkan formula kisah cinta klasik yang selalu manjur sejak ratusan tahun lalu; percintaan dua insan dari latar belakang yang berbeda yang berakhir dengan tragedi.

Yang mengagumkan dari seorang James Cameron adalah bagaimana dia bisa memasukkkan tema-tema tersebut dalam satu film tanpa membuat penonton kehilangan fokus akan cerita yang ada dalam layar. Dengan halus dan cerdas, Cameron berhasil memasukkan tema-tema yang berbeda tersebut dalam satu adegan sehingga setiap informasi yang ada langsung menempel di kepala penonton. Simak saja bagaimana Cameron memberikan informasi tentang kemampuan kapal Titanic di adegan yang bersamaan dengan perkenalan keluarga dari Rose.
gambar diambil dari sini
Gaya bercerita Cameron dan kekuatan drama yang ada dalam film ini memang sebegitu signifikannya dalam menyeret perhatian serta emosi penonton. Saking kuatnya cerita yang ada, sampai saya sendiri melupakan efek 3Dnya. Ya jelas, karena pengaruh 3D hasil konversi ini memang kurang signifikan. Praktis efek popping out yang ada dalam film ini hanyalah tulisan subtitle bahasa Indonesia, karena memang film yang disyuting tahun 1997 ini tidak memiliki konsep 3D.

Kebanyakan orang yang kembali ke bioskop untuk menonton film ini mungkin harus kecewa karena berharap terlalu banyak dengan embel-embel 3D yang ada. Namun sebagian kecil mungkin tetap akan puas setelah lampu teater dinyalakan, karena mendapat kesempatan (lagi) untuk menikmati film legendaris ini di layar lebar. Tidak hanya sekali lagi melihat bagaimana Jack Dawson mengucapkan line yang telah mendunia, atau gaya Jack dan Rose di ujung kapal Titanic, atau ikut merasakan dingin yang bagaikan ditusuk ribuan pisau tajam di akhir film.



USA | 1997 | Drama / History / Romance | 194 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 11 April 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top