03 February 2012
0 kritik

Paranormal Activity 3

Tampaknya franchise film ini masih saja dinikmati, sehingga membuat Oren Peli dan kawan-kawan kembali melanjutkan cerita Katie dan Kristi yang dihantui entitas jahat. Kali ini digarap oleh sutradara yang berbeda, namun masih dengan cerita yang ditulis oleh Oren Peli sendiri. Konsep gaya dokumenter dengan menggunakan berbagai video kamera yang ada di dalam rumah pun masih digunakan dalam sekuelnya yang ketiga ini, Paranormal Activity 3.

Di tahun 1988, Katie dan Kristi muda berteman dengan teman imajiner. Ibu mereka, Julie, yang skeptis menganggap hal itu biasa saja. Namun Dennis, pacar Julie, menemukan beberapa hal aneh antara interaksi Katie dan Kristi dengan Toby, si teman imajiner. Dennis yang berprofesi sebagai videografer pun memutuskan untuk memasang kamera di kamar tidur mereka, kamar tidur anak-anak, dan ruang keluarga. Walaupun tidak disetujui oleh Julie, kamera Dennis menangkap berbagai aktivitas paranormal yang terjadi di rumah mereka. Dengan pengetahuan dan kemampuan terbatas, Dennis mencoba untuk mengungkap maksud tersembunyi dari Toby terhadap Katie dan Kristi.

Jika di PA2, penonton tidak menduga jika jalan cerita yang disajikan adalah prekuel dari PA1, maka dalam sekuel ketiga ini penonton sudah disiapkan bahwa film ini juga merupakan prekuel dari kedua sekuel sebelumnya. Penonto diajak untuk melihat masa kecil dari Katie dan Kristi dan dapat lebih memahami alasan mengapa Toby menghantui mereka sampai dewasa. Beberapa plot memang cukup kontradiktif dengan kedua sekuelnya, namun bisa diterima jika penonton tetap menggunakan asas imajinasi bebas.



gambar diambil dari sini
Dari segi cerita memang cukup menarik untuk digali, terutama bagi fans franchise film ini. Dari segi konsep, tampak bahwa pembuat film ingin mengembalikan kesederhanaan gaya pengambilan kamera seperti PA1 Yang patut diacungi jempol adalah ide memasang kamera di kipas angin yang bisa berputar dari kiri ke kanan, sehingga menghasilkan sinematografi yang menarik dan kaya eksplorasi adegan horor. Namun sayang, setiap adegan horor yang ada seakan muncul dengan formula tertentu dan dapat ditebak. Penonton tidak lagi diberikan adegan-adegan yang berlalu tanpa kejadian menyeramkan, namun setiap adegan pasti ada aktivitas paranormalnya. Efek kejut yang monoton ini pun dapat dengan cepat diantisipasi oleh penonton, walaupun kreatifitas kejutannya yang masih sangguh mendirikan bulu kuduk patut diacungi jempol.



USA | 2011 | Horror | 83 min (94 min unrated director's cut) | Aspect Ratio 1.85 : 1

Rating?
7 dari 10

 - sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Februari 2012 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top