Ketika adik perempuan dari Katniss terpilih dalam undian, Katniss pun mengajukan diri sebagai relawan untuk menggantikan adiknya. Katniss dan rekan laki-lakinya, Peeta, harus berjuang untuk bertahan hidup dalam permainan hidup atau mati ini.
Sekilas, mungkin cerita ini mengingatkan anda dengan film Jepang fenomenal; Battle Royale (2000). Namun penulis novel Suzanne Collins yang novelnya diadaptasi dalam bentuk film ini mengaku belum pernah membaca atau mendengar novel Battle Royale karangan Koushun Takami yang diterbitkan di tahun 1999 itu. Terlepas dari pararelnya garis besar cerita tentang para remaja yang terjebak dalam permainan adu nyawa, film ini tetap memiliki ciri khasnya sendiri. Film ini seakan ingin berbicara lain tentang bagaimana totalitarian mempertahankan kekuasaannya.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Lalu apa signifikansi permainan maut ini terhadap kekuasaan totaliter? Setiap anak yang maju ke putaran final, sudah bisa dibilang mewakili distriknya sendiri. Ke-12 distrik yang akan saling bunuh dalam satu arena adalah manipulasi cerdas dari pemerintah (Capitol) untuk menunjukkan siapa yang berkuasa dalam arena (Panem). Hal ini ditunjukkan jelas dengan bagaimana si pengatur permainan dengan seenaknya memunculkan berbagai benda dan barang dalam permainan, serta mengubah-ubah peraturan permainan sesuka hati. Efek lainnya secara tidak langsungnya adalah untuk "mengajarkan" kepada para distrik bahwa seharusnya yang saling bunuh adalah antar-distrik, dan bukan distrik-pemerintah.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Semua hal ini tergambar dengan jelas dalam film ini, baik secara eksplisit maupun implisit. Semua itu didukung oleh gaya bercerita yang menarik dan tidak membosankan. Penggambaran perbedaan kelas yang ada antar distrik - dan juga dengan Capitol - sangat jelas terlihat lewat mata biasa. Arsitektur bangunan, suasana kota, make up, bahkan pakaian yang dikenakan. Selain itu, penggambaran adegan aksi sangat menegangkan dan berhasil menyeret emosi penonton sehingga seakan-akan terlibat di dalamnya. Apalagi dengan teknik shaky camera yang seakan-akan merefleksikan sudut pandang dari Katniss.
Akhir kata, film ini adalah film aksi yang digarap dengan sangat baik, yang juga penuh dengan pesan sosial. Akan cukup disayangkan jika dilewatkan di layar lebar.
USA | 2012 | Action / Drama / Sci-Fi / Thriller | 142 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1
Rating?
8 dari 10
- sobekan tiket bioskop tertanggal 9 April 2012 -




Dari segi cerita gw setuju bgt 8/10 in fact gw beli buku keduanya besoknya stelah nonton pelm ini, versi inggrisnya pula (ilfil ngeliat judul terjemahannya "Catching Fire" jadi "Tersulut") krn penasaran kelanjutannya gimana
ReplyDeletetp buat gw, acting pemain2nya terutama si katnissnya yg banyakan nunjukin "pokerface" kurang bgt. dan president snownya juga terlalu "soft", kurang terkesan "tyrant"nya. ini komentar didasarin gw belon baca buku pertamanya. menurut gw, satu2nya aktor yg mendingan itu cuman si Cato. for me it's 7.5/10
ini film apaan? action gak drama gak apalagi thriller, klo memang tujuannya harus saling bunuh dan cuma ada satu pemenang knapa jg ada koalisi antar distrik dan seakan2 cuma distrik 12 aja musuh mereka??
ReplyDeletefilm nanggung dan paling mengecewakan saya di tahun ini.
kalo saya sih cuma bisa kasih 4/10
Film tanpa makna..
ReplyDelete