25 October 2011
2 kritik

Super 8

Film tentang alien atau makhluk/monster dari luar angkasa memang tidak pernah ada habisnya. Ada film alien bernuansa komedi, ada yang bernuansa percintaan, ada yang dari sudut pandang tentara, sampai pada film yang hanya mengandalkan efek visual. Nah bagaimana jika seorang Steven Spielberg, "pakarnya" film-film alien, memproduseri sebuah film alien yang menggabungkan semua unsur tersebut? Diramu oleh sutradara berbakat, J.J. Abrams, inilah salah satu film yang ditunggu-tunggu di tahun ini, Super 8.

Pada musim panas 1979, sekelompok anak kecil yang sedang membuat film pendek tiba-tiba menyakikan kecelakaan kereta api yang terjadi tepat di depan mata mereka. Gerbong-gorbong kereta api yang porak-poranda itu ternyata mengangkut kargo yang sangat berbahaya. "Kargo" yang lepas tersebut pun mengancam kota kecil Lilian, serta membuat angkatan udara AS turun tangan langsung terhadap insiden tersebut. Berniat ingin melanjutkan pembuatan film yang tertunda, Joe dan kawan-kawan malah mencoba mengungkap misteri dibalik kargo kereta api tersebut.

Entah pengaruh yang besar dari produser Steven Spielberg atau memang J.J. Abrams yang menulis naskah film ini banyak memberikan homage kepada film-film klasik Spielberg, yang jelas film ini sangat khas dengan seorang Steven Spielberg. Emosi yang kuat dari antar karakter yang ada, jalan cerita yang bertema kekeluargaan dan persahabatan, sampai pada adegan aksi kejar-kejaran. Apalagi dengan setting film di tahun 70-an, semakin memperkuat atmosfer klasik yang ada dalam film ini. Luar biasanya, J.J. Abrams mampu mengolah semua itu menjadi satu film mengagumkan yang rasanya dapat ditonton oleh berbagai kalangan dan berbagai rentang umur.

Tidak seperti film-film alien kebanyakan, hal yang ditonjolkan dalam film ini adalah jalan cerita dan karakterisasi. Setiap karakter yang ada diperkenalkan lewat layar lebar dan diperkuat seiring alur cerita yang ada. Titik gravitasi utama film ini adalah anak-anak, yang juga menjadi pahlawan penyelamat dalam film ini. Joe Lamb yang baru kehilangan ibunya, Charles yang terobsesi untuk menyelesaikan film pendeknya, Cary yang hobi dengan petasan dan hal-hal yang berbau dengan ledakan, serta Alice yang sulit berhubungan dengan ayahnya yang pemabuk. Jalan cerita dalam film lebih lebih fokus pada bagaimana para karakter ini menghadapi masalah mereka masing-masing. Praktis alien yang ada dalam film ini hanyalah faktor pemicu bagi para jagoan kita untuk menyelesaikan masalah mereka.


Memang, drama yang disajikan adalah faktor penggerak film ini bukan bersifat sebagai tempelan saja. Proporinya terbilang pas - tidak kurang dan tidak berlebih. Namun film ini juga memenuhi janji awalnya untuk menjadi hiburan mata dan telinga yang mengagumkan. Hasilnya memang luar biasa, efek visual dan praktikal yang ada dalam film ini sangat meyakinkan, apalagi dengan efek suara yang bisa menyeret penonton dari kursi bioskop dan serasa berada di lokasi kejadian. Apalagi ditambah dengan score arahan Michael Giacchino yang catchy serta pol dalam meningkatkan intensitas ketegangan.

J.J. Abrams cukup berhasil untuk menyimpan seperti apa rupa alien yang ada dalam film ini sampai menjelang akhir film. Dalam film-film alien lainnya yang menggunakan trik yang sama, memang trik tersebut cukup berhasil untuk membangun ketegangan serta rasa penasaran penonton terhadap si makhluk asing. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa film ini sedikit banyak mengandung homage terhadap karya-karya klasik Spielberg, ada beberapa adegan yang pararel atau membuat anda teringat pada film Poltergeist (1982), Close Encounter of the Third Kind (1977), dan pastinya E.T. (1982).
gambar diambil dari sini
Walaupun pada pemeran utama kita berumur rata-rata 13-14 tahun, secara mengejutkan akting mereka sangat meyakinkan. Joel Courtney sanggup membawakan Joe Lamb dengan sangat baik, dimana karakternya juga menjadi roda penggerak dan titik tumpu dari jalan cerita film ini. Elle Fanning sekali lagi tampil memukau dalam film yang dibintanginya. Memerankan seorang anak yang sulit untuk berhubungan baik dengan ayahnya yang tidak seperti ayah-ayah kebanyakan memang bukan hal baru bagi Elle, dimana ia pernah memerankan karakter yang setipe dalam Somewhere (2010). Namun kekuatan aktingnya (dan kecantikannya) mampu membuat karakter Alice menjadi karakter yang paling ditunggu-tunggu dalam setiap adegan. Sepertinya ini adalah peringatan bagi kakaknya Dakota, bahwa sang adik siap untuk menggeser sang kakak sebagai aktris cilik berbakat.

Tapi film ini bukan tanpa cacat. Dalam beberapa adegan, J.J. Abrams mengesampingkan logika demi mempermudah alur cerita yang ada. Ada beberapa adegan yang jika diperhatikan lebih lanjut akan terasa aneh dan tidak habis pikir, walaupun adegan itu diperlukan bagaimana pun caranya untuk dapat menyambungkan jalan cerita. Hal-hal inilah yang menjustifikasi film ini menjadi sebuah film yang "Hollywood sekali", dan bisa dimaklumkan ketika kita melihat nama Steven Spielberg yang terpampang di posternya.
gambar diambil dari sini
Pada akhirnya, film ini adalah film yang sangat menghibur. Dengan jalan cerita yang sederhana dan sangat membumi, humor-humor ringan yang mengundang senyum serta tawa, emosi yang kuat dalam jalan cerita, serta akting yang meyakinkan, film ini akan membuat penontonnya dengan mudah jatuh cinta pada keseluruhan filmnya. Bagi para fans berat Steven Spielberg, film ini akan membawa anda bernostalgia dengan film-film klasik yang pernah disutradarai olehnya. Untuk memaksimalkan hiburan mata dan telinga, alangkah lebih baik jika film ini ditonton di bioskop dengan layar selebar mungkin dan sistem suara yang bagus.


Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 25 Oktober 2011 -

2 kritik:

  1. Mirip The Goonies juga neh film :)

    ReplyDelete
  2. Natural & Extraordinary menjadi satu di film ini. Great movies i ever watched !

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top