28 October 2011
0 kritik

Grave Encounters

Film-film horor yang menggunakan teknik "found-footage" memang selalu berhasil untuk menambah tingkat keseraman yang ada. Biasanya, teknik ini cukup berhasil untuk membuat penonton percaya bahwa hal-hal yang terekam pada kamera tersebut benar-benar (bisa) terjadi. Bagi pencinta film-film horor bergaya seperti ini tentunya tidak akan lupa dengan fenomena The Blair Witch Project (1999) yang langsung mengubah wajah dunia perfilman horor dan menginspirasi beberapa pembuat film horor. Kehadiran Paranormal Activity (2007) pun menjustifikasi film horor dengan gaya "found-footage" berhasil membuat penonton merinding dengan hanya memperlihatkan pintu yang tiba-tiba tertutup. Berhubung film-film horor yang disebutkan diatas datang dari sutradara pendatang baru, ada satu persembahan film asal Kanada yang juga merupakan debut bagi sutradara The Vicious Brothers, Grave Encounters.

Film ini menggunakan format sebuah acara reality show yang ingin mengungkap tempat-tempat berhantu. Dipandu oleh Lance Preston yang antusias, tim Grave Encounters pada episode keenam ini ingin mencari bukti kehadiran arwah-arwah di sebuah rumah sakit jiwa yang telah lama ditinggalkan. Atas nama otentisitas reality show, mereka mengunci diri mereka sendiri dan menginap semalaman di rumah sakit jiwa tersebut. Lambat laun, mereka yang tadinya skeptis akan kehadiran makhluk-makhluk halus mulai menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Diteror selama berjam-jam di dalam rumah sakit jiwa yang besar dengan lorong-lorong yang membingungkan, mereka mempertanyakan kewarasan mereka dan secara sadar mereka merekam episode terakhir dari acara mereka.

Konsep baru acara reality show "pemburu hantu" yang berakhir buruk dan tidak terduga ini terbilang cukup menarik dan menjanjikan sebagai premis utama. Apalagi ditambah detil-detil betapa skeptisnya mereka terhadap kehadiran dunia lain dan bagaimana mereka memanipulasi barang-barang yang melayang dengan sendirinya di acara "reality show" mereka. Setengah awal dari film ini sangat menjanjikan dan memiliki modal yang baik untuk menakuti penonton. Dengan beberapa wawancara pada orang-orang yang mengenal dengan baik gedung rumah sakit jiwa ini, ditambah dengan sedikit penampakan dari alat-alat canggih mereka. Namun sayang, semua potensi besar tersebut harus dieksekusi dengan cara yang murahan di setengah terakhir film. Penampakan yang terlalu vulgar dan penggunaan efek CGI yang berlebihan. The Vicious Brothers terlihat kedodoran dan terlalu memaksa untuk menakuti penonton dengan cara apapun.

Premis yang cukup orisinil ini sayang sekali ditambah dengan surprise effect yang tidak orisinil. Beberapa adegan akan mengingatkan penonton pada film-film seperti Paranormal Activity (2007), [Rec] (2007), The Blair Witch Project (1999) dan beberapa film horor fenomenal lainnya. Hampir semua adegan kejutannya cukup mudah untuk ditebak dan diantisipasi. Malah ada beberapa adegan yang tampaknya The Vicious Brothers sadar bahwa elemen kejutan ini telah diantisipasi, tetapi mereka malah menggunakan efek CGI untuk membuat yang tertebak itu menjadi tidak tertebak. Tetapi entah kenapa kombinasi antara efek CGI dengan teknik "found-footage" dengan gaya dokumenter tidak terlalu cocok satu sama lain.
gambar diambil dari sini
Sebenarnya setting rumah sakit jiwa dengan lorong-lorong yang menyesatkan dan kamar-kamar pasien menjadi modal yang sangat bagus untuk menakuti penonton. Apalagi dengan gaya kamera yang menginvestigasi setiap sudut rumah sakit jiwa yang gelap itu, dengan kamera night vision. Ketegangan penonton pun dibuat naik perlahan-lahan ketika salah satu kamera menyorot setiap bekas kamar pasien yang ada. Belum lagi dengan kamera-kamera statis yang dipasang di berbagai "hotspot" yang siap merekam berbagai anomali yang muncul.

Yang membuat gue tertarik untuk nonton film ini hanyalah harapan akan satu lagi film horor "found-footage" yang datang dari pembuat film pendatang baru. Namun sayang, The Vicious Brothers menyia-nyiakan berbagai potensi yang dimilikinya dengan surprise effect yang terlalu berlebihan. Atmosfer seram yang telah dibangun dengan baik di awal film diabaikan oleh berbagai penampakan yang vulgar di akhir film. Meskipun memang beberapa adegannya cukup memorable. Bagi yang penasaran dengan premis ini, apalagi dengan setting rumah sakit jiwa yang ditinggalkan, film ini tetap patut untuk dicicipi.



Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 27 Oktober 2011 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top