28 February 2012
One kritik

The Artist

Berapa banyak film hitam putih yang telah anda tonton sebelumnya? Di bioskop atau di layar kecil? Di abad 20, mungkin kita kenal dengan Schindler's List karya Steven Spielberg yang sengaja dibuat dalam hitam putih. Lalu bagaimana dengan film bisu, berapa banyak yang telah anda tonton? Jika anda belum pernah menonton film bisu dan hitam putih, apalagi di bioskop, maka berterima kasihlah kepada sutradara dan penulis naskah asal Perancis, Michel Hazanavicius yang di abad ke-21 ini membuat film The Artist.

Tahun 1927 di Hollywood, bintang film bisu George Valentin bertemu dengan salah seorang penggemarnya, Peppy Miller. Dengan maksud ingin selalu berada di dekat George, Peppy memasuki dunia film dengan menjadi penari latar. Dimulainya era film berbicara, membuat karir Peppy kian lama kian menanjak. Tertutup oleh ego dan idealismenya, karir George di dunia film malah menurun karena dirinya masih setia pada film bisu. Untuk kesekian kalinya, karir dan takdir kedua orang ini bertemu di persimpangan jalan dan mencari jalan terbaik untuk menghadapi era baru.

Banyak alasan yang dapat menjelaskan kesuksesan film ini di berbagai penghargaan film, khususnya di Oscar 2012 kemarin. Film ini adalah persembahan dari sinema Perancis untuk menghormati sejarah dunia perfilman di Hollywood. Secara khusus, film ini mengambil fokus pada era pergantian dari film bisu ke film berbicara yang terjadi di dataran Amerika, dan bagaimana dampaknya pada makro dan mikro dunia perfilman. Sebagai tanda penghormatan terhadap sejarah dunia perfilman, film ini pun menggunakan konsep yang sama dengan film yang diceritakannya dalam film ini; hitam putih, dan bisu yang hanya menggunakan quotes dialog yang ditampilkan di layar. Tidak hanya warna dan kebisuannya, Hazanavicius juga memutuskan menggunakan aspect ratio yang sama dengan film-film bisu di tahun 1920-an; 1.37 : 1. Sehingga jika anda menonton film ini di bioskop, maka layar film ini nyaris berbentuk bujur sangkar. Konsep ini benar-benar membuat anda seakan menonton film tahun 1920-an di tahun 2012.

gambar diambil dari sini
Sebagai penghormatan, Hazanavicius pun tidak main-main dalam menggarap film ini. Film ini digarap serius dari berbagai aspek yang ada; akting, musik, kostum, make up, artistik, editing, dan sebagainya. Keseriusan ini pun berbuah banyak, dimana setiap segi produksi dan teknis ini diganjar banyak nominasi dan piala di berbagai penghargaan film. Lihat saja paduan antara artistik, kostum, dan make up yang ada, yang membuat penonton seakan benar-benar berada di tahun 1920-an. Dalam film bisu, dengan tidak adanya dialog, maka satu-satunya suara yang menemani penonton adalah musik score yang ada. Ludovic Bource pun mengerjakan bagiannya dengan sangat brilian. Orkestrasi musik yang ada benar-benar sanggup menggantikan dialog yang ada, serta menghidupkan emosi yang ada dalam adegan.

