30 January 2013
2 kritik

Hansel and Gretel: Witch Hunters

Kini hadir kembali kisah dongeng spin-off yang diceritakan ulang dengan interpretasi dan imaginasi yang unik; Hansel & Gretel: Witch Hunters. Waktu kecil, kakak beradik Hansel dan Gretel memang selamat dari rumah penyihir dengan membakar penyihir tersebut ke dalam oven. Film yang dibuat oleh sutradara dan penulis naskah Tommy Wirkola menceritakan apa yang terjadi setelah happily ever after tersebut; dengan bakat membunuh penyihir secara tidak sengaja tersebut, Hansel dan Gretel dewasa menjadi pembunuh bayaran atau pemburu penyihir jahat. Mereka berkeliling dari satu desa ke desa lain, menggunakan peralatan canggih mereka, memburu dan membunuh penyihir jahat yang mengganggu warga desa setempat, sekaligus menyelamatkan anak-anak yang diculik.

Dengan peralatan canggih dan kemampuan bertarung yang baik, tidak sulit bagi mereka untuk menghabisi para penyihir ini. Namun masalah mulai muncul ketika perburuan mereka tiba pada seorang penyihir hebat, Muriel, dengan kekuatan yang melampaui batas dari yang bisa ditangani oleh Hansel dan Gretel. Dengan plot jahat yang akan membuat kekuatan Muriel menjadi sangat besar, Hansel dan Gretel harus menghentikan Muriel dengan segala cara sebelum dunia manusia akan dikuasai oleh para penyihir. Apalagi dengan masa lalu dan latar belakang dari Hansel dan Gretel yang disimpan oleh Muriel, yang dapat menjelaskan mengapa Hansel dan Gretel memiliki kemampuan untuk kebal terhadap berbagai mantra jahat dari setiap penyihir.


Jika anda membaca sekilas dari sinopsis ini, atau menonton trailer yang ada, bukan tidak mungkin akan timbul pikiran yang berkata bahwa film ini cukup konyol. Cerita yang mengada-ngada, pointless, apalagi dark humor bahwa Hansel dewasa mengalami kondisi medis tertentu akibat perlakuan penyihir kepadanya di masa kecil. Tapi mengingat track record dari Tommy Wirkola yang pernah menyutradarai dan menulis naskah dari film Dead Snow (2009), sebuah film slasher/thriller “kelas B” yang surprisingly sangat menyenangkan dan menghibur untuk ditonton. Maka inilah tujuan Tommy Wirkola membuat imajinasi “apa yang akan terjadi di masa dewasa Hansel dan Gretel”.

Dengan imajinasi nyeleneh ini, Wirkola sadar bahwa imajinasi ini tidak akan ditanggapi secara serius oleh para pembaca dan pencinta dongeng ciptaan Brothers Grimm ini, maka ia sekalian membuat kisah spin-off ini sekonyol mungkin. Lupakan kualitas akting, lupakan jalan cerita yang kompleks, lupakan film-film “serius” yang pernah dibintangi oleh Jeremy Renner. Ini adalah tipe film yang penuh dengan dark humor, yang mengijinkan para penonton untuk mematikan otak mereka sejak detik pertama film ini, dan menikmati film ini sebagai sebuah hiburan semata. Jika Jeremy Renner dapat having fun dalam film ini, mengapa kita sebagai penonton (dan fansnya) tidak?




USA | 2013 | Action / Fantasy / Horror | 88 mins | Aspect Ratio 2.35 : 1

Rating?
6 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 30 Januari 2013 -

2 kritik:

  1. Tapi kayanya film ini temasuk failed kan ya di box office?

    Kindly check my movie-goer blogging www.mypassionplay.blogspot.com :)

    ReplyDelete
  2. gue juga nonton film ini krn Jeremy Renner aja... Hehehhehe... Tapi gue suka akting Famke Janssen yg jadi Muriel...

    ReplyDelete

 
Toggle Footer
Top