17 August 2013
3 kritik

Elysium

"Film sci-fi laga yang asyik untuk ditonton ketika menemukan metafora isu perbedaan kelas sosial dalam alur ceritanya"


Sutradara dan penulis naskah Neill Blomkamp memiliki visi terhadap bumi satu setengah abad kemudian. Pada tahun 2154, seluruh negara di dunia menjadi negara dunia ketiga karena menipisnya sumber daya alam. Sementara 1% dari populasi manusia yang kaya raya meninggalkan bumi dan tinggal di stasiun luar angkasa yang mewah, Elysium. Ketika seantero planet bumi menjadi kawasan kumuh penuh dengan wabah penyakit dan dikuasai oleh totalitarian, penduduk Elysium dapat menikmati kecanggihan teknologi terutama teknologi medis. 


Suatu ketika, Max, seorang pekerja biasa yang juga seorang mantan narapidana, tidak memiliki pilihan selain ke Elysium untuk menyelamatkan nyawanya setelah dirinya tertimpa kecelakaan saat bekerja. Menerima bantuan dari seorang pimpinan pemberontak dan penyelundup, Max harus menjalani misi yang sangat berbahaya. Misi tersebut ternyata tidak hanya dapat menyelamatkan nyawanya, namun juga dapat membawa keserataan terhadap dua dunia.

Bagi anda yang telah menonton film District 9 (2009), atau bahkan menjadikannya film favorit, pasti cukup familiar dengan ide cerita yang diusung Neill Blomkamp dalam film panjang keduanya ini. Masih konsisten mengusung isu sosial dengan perbedaan kelas, dalam Elysium perbedaan kelas yang menjadi pondasi cerita berdasarkan pada bukan lagi faktor ras tetapi faktor ekonomi. Untuk kemudian isu perbedaan kelas tersebut mengerucut pada hak kesehatan, dimana di Elysium terdapat teknologi kesehatan canggih yang sangat diperlukan oleh orang-orang Bumi. Hal ini yang kemudian menjadi motivasi dasar karakter utama kita untuk bertindak; pergi ke Elysium untuk menyembuhkan dan menyelamatkan dirinya. Motivasi dasar itu pun terekstensi ketika mendapat kesempatan untuk membawa kesetaraan terhadap dua kelas sosial tersebut.


Elysium memang menyimpan banyak lapisan metafora yang menarik untuk dikupas, baik secara makro maupun mikro. Segregasi sosial secara finansial memang tampak jelas dari awal film, namun ada beberapa adegan yang seakan menyindir isu sosial lain yang banyak ditemui. Seperti bagaimana Max menerima perlakuan dari perusahaan ketika dia mengalami kecelakaan kerja, atau kondisi totalitarianisme pada kawasan kumuh. Jelas bahwa semua ini merupakan proyeksi dari Neill Blomkamp yang lahir di Afrika Selatan dan tumbuh dewasa dalam masa apartheid.

Seperti dalam District 9, isu sosial yang dibawa secara eksplisit oleh Blomkamp dibalut dengan deretan adegan aksi dan efek visual yang menghibur mata. Dengan basis pendidikan visual effects, tentunya Blomkamp menangani setiap efek visual dengan sangat baik. Apalagi dengan budget 100 juta dollar (70 juta dollar lebih banyak dari budget District), Blomkamp membayarnya dengan tampilan yang sungguh luar biasa dan akan terasa sangat disayangkan jika tidak ditonton di layar lebar. Ditambah dengan teknik sinematografi yang asyik, dan ada dua adegan dimana teknik sinematografinya benar-benar patut diacungi jempol. Nama besar Matt Damon dan Jodie Foster pun dimanfaatkan untuk semakin mendongkrak kesuksesan film ini.


Namun sayang, ada satu hal yang membuat Elysium menjadi terkesan dangkal. Perkembangan karakter Max dari awal film hingga keputusan besarnya di penghujung film terasa sangat instan. Maaf jika sekali lagi harus dibandingkan dengan District 9, perkembangan karakter Wilkus dari yang membenci alien hingga berbalik membenci manusia ditampilkan secara rapi dan gradual. Hal tersebut yang sayangnya tidak tampak dalam Elysium, sehingga terkesan hanya menonjolkan adegan-adegan aksinya saja. 

Malahan menurut saya, karakter antagonis yang diperankan oleh duet maut Blomkamp, Sharlto Copley, tampil jauh lebih kuat dibandingkan karakter protagonis kita. Ini mungkin karena Blomkamp sengaja tidak memberikan backstory apapun terhadap karakter Kruger, yang menjadikan karakter ini pure psychopath. Bahkan rasanya penonton pun dapat merasakan kengerian tersendiri hanya dengan melihat dia dalam detik-detik pertama setiap adegan.

Yang jelas, Elysium menjadi salah satu film sci-fi yang sangat disayangkan untuk dilewatkan di layar lebar. Jangan heran ketika selesai menonton film ini, akan timbul diskusi kecil yang menarik seputar topik segregasi sosial, atau topik hak kesehatan gratis bagi semua orang.

TRIVIA STB

  • District 9 dan Elysium sama-sama mengangkat topik segregasi sosial, kedua judul film ini pun sama-sama berdasarkan pada nama tempat fiktif dalam film masing-masing
  • Neill Blomkamp dan Sharlto Copley kelahiran Afrika Selatan yang bangga akan negaranya, yang selalu memasukkan elemen negara kelahirannya dalam setiap filmnya. Jika District 9 memiliki latar Johannesburg, maka dalam Elysium penonton akan melihat bendera Afrika Selatan pada helikopter yang dinaiki oleh Krueger

USA | 2013 | Action / Sci-Fi | 109 min | 2.35 : 1

Scene During Credits? TIDAK

Scene After Credits? TIDAK

Wajib 3D/IMAX? TIDAK (film ini tidak dibuat dalam format 3D atau IMAX)

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 17 Agustus 2013 -

3 kritik:

  1. Bro Timo, saya penasaran deh, apakah Anda selalu menonton film sampai benar-benar creditnya habis?
    Salut, Anda tahu post-credit scene sampai detail sekali hehe
    Kudos!

    Anw, saya izin mencantumkan blog anda di blog saya apakah boleh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagi saya, pengalaman penuh menonton film itu dari detik awal hingga detik akhir, termasuk ending credits! :D

      boleh banget. blog anda sudah saya masukkan di blog saya ya! :D

      Delete
    2. haha kadang juga saya mikir begitu, tapi biasanya suasanan tidak mendukung (partner nonton tidak mendukung, petugas bioskop sama tidak mendukungnya zz)
      Terima kasih ya

      Delete

 
Toggle Footer
Top