Menyampaikan akting dan emosi dengan dialog saja sudah cukup sulit, jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya bagaimana membuat penonton memahami adegan yang ada tanpa dialog sama sekali. Bagi yang mengenal sosok Charlie Chaplin, beliau adalah salah satu aktor film bisu yang sukses dalam eranya. Mr. Chaplin diberkahi dengan mimik wajah yang ekspresif, sehingga tanpa dialog pun, hanya dengan melihat konteks adegan yang ada maka penonton dapat memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya dan emosi apa yang ia rasakan. Terlalu berlebihan jika membandingkan aktor lain dengan Mr. Chaplin, tapi rasanya penampilan Jean Dujardin bisa dibilang sangat baik dalam menyampaikan emosi yang ada kepada penonton, tanpa dialog sekalipun. Dalam film-film sebelumnya, Dujardin memang terbiasa berakting seekspresif mungkin dan dengan mengeluarkan energi sebesar-besarnya, walaupun kebanyakan di genre komedi. Namun dalam film ini, terlihat bahwa Dujardin memberikan yang terbaik dari kemampuan aktingnya. Mulai dari gerakan tubuh, ekspresi wajah, sampai sekecil tatapan mata, semua sangat mendukung konteks cerita yang ada dan menyampaikan emosinya dengan sangat baik ke penonton.
gambar diambil dari sini
Walaupun tidak ada dialog yang terucap dari setiap karakternya, ajaibnya film ini masih mampu bercerita banyak kepada para penonton. Disinilah teknik penyutradaraan dari Hazanavicius yang patut diberi penghargaan tinggi. Dengan gerakan tubuh, ekspresi, business acting, serta aroma score yang menemani, film ini masih mampu bertutur cerita dengan sangat baik, sebaik film dengan dialog, dan membuat penonton dengan sangat mudah untuk memahami apa yang sedang terjadi di layar. Mungkin banyak calon penonton yang menghindari film ini karena takut bahwa film ini tergolong film yang "berat". Mereka salah besar. Sebaliknya, cerita yang ada dalam film ini sangat ringan dan dapat dimengerti oleh semua orang dari berbagai golongan dan usia. Ini adalah cerita tentang individu yang ketinggian egonya melampaui kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Ini adalah cerita tentang individu yang memegang teguh idealismenya di tengah jaman yang dengan cepat berubah. Ini adalah cerita tentang individu yang sebagai manusia, cukup rapuh jika harus menghadapi dunia tanpa bantuan orang lain. Ini adalah cerita untuk mengingatkan masyarakat agar tidak cepat melupakan hal-hal baik di masa lalu ketika roda jaman mulai berputar kencang.

Akhir kata, kehadiran film rasa 1920-an ini benar-benar menjadi warna baru di era serba canggih ini. Lebih jauh lagi, Michel Hazanavicius membuktikan bahwa film yang baik (dan mampu meraih berbagai penghargaan) tidak perlu menggunakan spesial efek. tata suara yang serba wah, dan berwarna! Dalam kesederhanaannya lewat hitam putih dan tanpa dialog, film ini menyimpan kemegahan tersendiri. Bagi anda pencinta film sejati, tentunya anda perlu memberikan penghormatan kepada sejarah dan dinamika bagaimana asal mula film bisa menjadi seperti sekarang ini; penuh dengan efek visual dan tiga dimensi. Ya, film bisu dan hitam putih lah yang menjadi pionir dari kombinasi gambar-gambar (negatif film) yang bergerak (motion picture), dan film ini merupakan surat cinta yang manis dari Hazanavicius kepada Hollywood. Dengan penghormatan terhadap perkembangan sinema, kualitas internal film, serta pesan moral yang diangkat, maka The Artist memang layak untuk menjadi yang terbaik di tahun 2011.



France/Belgium | 2011 | Drama/Romance/Comedy | Aspect Ratio 1.37 : 1

Won for Best Picture (Thomas Langmann), Best Director (Michel Hazanavicius), Best Actor (Jean Dujardin), Best Original Score (Ludovic Bource), Best Costume Design (Mark Bridges), Nominated for Best Art Direction (Robert Gould), Best Cinematographer (Guillaume Schiffman), Best Editing (Anna-Sophie Bion), Best Original Screenplay (Michel Hazanavicius), Best Actress (Berenice Bejo),
Academy Awards, 2011.

Rating?
9 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 28 Februari 2012 -

1 kritik:

  1. Setuju sama blog ini..can not say anything with this movie...kalau mo nntn film ini kuncinya cm satu, ga usah dipikir, let it flow aja. U will get the feeling of the movie right away.

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top