31 October 2011
0 kritik

The Perfect House

Film thriller psikologis memang bukan barang baru di dunia perfilman. Tetapi menjadi sesuatu yang baru jika kita persempit konteksnya menjadi perfilman Indonesia. Mungkin penonton masih ingat dengan Fiksi atau Pintu Terlarang yang sibuk membuat penonton memutar otak selama menonton film tersebut. Kini, sutradara yang biasa mengarahkan film romantis, Affandi Abdul Rachman kembali pada genre thriller yang pernah dibesutnya pertama kali, Pencarian Terakhir. Menggandeng Cathy Sharon dan Bella Esperance, serta aktor cilik pendatang baru Endy Arfian, Affandi memberi warna segar ke perfilman Indonesia dengan film terbarunya, The Perfect House.

Julie (Cathy Sharon) terpaksa harus meninggalkan rencana cuti yang telah disusunnya, untuk menjadi guru privat untuk mengajar di sebuah rumah. Karena lokasi rumah di Puncak dan cukup terpencil, Julie harus menginap untuk dapat mengajar Januar (Endy Arfian) setiap harinya. Cukup sulit bagi Julie untuk beradaptasi dengan tempat tinggal sementaranya, lantara nenek dari Januar sekaligus nyonya rumah, Madam Rita (Bella Esperance) kelewat disiplin dan tegas dalam mengatur apa saja yang berada di dalam rumah. Belum lagi ditambah dengan tukang kebun aneh dan mencurigakan, Yadi (Mike Lucock). Perkenalan dengan Januar lebih dekat, membuat Julie semakin dekat dengan misteri-misteri aneh yang ada dalam rumah tersebut.

Benar saja, genre film ini sangat membawa angin segar di perfilman Indonesia yang masih saja dipenuhi oleh film-film pocong-pocongan, film romantis, sampai film religi yang tidak ada habisnya. Dengan premis yang cukup orisinil (di belantika perfilman Indonesia), penyuguhan misteri yang menarik, akting yang meyakinkan dari semua pemerannya, sampai pada ending yang bisa membuat anda menjerit!

Seorang nyonya rumah yang konservatif dan bergaya bicara kaku, dan tinggal di sebuah rumah jaman jadul mungkin mengingatkan sebagian penonton pada Rumah Dara (2010). Karakter Julie sebagai karakter protagonis dan datang ke rumah Madam Rita, sekali lagi mengingatkan sebagian penonton pada karakter Ladya dalam Rumah Dara (2010). Sebuah hal yang menarik, dimana karakter Julie dan Ladya diperankan oleh kakak-beradik; Cathy Sharon dan Julie Estelle. Ya mungkin Cathy tidak mau kalah dengan adiknya yang sudah lebih dulu main dalam film bergenre thriller. Tapi memang secara mengejutkan, akting Cathy sangat meyakinkan. Setengah pertama dari film, penonton bisa melihat penampilan Cathy yang hangat dan ramah, yang menggambarkan bahwa karakter Julie terlahir sebagai seorang guru. Sedangkan setengah terakhir film, Cathy bisa menampilkan karakter yang penasaran plus kengerian yang sangat ketika nyawanya berada di ujung tanduk.
gambar diambil dari sini
Special mention untuk aktris senior Bella Esperance, yang berhasil membuat gue ingin cepat-cepat membacok karakter Madam Rita. Dingin, kaku, serta manic-depressive dibawakan dengan sempurna oleh tante Bella. Menurut pengamatan gue, sebenarnya karakter Madam Rita ini memiliki gejala obsessive-compulsive disorder, yang dengan sayangnya tidak digali lebih jauh lagi dalam cerita film. Mike Lucock memang seakan makan gaji buta ketika karakternya hampir tidak memiliki dialog. Namun justru minim dialog dan wajah yang dibuat jelek itu yang membuat karakter Yadi menjadi lebih hidup dan menyeramkan - apalagi dia hampir selalu membawa pacul dan golok kemana-mana. Oya, dengan menjamurnya film keluarga dengan sederetan aktor-aktris cilik pendatang baru, maka jangan lupakan nama Endy Arfian. Akting pertamanya di layar lebar mungkin memang bukan dalam film tentang sepak bola atau bulu tangkis, melainkan film yang berdarah-darah! Penampilan Endy pun berhasil menyeret emosi penonton, mulai dari emosi positif sampai dengan emosi negatif.

