04 June 2011
4 kritik

X-Men: First Class

5:14 AM
Dari lahir sampai beranjak dewasa, manusia selalu membutuhkan penerimaan akan eksistensi dirinya. Seorang anak yang diterima apa adanya oleh orangtuanya, kemudian diterima oleh teman-teman sekolahnya, sampai pada akhirnya diterima oleh masyarakat luas sebagai bagian dari peradaban sosial. Biasanya sebuah penerimaan berdasarkan pada sebuah kesamaan; kesamaan fisik, kesamaan budaya, kesamaan pola pikir, dan lain sebagainya. Namun sampai sejauh mana kesamaan tersebut dapat menghasilkan sebuah penerimaan dari masyarakat sekitar? Fisik, psikologis, pola pikir, atau malah genetik? Apakah penerimaan berdasarkan kesamaan (atau perbedaan) hanya sebatas pada hal-hal tersebut saja? Film X-Men: First Class mencoba menggali lebih dalam mengenai penerimaan diri di antara peradaban sosial di era modern.

Charles Xavier (James McAvoy) menemukan bahwa dirinya bukanlah satu-satunya mutan yang ada di dunia. Bersama Raven (Jennifer Lawrence) yang memiliki "kelainan fisik", Charles mencoba meneliti tentang mutasi genetik dan mencari mutan-mutan lainnya setelah dirinya mendapatkan gelar profesor di universitas Oxford. Penelitian dan pencarian Charles terhadap mutasi genetik membawa seorang agen CIA, Moira (Rose Byrne) yang meminta bantuan Charles untuk menghadapi mutan-mutan jahat yang memiliki misi rahasia di tengah Perang Dingin. Perjalanan mereka pun membawa Charles menemui Erik Lehnserr (Michael Fassbender), seorang bekas tahanan kamp konsentrasi Nazi di Polandia yang selamat namun memiliki dendam kesumat terhadap salah seorang jendral Nazi. Bekerja sama dan membentuk sebuah tim berisi para mutan, Charles dan Erik pun mencoba menghentikan krisis nuklir Kuba antara AS dengan Soviet, yang ternyata ditumpangi oleh sekelompok mutan yang memiliki misi gelap.

Disaat manusia belum menyadari akan keberadan makhluk mutasi diantara mereka, para mutan ini dengan caranya masing-masing berusaha keras untuk dapat diterima di tengah masyarakat dengan tampil "normal". Mereka yang memiliki kesamaan fisik dengan manusia biasa memang tidak memiliki masalah yang berarti, namun bagaimana dengan para mutan yang memiliki fisik yang tidak biasa dengan manusia lain? Kelompok yang terakhir ini sikapnya lebih pasif, yaitu dengan bersembunyi atau bahkan mencoba mencari cara untuk "menyembuhkan kelainannya". Sementara kelompok yang pertama yang tidak teralihkan oleh masalah fisiknya, ada yang cenderung ingin mendalami lebih lanjut dan ada yang ingin menyalahgunakan kekuataan super yang dimilikinya. Hal-hal inilah yang diangkat secara brilian dalam sebuah film drama-aksi yang jenius oleh sutradara berbakat Matthew Vaughn (Kick-Ass, Stardust, Snatch, Layer Cake).

