27 January 2013
3 kritik

Les Miserables

"Film musikal tentang cinta, pengampunan, harapan, dan kebebasan yang megah dan mengagumkan, diperkuat oleh penampilan akting yang nyaris sempurna dari setiap pemerannya"

Jarang saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan film musikal di bioskop, yang notabene memiliki layar lebar dan kualitas sistem suara yang baik. Ketika drama panggung adaptasi novel karya Victor Hugo yang sukses besar di Broadway, AS dan West End, Inggris ini sekali lagi diadaptasi dalam bentuk film dengan mempertahankan unsur musikalnya, saya pun bersorak gembira. Apalagi mengetahui sutradara pemenang Oscar lewat film The King's Speech (2010) Tom Hooper yang mengarahkan film ini dari kursi sutradara. Belum lagi dengan sederetan bintang-bintang Hollywood ternama yang ikut memeriahkan selebrasi slogan “Fight, Dream, Hope, Love” lewat musik dan narasi ini; Hugh Jackman, Russel Crowe, Anne Hathaway, Amanda Seyfried, Helena Bonham Carter, dan Sasha Baron Cohen. Wow!

Les Miserables, kisah historical fiction yang diterbitkan tahun 1862 ini berkisah tentang tautan cerita antar karakter yang saling berhubungan satu dengan yang lain di Paris yang dimulai dari tahun 1815 hingga mencapai klimaks ketika peristiwa bersejarah Pemberontakan Juni di 1832. Rangkaian cerita ini digerakkan oleh karakter Jean Valjean, seorang mantan narapidana yang dibebaskan secara bersyarat setelah dipenjara selama 19 tahun hanya karena tertangkap tangan sedang mencuri roti. Valjean yang bertobat dan menempuh jalan hidup baru ternyata membawanya menjadi seorang walikota beberapa tahun kemudian. Konflik muncul ketika Valjean secara tidak sengaja bertemu dengan Inspektur Javert yang pernah menjadi mandor ketika Valjean di penjara. Karena melanggar pembebasan bersyarat selepas keluar dari penjara, Javert sebagai seorang hamba hukum yang taat ingin menangkap Valjean.

gambar diambil dari RottenTomatoes
Pertemuannya dengan Fantine, seorang mantan pekerja pabrik miliknya yang menjadi seorang pelacur, membuat hidup Valjean berubah secara signifikan. Digerakkan oleh hati nurani yang kuat karena kasihan dan ingin memenuhi janjinya terhadap Fantine sebelum meninggal untuk menjaga anak perempuan satu-satunya, Cosette. Sekali lagi kabur dari kejaran Javert membuat Valjean dan Cosette harus hidup sembunyi-sembunyi. Namun jiwa muda yang penuh dengan gejolak dan rasa ingin tahu tidak dapat menampung Cosette di balik tembok besar rumahnya. Pertemuan Cosette dengan seorang pejuang revolusi anti-monarki, Marius, menjadi kisah romantis yang mewarnai setengah akhir dari film ini. Romansa mereka berdua harus terkait oleh cinta segitiga dari Eponine yang diam-diam mencintai Marius sejak lama. Namun Marius yang menjadi incaran para polisi karena dinilai sebagai provokator yang menganggu keamanan kerajaan, membuat Javert menemukan Cosette dan sekali lagi, menemukan Valjean. Pada Pemberontakan Juni 1832 ketika rakyat mencoba melawan monarki dan menuntut iklim demokrasi, keterkaitan antara Valjean-Javert-Cosette-Marius-Eponine dengan back story dan side story mereka masing-masing pun memuncak dan mencapai klimaksnya.

