03 September 2016
0 kritik

Me Before You

"Drama romansa dengan chemistry yang kuat, namun kurang sensitif dengan isu yang dibawakan"

Lou Clark tahu bahwa ia menyukai bekerja di sebuah kedai teh dan tahu bahwa mungkin saja ia tidak mencintai pacarnya. Apa yang Lou tidak tahu adalah ia akan kehilangan pekerjaannya, dan pekerjaan baru apa yang akan menantinya. Sedangkan Will Traynor tahu bahwa kecelakaan motornya menyingkirkan keinginannya untuk hidup, dan ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan kehidupannya yang berubah. Apa yang Will tidak tahu adalah bagaimana Lou akan masuk ke dalam hidupnya dengan penuh warna. Dan keduanya tidak tahu bahwa mereka akan saling mengubah satu sama lain.

Premis cerita Me Before You memang sering dapat kita temui di sinetron layar kaca tanah air. Seorang pria kaya - dan tuna daksa - bertemu dengan seorang gadis dari dari ekonomi menengah ke bawah, untuk kemudian saling jatuh cinta. Namun dengan takaran drama, romansa, dan penggunaan lagu yang pas, film ini jelas berkali-kali lipat jauh lebih baik.


Setiap karakternya tidak hanya memiliki chemistry yang baik antara satu dengan yang lain, tetapi juga kepada para penontonnya. Karakter Lou yang periang - dan selera berpakaiannya yang nyentrik - jelas akan mudah mengambil hati siapapun. Karakter Will yang dingin namun ternyata kharismatik juga menjadi tampak hangat di layar. Interaksi di antara mereka berdua pun menjadi sangat menarik, dan dekat di hati.


Layaknya film-film romantis lainnya, Me Before You juga dibekali dengan pemandangan yang indah. Kastil Pembroke di Wales yang menjadi lokasi utama film ini menjadi latar belakang yang memukau mata. Belum lagi dengan cuara cerah Inggris Raya yang menyejukkan hati. Hal lain terkait visual yang indah dalam film ini adalah sinematografi yang menarik. Adegan favorit gue jelas ketika mereka berdansa di atas kursi roda Will di sebuah pesta pernikahan, yang bisa dilihat dalam trailer film ini.

Sulit untuk tidak membandingkan Me Before You dengan The Theory of Everything yang rilis dua tahun lebih dulu dengan premis yang mirip, apalagi keduanya sama-sama berpijak dalam genre romansa. Jelas kisah Will Traynor masih kalah dibandingkan biografi Stephen Hawking yang penuh dengan hal filosofi itu. Belum lagi dengan penampilan akting Eddie Redmayne yang sulit untuk ditandingi. Namun Me Before You yang berkualitas medioker, berhasil menjadi film yang berdiri sendiri dan setidaknya mampu menghangatkan hati. Yup, sayangnya jalan cerita yang dipilih cukup sensitif bagi orang-orang disabilitas dan keluarganya.



UK / USA | Romance | 110 mins | Scope Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 3 September 2016 -



----------------------------------------------------------
Search  Keywords:

  • review film me before you
  • review me before you
  • me before you review
  • resensi film me before you
  • resensi me before you
  • ulasan me before you
  • ulasan film me before you
  • sinopsis film me before you
  • sinopsis me before you
  • cerita me before you
  • jalan cerita me before you

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top