09 April 2012
3 kritik

The Hunger Games

Di masa depan dystopia (kebalikan dari utopia), negara totaliter bernama Panem terbagi menjadi 12 distrik dan Capitol, ibukotanya. Untuk mengenang dan memperingati pemberontakan ke-12 distrik terhadap negara di masa lalu, setiap tahun diadakan sebuah permainan survival yang disiarkan dengan TV ke seluruh Panem; The Hunger Games. Pada permainan ini, satu anak laki-laki dan satu anak perempuan dari setiap distrik dipilih dengan undian atau sukarelawan, untuk saling membunuh dalam permainan tersebut sampai tersisa satu juara.

Ketika adik perempuan dari Katniss terpilih dalam undian, Katniss pun mengajukan diri sebagai relawan untuk menggantikan adiknya. Katniss dan rekan laki-lakinya, Peeta, harus berjuang untuk bertahan hidup dalam permainan hidup atau mati ini.

Sekilas, mungkin cerita ini mengingatkan anda dengan film Jepang fenomenal; Battle Royale (2000). Namun penulis novel Suzanne Collins yang novelnya diadaptasi dalam bentuk film ini mengaku belum pernah membaca atau mendengar novel Battle Royale karangan Koushun Takami yang diterbitkan di tahun 1999 itu. Terlepas dari pararelnya garis besar cerita tentang para remaja yang terjebak dalam permainan adu nyawa, film ini tetap memiliki ciri khasnya sendiri. Film ini seakan ingin berbicara lain tentang bagaimana totalitarian mempertahankan kekuasaannya.

gambar diambil dari sini
Sejarah telah membuktikan, bahwa permainan primitif dimana beberapa manusia harus saling bunuh dan bertahan hidup dalam satu arena cukup efektif untuk meningkatkan cara pandang rakyat terhadap pemerintahannya. Lihat saja bangsa Romawi dengan permainan Gladiatornya, yang bahkan ditambahkan juga beberapa ekor binatang ganas untuk membuat permainan tambah seru - dan lebih cepat selesai. Para gladiator ini pun dipilih sedemikian rupa sehingga mewakili beberapa kelas sosial yang ada. Hal yang sama juga terjadi dalam The Hunger Games, dimana sistem representatif lebih jelas ketika setiap distrik harus mengirimkan dua perwakilannya setiap tahun dalam permainan maut tersebut.

Lalu apa signifikansi permainan maut ini terhadap kekuasaan totaliter? Setiap anak yang maju ke putaran final, sudah bisa dibilang mewakili distriknya sendiri. Ke-12 distrik yang akan saling bunuh dalam satu arena adalah manipulasi cerdas dari pemerintah (Capitol) untuk menunjukkan siapa yang berkuasa dalam arena (Panem). Hal ini ditunjukkan jelas dengan bagaimana si pengatur permainan dengan seenaknya memunculkan berbagai benda dan barang dalam permainan, serta mengubah-ubah peraturan permainan sesuka hati. Efek lainnya secara tidak langsungnya adalah untuk "mengajarkan" kepada para distrik bahwa seharusnya yang saling bunuh adalah antar-distrik, dan bukan distrik-pemerintah.
gambar diambil dari sini
Lalu mengapa menyisakan satu orang yang dinobatkan sebagai juara? Mengutip dialog sang presiden Panem; untuk memberikan harapan kepada rakyat. Sedikit harapan itu bagus, agar rakyat masih mau menjalani hidup dan bekerja, untuk negara. Jika ditarik ke segi hiburan dan bisnis, maka satu harapan ini akan mendramatisir kisah permainan ini dan akan menjadi acara televisi yang seru dan menarik. Oh ya, segi hiburan dan bisnis ini pun dengan cerdas menutupi maksud buruk pemerintahan totaliter tersebut. Permainan maut ini dikemas dengan gaya yang hingar-bingar, dibuka dengan pawai meriah serta wawancara ekslusif. Para pemain juga dimanjakan dengan fasilitas yang super mewah dan makanan yang serba nikmat. Setidaknya memberikan kesempatan terakhir bagi para remaja ini untuk hidup enak sebelum darah bercucuran dari tubuh mereka.

Semua hal ini tergambar dengan jelas dalam film ini, baik secara eksplisit maupun implisit. Semua itu didukung oleh gaya bercerita yang menarik dan tidak membosankan. Penggambaran perbedaan kelas yang ada antar distrik - dan juga dengan Capitol - sangat jelas terlihat lewat mata biasa. Arsitektur bangunan, suasana kota, make up, bahkan pakaian yang dikenakan. Selain itu, penggambaran adegan aksi sangat menegangkan dan berhasil menyeret emosi penonton sehingga seakan-akan terlibat di dalamnya. Apalagi dengan teknik shaky camera yang seakan-akan merefleksikan sudut pandang dari Katniss.

Akhir kata, film ini adalah film aksi yang digarap dengan sangat baik, yang juga penuh dengan pesan sosial. Akan cukup disayangkan jika dilewatkan di layar lebar.



USA | 2012 | Action / Drama / Sci-Fi / Thriller | 142 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 9 April 2012 -

3 kritik:

  1. Dari segi cerita gw setuju bgt 8/10 in fact gw beli buku keduanya besoknya stelah nonton pelm ini, versi inggrisnya pula (ilfil ngeliat judul terjemahannya "Catching Fire" jadi "Tersulut") krn penasaran kelanjutannya gimana

    tp buat gw, acting pemain2nya terutama si katnissnya yg banyakan nunjukin "pokerface" kurang bgt. dan president snownya juga terlalu "soft", kurang terkesan "tyrant"nya. ini komentar didasarin gw belon baca buku pertamanya. menurut gw, satu2nya aktor yg mendingan itu cuman si Cato. for me it's 7.5/10

    ReplyDelete
  2. ini film apaan? action gak drama gak apalagi thriller, klo memang tujuannya harus saling bunuh dan cuma ada satu pemenang knapa jg ada koalisi antar distrik dan seakan2 cuma distrik 12 aja musuh mereka??
    film nanggung dan paling mengecewakan saya di tahun ini.
    kalo saya sih cuma bisa kasih 4/10

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top