Film prekuel dari trilogi X-Men ini tidak sepenuhnya terbilang konsisten dalam menyambungkan dengan ketiga pendahulunya, apalagi setia terhadap cerita dalam komiknya. Tidak heran banyak fans berat trilogi maupun komiknya yang menaruh ketidaksukaan yang berlebih pada cerita yang ditulis oleh duet ganda Ashley Miller - Zack Stentz (duet penulis Thor) dan Jane Goldman - Matthew Vaughn (duet penulis Stardust dan Kick-Ass).   Namun bagi kelompok penonton yang kurang familiar dengan trilogi maupun komik-komiknya, film ini benar-benar memuaskan. Tidak hanya memanjakan mata dengan sederetan aksi menarik dari para mutan yang memiliki variasi kekuatan super yang membuat decak kagum, Vaughn dengan cerdas menanamkan kondisi psikologis dan latar belakang pemikiran serta cara pandang setiap mutan ini terhadap dunia.
gambar diambil dari sini
Seperti yang pernah dilakukannya dalam Kick-Ass dengan mempermainkan pemikiran "semua orang bisa jadi pahlawan super", Vaughn melakukannya kembali namun lebih tajam kepada betapa para mutan yang berbeda dari manusia biasa ini ingin diterima layaknya manusia biasa. Profesor Charles Xavier menyikapinya dengan cara akademis, mempelajari tentang mutasi genetik sebagai jembatan untuk mengenalkan konsep tersebut kepada manusia sehingga mereka bisa menerima keberadaan para mutan ini. Erik Lehnserr menyikapinya dengan cara yang tidak manusiawi, dengan menyalahgunakan kekuatannya. Hebatnya, kematangan naskah dan akting dari Fassbender membuat penonton sulit untuk tidak menaruh rasa simpati pada karakter Erik melihat latar belakang kelam yang dialami oleh Erik dan melihat sekejam apa orang yang bertanggung jawab atas masa lalunya. Mengenai penerimaan ditengah masyarakat, karakter Raven - yang akan menjadi Mystique - lah yang cukup signifikan dalam merepresentasikan betapa tertekannya seseorang yang memiliki fisik yang berbeda dari orang kebanyakan. Sekali lagi, penonton dibuat menaruh simpati sedalam-dalamnya berkat kematangan akting dari Jennifer Lawrence, yang pernah masuk nominasi Aktris Utama Terbaik dalam Oscar tahun lalu untuk perannya di Winter's Bone (2010).

Kelihatannya aneh, menaruh simpati pada karakter-karakter yang jelas akan menjadi tokoh antagonis di kedepannya nanti. Namun toh ini bukan film pertama yang menampilkan fenomena seperti ini. Star Wars episode I, II, dan III cukup berhasil menangkap gradasi perubahan dari Anakin Skywalker menjadi Darth Vader, walaupun dengan akting minimalis dari Hayden Christensen. X2 (2003) juga membuat penonton sibuk memindah-mindahkan label "protagonis-antagonis" antara Profesor X, Magneto, dan Kolonel Stryker. Watchmen malah lebih kurang ajar lagi untuk memaksa penonton sulit untuk menentukan pihak mana yang harus dipegang. Tapi memang bukan masalah keberpihakan yang ingin diangkat oleh seorang Matthew Vaughn, sama seperti bagaimana ia mengangkat tema bahwa bukanlah kekuatan super yang menentukan seseorang menjadi pahlawan dalam Kick-Ass (2010).
gambar diambil dari sini
Dalam film ini Matthew Vaughn ini mengangkat bagaimana hasrat terdalam seorang manusia, dengan atau tanpa mutasi genetik, ingin diterima oleh peradaban sosial. Hal ini dipertegas dengan cara pandang Profesor Charles dan Erik yang lama kemudian semakin berseberangan. Di tengah krisis Kuba yang memaksa para mutan ini untuk turun tangan dan membuka identitas mereka sebagai konsekuensinya. Mengetahui bagaimana tabiat manusia ketika menemukan perbedaan - apalagi perbedaan yang lebih kuat - Profesor Charles masih memiliki optimisme tinggi bahwa suatu saat kaum mutan akan diterima di tengah masyarakat. Sayang bagi Erik dengan masa lalu yang kelam terlanjur memiliki pola pikir bahwa jika dunia tidak menerima dirinya, maka dirinya juga tidak akan menerima dunia. Cara pandang Charles dan Erik ini memang telah dibuka lebar-lebar lewat ketiga instalasi pendahulunya. Namun dalam cerita prekuel yang bisa dianggap sebagai reboot dari franchise X-Men ini, penonton diajak untuk mendalami lebih jauh apa yang menjadikan Charles Xavier menjadi Professor X dan Erik Lehnserr menjadi Magneto.

