13 April 2012
0 kritik

[REC] 3 Genesis

Bagi anda pencinta film zombies, pastinya anda sudah familiar dengan franchise [REC] asal Spanyol ini. Sekuel pertama, [REC] (2007) yang mengambil ide dasar yang sangat sederhana dan dieksekusi secara brilian, seorang reporter TV terjebak di sebuah apartemen dan harus bertahan hidup di tengah zombie-zombie yang haus darah. Cerita ini berlanjut ke sekuel kedua yang tidak mengecewakan, [REC] 2 (2009) dengan cerita yang terjadi tepat 15 menit setelah cerita pada sekuel pertama berakhir. Franchise film zombie yang direncanakan akan menjadi quadrilogy ini pun memunculkan sekuel ketiganya yang kali ini diberi embel-embel sub judul, [REC] 3 Genesis.

Kini penyebaran infeksi virus mematikan telah menyebar ke luar gedung apartemen. Di sebuah pernikahan antara dua pasangan yang sedang berbahagia, tempat resepsi menjadi mimpi buruk baru bagi para tamu dan kedua pengantin. Aksi ini pun sedikit membuka informasi baru yang tersembunyi dalam dua film sekuel sebelumnya, sekaligus menjadi jembatan untuk sekuel terakhir, [REC] 4 Apocalypse.

Dengan sekuel pertama dan kedua yang berkaitan erat dan dengan teknik bercerita yang mirip, sekuel ketiga ini bisa dibilang menggunakan konsep yang benar-benar berbeda dan diluar ciri khas franchise ini. Hal ini memang mendatangkan konsekuensi positif maupun negatif. Positifnya, gaya bercerita yang baru ini seakan angin segar bagi franchise [REC] yang tampaknya menemui titik jenuh dengan gaya bercerita di sekuel keduanya. Negatifnya, mungkin akan mengecewakan para fans yang telah mengagumi gaya bercerita di dua sekuel pertamanya.


Perubahan konsep ini menjadikan sekuel ketiga ini sebagai proyek banting setir dari franchise [REC]. Franchise yang terkenal dengan konsep found footage yang menyajikan horor yang atmosferik serta mengagetkan, banting setir menjadi film horor tipikal film slasher "kelas B". Bagaimana tidak, Paco Plaza sebagai sutradara memasukkan banyak unsur komedi yang dicampur dengan adegan slasher yang dengan mudah memancing teriakan tawa dari penonton. Ada beberapa karakter yang dengan sengaja diperkenalkan dengan cara humoris, disertai dengan dialog-dialognya. Tidak lupa dengan adegan-adegan slasher yang memang cukup berdarah, yang memancing teriakan spontanitas dari penonton. Ya, atmosfer menonton film ini mirip dengan ketika saya menonton film-film yang ada dalam INAFFF.

Dengan jalan cerita yang sangat sederhana, konflik utama yang ada dalam film dibuat tarik-ulur. Setiap karakter dan solusinya pun dibungkus oleh dark humour. Ada beberapa plot holes yang sedikit bertentangan dengan "rules" dari dua sekuel pertamanya. Namun make up dari setiap zombie yang ada tetap luar biasa dan meyakinkan, untuk ukuran industri film Spanyol. Sangat patuh pada formula film-film slasher, ada adegan-adegan dramatis yang diselipkan di tengah-tengah adegan "memorable".

Seperti yang biasanya terjadi, tipikal film ini hanya menyisakan dua kelompok besar penonton; love it atau hate it dan hanya sebagian kecil penonton yang berada diantaranya. Bagi pecinta film slasher mungkin akan dengan mudah bersenang-senang menikmati film ini, dengan menertawakan setiap adegan yang ditampilkan di layar. Sementara itu, mungkin kelompok pencinta franchise [REC] akan bersungut-sungut kecewa karena ekspektasi yang tinggi sebelum masuk ke dalam bioskop.
Menurut saya, keputusan ini bukanlah sebuah keputusan iseng yang dilakukan oleh dua kreator franchise ini; Paco Plaza dan Luis Berdejo. Mungkin sekuel ketiga ini sengaja dibuat untuk mempolarisasi basis fans yang telah terbentuk semenjak sekuel pertamanya. Biasanya, fans yang terpolarisasi dan mendukung franchise ini akan lebih setia untuk membela setiap film yang ada. Tentunya rasa ekslusivitas pun akan meningkat seiring dengan polarisasi fans ini. Selain itu, mungkin sekuel ketiga ini hanyalah magnet uang yang menggunakan brand image [REC] yang telah terbentuk, demi mengumpulkan uang untuk proyek yang lebih besar; sekuel keempat dan terakhir. Industri perfilman Spanyol tidaklah sekuat Hollywood dalam hal biaya, dan menurut rumor yang ada, sekuel terakhir membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena (spoiler warning!) akan membuat satu kota besar di Spanyol penuh dengan zombie.

Akhir kata, film ini bukan film sampah dengan biaya rendah dan pengerjaan yang tidak serius. Film ini tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton bersama dengan teman-teman, apalagi dengan karakter utama kita yang cantik. Maka, turunkanlah ekspektasi anda dan...selamat bersenang-senang...*dengan nada Tama (The Raid)*



Spain (Spanish with English & Indonesian subtitle) | Horror/Thriller | 80 mins | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
6 dari 10
*saya adalah salah satu fans franchise [REC] yang sayangnya memiliki ekspektasi tinggi dan terlanjur tidak dapat bersenang-senang dengan filmnya*

- sobekan tiket bioskop tertanggal 13 April 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top