Waiting for Bojangles - Europe on Screen Review


Setelah dua tahun pandemi, akhirnya festival film favorit gue Europe on Screen mengadakan offline screening lagi. Tapi berhubung gue udah berdomisili di suburb Tangerang, jadi effort lebih ya buat ke Jakarta. Jadinya jauh lebih selektif milih film. Pilihan jatuh ke Waiting for Bojangles karena ini adalah personal favourite dari salah satu festival director-nya sendiri. Berhubung gue sangat percaya dengan pilihan mas Nauval, langsung deh niatin ke Jakarta demi nonton ini secara legal dan di layar besar.

Ya Allah ya Tuhanku, bangsat banget film ini ampun deh. Setengah film pertama kita dibawa ketawa ngakak, setengah terakhir dikasih kenyataan dan kepahitan hidup, dan ditutup dengan ending yang gong banget sampe dada gue sesek. Mana scoringnya juga kacau banget pedihnya aduh ampun. Waiting for Bojangles itu pengalaman nonton yang luar biasa banget sih. Feelnya kaya nonton Life is Beautiful (1997) dengan nuansa modern, meski roh filmnya bergerak di ranah yang berbeda.


Sinopsis sedikit, film ini tentang pasangan suami istri yang nyentrik banget dan anak laki-lakinya jadi kebawa deh. Setiap malam mereka berdua ngadain pesta dan berdansa semalaman, anti keteraturan dengan nggak mau bayar pajak dan nggak mau nyekolahin anaknya. Jadi ya menghabiskan hidup dengan senang-senang aja tiap hari. Kalau ada hal ga enak, tinggal gimana caranya biar bisa dancing in the rain. Semua itu terlihat menyenangkan, dan terbukti dengan senyum dan tawa dari mereka bertiga setiap hari. Kalau ada kepahitan, tinggal tutupin pakai cerita imajinasi dan fantasi biar bisa tersenyum lagi. 

Buat gue pribadi yang udah kena tampar oleh kenyataan hidup, nonton ini tuh awalnya kaya sinis gitu loh. Di setengah awal film yang masih hepi-hepi, di dalam hati gue yang berkali-kali ngebatin "mau sampai kapan lo kaya gini terus". Ternyata kata-kata gue terwakilkan oleh karakter orang pajak yang bilang "lo nggak bisa selamanya kaya gini". Bener kan kejadian juga, ketika mereka ngalamin kenyataan pahit. Sempet jatuh terseok-seok pula, tapi pada akhirnya mereka bisa juga bangkit dengan caranya sendiri.


Waiting for Bojangles beneran bikin gue mikir sih, jadi gimana dong mesti menyikapi hidup? Serius aja gitu ga perlu aneh-aneh, tapi jadi nggak bisa nikmatin? Atau denial aja terus-terusan dengan party tiap malem? Tapi sekalinya kena hal pahit jatuh tersungkur. Ya balik lagi bener bang Iwan yak, bawain lagu dangdut Yang Sedang Sedang Saja. Ngejalanin hidup ya serius, tapi jangan lupa seneng-seneng juga. Justru malah gue bisa belajar dari mereka bertiga adalah gimana caranya "dancing in the rain", alias cara tersenyum di kala susah. 






- ditonton di Europe on Screen 2022 -
----------------------------------------------------------
review film waiting for bojangles
review waiting for bojangles
waiting for bojangles movie review
waiting for bojangles film review
resensi film waiting for bojangles
resensi waiting for bojangles
ulasan waiting for bojangles
ulasan film waiting for bojangles
sinopsis film waiting for bojangles
sinopsis waiting for bojangles
cerita waiting for bojangles
jalan cerita waiting for bojangles

Komentar