Kedalaman dan ketepatan psikologis untuk menggali setiap karakter sedalam mungkin menjadi kekuatan utama pada film ini untuk konsisten membawa tema besarnya sepanjang film yang berdurasi 132 menit ini. Didukung oleh naskah yang benar-benar baik, deretan aktor-aktris yang berbakat pun menambah kesempurnaan film ini. Sangat mudah untuk mengagumi sosok muda Professor X yang dibawakan secara berkelas oleh James McAvoy. Dengan aksen Inggrisnya yang kental, McAvoy tampil begitu natural dan meyakinkan penonton bahwa karakter yang diperankannya adalah seseorang yang tidak hanya cerdas secara akademis tapi juga memiliki kharisma yang kuat. Michael Fassbender juga sukses menarik empati penonton lewat kerapuhan karakter Erik Lehnserr karena masa lalunya yang pahit. Para penonton wanita pasti akan dibuat terpesona dengan tidak hanya ganteng dan bisa bicara bahasa Perancis, Jerman, dan Spanyol, tapi juga karakter Erik yang tipikal bad boy. Kalau ada yang mencuri perhatian kaum Adam, pastilah Jennifer Lawrence yang memerankan Raven. Bermodal akting briliannya di Winter's Bone (2010), Lawrence benar-benar memikat penonton (pria) dengan kecantikan serta kerapuhan karakternya yang ingin sekali diterima oleh masyarakat. Dengan wajah polosnya, Lawrence berhasil membuat penonton pria merasa ingin menerima dia apa adanya walaupun dia "berbeda".
gambar diambil dari sini
Dengan proporsi drama psikologis yang kuat dan tajam mendominasi film ini, sehebat apapun efek visualnya tidak mempengaruhi para penonton yang sudah terlanjur jatuh cinta pada beberapa karakter dalam film ini. Adegan-adegan aksi dan pamer kekuatan mutan yang menjadi ciri khas dari film-film X-Men sebelumnya pun tampak hanya menjadi bonus belaka, dan bonus tersebut dieksekusi secara brilian. Rasanya tidak berlebihan jika menyebut bahwa film ini adalah instalasi terbaik dalam franchise X-Men, karena film ini tidak hanya berbicara mengenai mutasi genetik tetapi juga menyikapi perbedaan yang ada di tengah-tengah peradaban dunia. Jika kesamaan dan perbedaan dijadikan kambing hitam atas penerimaan eksistensi suatu pihak, maka tidak ada standar pasti yang dapat mengukur persamaan dan perbedaan tersebut kecuali satu hal; akal budi.



Rating?
9 dari 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Juni 2011 -


BONUS: Poster-poster alternatif buatan fans
By: Josh Siegel
By: Josh Siegel
By: Jeffrey Zhang
By: Jeffrey Zhang
By: Berry Villegas
By: Caros Milagres
By: Michael Dee
By: Gruffydd Ywain

4 kritik:

  1. Wow! 9/10? Mupeng banget :))

    ReplyDelete
  2. siap-siap nntn ini ah :) nice blog btw, boleh share link? link Sobekan Tiket Bioskop sudah saya pajang di blog saya :) mampir ya :)

    ReplyDelete
  3. Sudah nonton 2 kali emang film ini imrovement banget. Tapi yang kurang, film ini kurang funnya, seperti yang di bawa Matthew Vaugh di Kick-Ass. Film ini terlalu serius menghubungkan ceritanya dengan peristiwa Cuban Missile War.

    Walau Fassbender stand out di sini, Si McAvoy juga handal. Apalagi momen akhirnya di beach. Terharu ngeliatnya.

    Charles dan Erik: Bromance, oh Bromance :)

    ReplyDelete
  4. My favorite X-Men movie! Ah, McBender! <3
    Jadi pengen nonton lagi deh >.<

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top