Satu pujian lagi untuk penata artistiknya. Siapapun dia, berhasil membuat suasana dan tampak dalam serta rumah Madam Rita menjadi terkesan oldies. Konsep ini memang tepat disandingkan dengan karakter Madam Rita yang bersuamikan orang Belanda yang sudah meninggal. Suasana klasik yang ada pun dipertegas dengan pilihan tone warna film yang suram dan kelam. Pada adegan siang hari pun, atmosfer rumah itu pun membuat penonton merasakan keanehan dan keganjilan yang melingkupi rumah tersebut.
gambar diambil dari sini
Penulisan naskah dalam film ini terbilang cukup menarik. Penyuguhan misteri yang ada cukup pas waktu dan tempatnya. Malah di beberapa adegan, penonton sengaja digiring untuk mempercayai kesimpulan yang satu dari yang lain. Bagi penonton yang belum terbiasa dengan genre psychological thriller, mungkin tidak akan menyangka dengan ending yang diberikan oleh film ini. Namun bagi penonton yang berpengalaman, tidak heran jika mereka sudah bisa menebak di pertengahan film. Apalagi setelah adegan klimaks, penonton yang berpengalaman ini akan dengan mudah teringat pada film-film thriller lain yang memiliki detil yang mirip.

Sayang seribu sayang, Affandi terlihat setengah-setengah untuk mengeksekusi adegan-adegan "berdarah" yang ada dalam film ini. Alih-alih menggunakan efek praktikal, Affandi lebih memilih menggunakan efek visual. Bagus kalau efek visualnya meyakinkan, nah yang ini malah membuat gue tertawa. Mungkin Affandi harus belajar banyak dari The Mo Brothers?

Sayangnya lagi, film yang menjadi angin segar ini hanya diputar secara terbatas. Kalau gue perhatikan, film ini hanya diputar di bioskop-bioskop "kelas dua" saja. Ada apa dengan bioskop Indonesia? Ketika ada film lokal yang benar-benar menjanjikan, mengapa jadi di-anaktiri-kan? Menurut gue, strategi pemutaran film lokal yang bagus ini malah akan menenggelamkan deretan film-film lokal berkualitas, dan semakin melanggengkan film-film lokal kelas A (Ancur). Bagi yang ketinggalan film ini, jangan khawatir! Indonesia International Fantastic Film Festival (iNAFFF) memasukkan film ini sebagai salah satu line-up festival untuk tahun ini. Klik disini untuk tautannya.


Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 31 Oktober 2011 -

BONUS:
Perhatikan poster film ini sekali lagi. Ingat dengan ambigram? (baca artikel wikipedia tentang ambigram disini). Dan Brown mempopulerkan seni penulisan ini dalam novelnya Angels & Demons. Sekarang coba balik poster film tersebut, akankah terbaca kalimat "The Perfect House" yang sama?
Poster alternatif yang ini mungkin akan memperjelas ambigram tersebut.
gambar diambil dari sini




















Ide ambigram ini memang menarik, sekaligus menggambarkan cerita dalam film ini. Namun sayang, konsep poster alternatif yang ini cukup mirip dengan poster The Princess Bride (1987). Lihat posternya disini. Gue tidak ingin berspekulasi apa-apa, yang jelas poster film karya Affandi ini memiliki ciri khasnya sendiri, plus ditopang dengan kualitas filmnya yang baik.

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top