23 August 2014
0 kritik

Lucy

"
"Terlalu ambisius tentang kemampuan otak mencapai 100%, film ini terjebak dalam keharusannya menampilkan adegan aksi"

Seharusnya Lucy hanya bertugas mengantarkan koper misterius kepada Mr. Jang. Tetapi ia malah ditangkap dan dijadikan kurir untuk mengirimkan obat sintetis ke empat kota di Eropa. Ketika obat sintetis yang ditanam di dalam perutnya bocor, efek obat tersebut ternyata meningkatkan kemampuan otak Lucy hingga 100%. Dengan kekuatan super berkat tingginya kemampuan otak, ia tidak hanya memburu para penculiknya, tetapi juga berkonsultasi pada Professor Nurman yang ahli di bidang neurologi.

Kehadiran Lucy menambah daftar film-film yang menggunakan ide (mitos) kapasitas otak 100%, setelah yang terbaru sebelum ini adalah Limitless (2011) dengan Bradley Cooper sebagai pemeran utamanya. Namun, ketika Eddie Mora memanfaatkan kapasitas otaknya untuk kepentingan ekonomi, Lucy mengejar sesuatu yang lebih filosofis dan eksistensialis. Namun sutradara dan penulis naskah asal Perancis, Luc Besson, membungkus film ini dengan nuansa aksi lewat adu tembak hingga kejar-kejaran mobil.



Oya, Lucy juga menambah panjang daftar film female heroine yang dibuat oleh Luc Besson; Nikita, Leon, Adele Blanc-Sec, hingga tokoh nyata Aung Suu Kyi. Ciri khas kuatnya karakter wanita dalam setiap filmnya juga tampak dalam film Lucy. Scarlett Johansson lagi-lagi tampil dengan meyakinkan untuk membawakan karakter wanita yang memiliki kekuatan super dan mengalami perkembangan otak yang signifikan setiap detiknya.

Ide dasar Luc Besson yang konon telah muncul sejak 10 tahun lalu memang berangkat dari mitos "kita hanya menggunakan otak kita 10%". Tentu sebuah mitos yang salah karena telah dibuktikan oleh ranah ilmiah. Namun ide ini ternyata masih menarik untuk dijadikan sebuah film sains fiksi, apalagi dibungkus dengan nuansa action. Luc Besson memang bisa bebas berimajinasi mengenai apa yang akan terjadi jika manusia mencapai kemampuan otak sejauh 100%. Namun sayang, imajinasi tersebut malah menjadikan film Lucy seakan berdiri diantara dua genre dan seakan kebingungan untuk fokus ke ranah yang mana; sci-fi drama atau action.


Sebenarnya, potensi sci-fi drama yang ada dalam Lucy cukup besar untuk dieksplorasi lebih jauh, bahkan hingga ke ranah filosofis. Ketika kemampuan otak mencapai 100% tentunya banyak hal yang dapat dilakukan, termasuk aspek pemikiran yang menjadi lebih luas dan lebih dalam ketimbang pemikir cerdas dari abad Renaissance sekalipun. Namun eksplorasi ide tersebut harus berbagi porsi dengan deretan adegan aksi yang serasa dihadirkan untuk "mempopulerkan" film ini agar lebih dapat diterima oleh orang yang lebih banyak. Belum lagi dengan beberapa adegan aksi yang terasa jauh dari akal sehat, bahkan terkesan konyol, dengan kekuatan super yang dimiliki oleh Lucy.

Walaupun terkesan gagap dalam menyampaikan ide ceritanya, setidaknya film ini telah memberikan banyak ide baru mengenai kemanusiaan dan pengetahuan. Satu hal yang akan terus gue ingat adalah "gain and pass on the knowledge" sebagai sifat dasar sel. Selain itu, film ini tetap menghibur - baik oleh adegan aksinya maupun penampilan super dari ScarJo :D



France | 2014 | Action / Sci-Fi | 89 min | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tanggal 23 Agustus 2014 -

0 kritik:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top