02 June 2011
One kritik

Kung Fu Panda 2

6:34 AM
Bagaimana cara mencari kedamaian terdalam, atau inner peace? Apakah dengan berdamai dengan diri sendiri? Atau lebih jauh lagi, berdamai dengan masa lalu yang pahit? Film dari rumah produksi Dreamworks yang merupakan sekuel dari film pertamanya yang dirilis tahun 2008 kemarin, Kung Fu Panda 2, mencoba bercerita mengenai ide dasar inner peace tersebut di negeri Cina yang identik dengan kungfu.

Setelah dinobatkan menjadi The Dragon Warrior, Po si panda tukang makan namun jago kungfu kembali dihadapkan oleh persoalan yang mengganggu kedamaian desa sekitar. Bersama The Furious Five (Tigress, Monkey, Mantis, Viper, Crane), Po mencoba melawan musuh dari masa lalu dengan senjata rahasia yang mematikan.

Film sekuel ini hadir dengan sederetan film-film sekuel lainnya yang akan menghiasi layar bioskop selama musim panas tahun ini. Setelah kesuksesan pendahulunya, Kung Fu Panda (2008) yang menghasilkan nominasi Oscar untuk kategori Best Animated Feature of the Year, Dreamworks kembali menghadirkan kisah panda obesitas ini ke dalam layar lebar dengan kisah petualangan baru dan lebih berbahaya. Kalau dalam film pendahulunya, Po harus belajar kungfu sesuai dengan apa yang ada pada ramalan, maka kali ini Po harus berdamai dengan dirinya sendiri untuk memenuhi takdirnya sebagai The Dragon Warrior.

Film pendahulunya terbilang cukup orisinil dengan mencampurkan tema cerita kungfu di negeri Cina dengan dongeng fabel, apalagi dengan jagoan yang tidak terlihat seperti layaknya jagoan sejati. Namun ide orisinil tersebut tidak menjadi baru dan segar ketika dilanjutkan dalam cerita sekuelnya. Kisah petualangan yang ada pun terbilang cukup lurus dan tipikal film aksi. Tidak hanya akhir cerita, namun dinamika jalan cerita pun cukup mudah ditebak dengan formula pastinya. Namun setiap adegan aksi yang ada, ditambah dengan selipan humornya, cukup menghibur dan mengundang tawa. Apalagi dengan gambar visual yang benar-benar memanjakan mata.
gambar diambil dari sini
Walaupun kisah panda gendut ini ditulis oleh penulis naskah yang juga menulis film pendahulunya (Jonathan Aibel dan Glenn Berger), tetapi kali ini kursi sutradara diduduki oleh Jennifer Yuh yang baru kali ini menyutradarai film layar lebar. Dari perkembangan jalan cerita yang sangat mudah untuk diikuti, film ini tetap mempertahankan ciri khasnya dengan menyelipkan dialog-dialog yang filosofis dan bermakna dalam. Dialog filosofis fenomenal dari film pendahulunya (the past is history, the future is mystery, today is a gift - that's why its called "present") kembali muncul dalam film ini dengan bentuk yang berbeda. Selain filosofis, dialog-dialog yang ada juga menjadi kekuatan utama untuk menjadi humor dalam film ini. Humor dalam film ini memang tidak hanya berdasar pada dialog, tapi juga mampu menghibur anak kecil dengan humor slapstick yang ada. Selain itu, adegan yang ada di layar walaupun tanpa dialog sekalipun ternyata bisa mengundang tawa, apalagi pada adegan yang merupakan homage/parodi dari game Snake yang terkenal di HP Nokia itu.

Terlepas dari humornya yang mengocok perut, film ini terasa terlalu terburu-buru dalam bercerita sampai menyelesaikan masalah. Sepanjang film, penonton seakan diajak untuk ikut berlari bersama para jagoan kungfu ini dalam mengejar si tokoh antagonis, dan praktis tidak diberikan waktu istirahat untuk sekedar bernafas sampai tiga perempat film. Adegan "waktu istirahat" tersebut memang terbilang cukup memorable dengan visualisasi yang menarik dan mengagumkan, namun setelah itu pun tempo film kembali menjadi cepat sampai klimaks. Kecepatan tempo yang secepat gerakan kungfu Tigress dan kawan-kawan ini memang banyak dihiasi oleh adegan-adegan pertarungan kungfu menarik dan luar biasa secara visual. Namun tempo yang cepat ini membuat penonton kurang bisa menikmati dan menyerap jalan cerita yang disajikan di layar. Sayang pula ketika visual animasi yang luar biasa itu menjadi sekedar hanya lewat saja.
gambar diambil dari sini
Film animasi yang satu ini tidak hanya menarik dari segi cerita dan animasi saja, namun juga sangat menarik jika melihat barisan pengisi suaranya. Para pengisi suara dari film pendahulunya bersedia untuk kembali mengisi suara Po dan kawan-kawan; seperti Angelina Jolie (Tigress), Jackie Chan (Monkey), Seth Rogen (Mantis), Lucy Liu (Viper), David Cross (Crane), dan Dustin Hoffman (Master Shifu). Namun bersiaplah untuk terkagum-kagum dan menebak mana suara dari Gary OldmanMichelle Yeoh, Danny McBride, dan aktor laga Jean-Claude Van Damme yang mengisi suara beberapa karakter baru dalam film ini. Benar-benar barisan pengisi suara yang penuh dengan bintang-bintang kelas atas, bukan? Tampaknya ini senada dengan tagline dari film ini; prepare for the year of awesomeness!



Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Juni 2011 -

1 kritik:

  1. sebenarnya pingin nonton filmnya tapi gak ditayangin di bioskop jadinya beli dvd-nya deh

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top