Banyak hal yang luar biasa dalam film ini. Salah satunya konsep nyanyian yang digunakan dalam film ini. Dengan hampir semua dialognya dinyanyikan, sutradara Tom Hooper bersikeras agar para aktor dan aktris tidak bernyanyi lip sync tapi bernyanyi secara live di set. Selain itu, biasanya di film-film musikal lainnya, aktor/aktris akan mengikuti tempo yang diberikan oleh piano di luar set. Namun di Les Miserables 2013 ini, yang terjadi adalah sebaliknya; pemain piano yang mengikuti tempo nyanyian dari para aktor/aktris. Teknik ini dilakukan untuk menunjang emosi dalam akting mereka, serta membebaskan mereka untuk berimprovisasi dalam pola nyanyian.
gambar diambil dari RottenTomatoes
Kini saya tahu kenapa Anne Hathaway meraih banyak piala sebagai Best Supporting Actress di berbagai ajang penghargaan, termasuk Academy Awards. Lihat saja adegan dimana Hathaway bernyanyi “I Dreamed a Dream” yang adegannya disyut dalam single long take. Luar biasanya, dalam satu kali pengambilan gambar yang panjang dan terus-menerus tersebut, merekam dengan baik perubahan emosi yang ada dalam karakter Fantine. Karakter Fantine yang walaupun hanya muncul tidak lebih dari 30 menit dari sepanjang film, sangat tergambar dengan baik dalam adegan nyanyian tersebut. Seakan-akan perkembangan karakter yang semestinya mendapat porsi setidaknya setengah dari durasi, dapat dipadatkan dengan baik dalam adegan nyanyian yang berdurasi kurang lebih empat menit tersebut. Kabarnya, Hathaway membuat para kru termasuk Tom Hooper meneteskan air mata pada take pertama.

Setiap pergerakan plot dalam kisah klasik ini memang kurang logis dan psikologis sehingga motif dari setiap karakter terkesan terlalu dipaksakan. Seperti mengapa Inspektur Javert bisa sebegitu terobsesinya untuk menangkap Valjean, atau mengapa Valjean merasa sebegitu bertanggung-jawab terhadap Cosette ketika dia tidak begitu lama mengenal ibunya. Namun ini adalah permasalahan yang berasal dari proses penulisan novel ini. Namun Tom Hooper dengan brilian dapat menutupi berbagai kekurangan tersebut dengan kemegahan musik yang dibangun dengan sempurna lewat orkestrasi yang mengiringi sepanjang film. Selain itu, set dan kostumnya yang memukau juga turut mendukung suasana megah yang dibangun.

Secara keseluruhan, ini adalah cara yang sangat indah dan mempesona dalam menyampaikan kisah tentang cinta, pengampunan, harapan, dan kebebasan yang disampaikan lewat nyanyian dan musik yang mengagumkan.

Won for Best Supporting Actress (Anne Hathaway), Best Make Up & Hair (Lisa Westcott & Julie Dartnell), Best Sound Mixing (Andy Nelson, Mark Paterson, Simon Hayes)
Nominated for Best Motion Picture, Best Lead Actor (Hugh Jackman), Best Costume Design (Paco Delgado), Best Original Song (Suddenly), Best Production Design, Academy Awards, 2013.
Won for Best Motion Picture Musical or Comedy, Best Lead Actor in Musical or Comedy (Hugh Jackman), Best Supporting Actress in Musical or Comedy (Anne Hathaway)
Nominated for Best Original Song (Suddenly), Golden Globes, 2013.
Won for Supporting Actress (Anne Hathaway), Production Design, Sound, Make Up & Hair, Nominated for Best Film, Outstanding British Film, Lead Actor (Hugh Jackman), BAFTA Film Award, 2013.





USA | 2012 | Drama / Musical / Romance | 158 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
8 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 27 Januari 2013 -

3 kritik:

  1. denger2 adegan nyanyi I dream a dream itu diambil 20 kali tapi akhirnya yg digunakan justru dr pengambilan yg pertama :) Suara Anne Hathaway bagus dan gak heran dia dpt banyak penghargaan ^_^

    ReplyDelete
  2. kata tmn gue nyokapnya si Anne Hathaway itu pernah meranin Fantine di Broadway yang asli. ga heran sih kalo Anne Hathaway-nya jadi begitu. tapi dari segi pemeran, yang jadi Russel Crowe kurang cocok menurut gue, begitu nyanyi kebanting banget sama yang lain, apalagi kalo ada para pemain2 Broadway itu. artis kawakan yang bisa nyaingin pemain2 Broadwaynya dari segi nyanyi cuma Amanda Seyfried sama Anne Hathaway, Hugh Jackmannya juga agak kurang menurut gue.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete

 
Toggle Footer
Top