31 January 2013
One kritik

Habibie & Ainun

"Film sederhana yang berkisah kisah romansa antara mantan Presiden RI, BJ Habibie dengan istrinya, Hasri Ainun Habibie, dan tentang perwujudan mimpi masing-masing dari mereka"

Bacharuddin Jusuf Habibie, ahli pesawat terbang dan mantan Presiden RI. Rasanya baru kali ini ada film Indonesia yang mengupas tentang kehidupan mantan orang nomor satu di Indonesia. Tidak heran jika film ini menembus angka 4 juta penonton, hanya terpaut sekitar 400 ribu penonton di bawah Laskar Pelangi (2008). Bercerita tentang perjalanan kisah cinta Habibie dengan mendiang istrinya, Ainun, film Habibie & Ainun tidak lebih dari menggambarkan romansa diantara dua insan yang saling mencintai dengan tulus.

Pertemuan pertama Habibie dengan Ainun di tahun 1962 ketika mereka berdua berada di bangku SMP tidak berakhir dengan baik. Namun keduanya dipertemukan kembali oleh takdir ketika di masa kuliah, Rudy Habibie sedang dalam masa liburan di tanah air dari kuliahnya di Jerman bertemu kembali dengan Ainun yang sedang menjalani kuliah kedokterannya. Mereka berdua jatuh cinta dan menikah. Ainun pun rela meninggalkan karirnya sebagai dokter untuk mengikuti Habibie yang ingin memuluskan jalan untuk mewujudkan mimpinya membuat pesawat terbang di Jerman.


 Di era Presiden Soeharto, Indonesia sedang giat-giatnya membangun. Semua orang-orang Indonesia yang berbakat yang tersebar di seluruh dunia, dipanggil pulang ke tanah air untuk memberikan bakat dan talentanya untuk bangsa. Habibie yang pernah ditolak untuk membantu industri penerbangan Indonesia, pun akhirnya dipanggil kembali ke tanah air. Masih membawa mimpi yang sama untuk menyatukan Indonesia lewat pesawat terbang buatannya, membuat perjalanan karirnya melesat. Determinasi dan keuletannya pun akhirnya membuahkan hasil. Pesawat pertama buatan orang Indonesia, Gatot Kaca N-250 pun terbang melintasi cakrawala Indonesia, yang hari penerbangannya sebagai hadiah ulang tahun bagi istrinya. Namun orang-orang Indonesia yang pesimistik terhadap bakat dan talenta bangsanya sendiri membuat N-250 menjadi museum di hanggar pesawat. Habibie sakit hati terhadap bangsa Indonesia. Terlebih lagi ketika Ainun pergi mendahului suaminya.

Film ini diangkat dari novel otobiografi berjudul sama yang ditulis sendiri oleh BJ Habibie sebagai memoar untuk istri tercintanya. Disutradari oleh sinematografer gaek yang mencoba berkarir di kursi sutradara, film ini memberikan ruang sebebas-bebasnya kepada BJ Habibie sebagai supervisor utama terhadap film ini. Hasilnya, film ini bukanlah tentang mantan presiden RI atau teknisi ahli pesawat terbang yang sempat membuat penemuan baru di teknik besi di Eropa. Film ini hanya bercerita tentang dua orang biasa yang saling jatuh cinta, dimana sang pria membuat janji untuk istrinya, dan kemudian memenuhinya. Sesederhana itu.
Sepanjang durasi 125 menit pun, cerita dalam film ini dengan konsisten hanya fokus pada kehidupan pribadi dua karakter utamanya dan bagaimana naik-turun interaksi mereka. Kehadiran beberapa side story pun dijaga sedemikian rupa untuk tidak mendominasi kisah asmara yang menjadi gravitasi utama film ini. Proses belajar Habibie di Jerman, proses pembuatan pesawat, pandangannya terhadap korupsi, hingga karirnya sebagai Presiden RI pun praktis hanya menjadi penghias latar belakang saja. Kisah-kisah itu berbaris rapi di belakang kisah asmara Habibie dan Ainun yang terus terjaga tak termakan usia.

Rasanya sudah lama sekali ada film Indonesia dimana akting dari para aktor-aktrisnya tampil sangat baik. Pujian memang layak dilayangkan kepada Reza Rahadian, yang mampu secara konsisten sepanjang film menampilkan ciri khas dari BJ Habibie. Terlihat bagaimana usaha kerasnya dalam persiapan untuk mempelajari dan kemudian memberikan interpretasinya sendiri terhadap bagaimana gaya berbicara BJ Habibie, gerak tubuh, hingga cara berjalan. Meski di beberapa adegan terasa berlebihan, namun akting yang ditampilkan oleh Reza akan membuat penonton terbayang bagaimana sosok BJ Habibie di kehidupan nyata.

Film ini memang memberikan sisi lain dari kehidupan seorang BJ Habibie, yang sedikit berbeda dari apa yang ditampilkan media selama ini. Lebih dalam, film ini menggambarkan bagaimana seorang BJ Habibie yang begitu mencintai dengan tulus istrinya, hingga kematian memisahkan mereka. Pada akhirnya, film ini adalah sebuah film yang memberikan kehangatan di hati para penontonnya.




 Indonesia | 2012 | Drama / Romance | 125 mins | Aspect Ratio 1.85 :1

Rating?
7 dari 10

- sobekan tiket bioskop tertanggal 31 Januari 2013 -

1 kritik:

 
Toggle Footer
Top