Jika kita menganalogikan dunia dan alam semesta sebagai sebuah mesin yang besar, maka bagian sekecil apapun itu pasti memiliki kontribusi dan tujuan demi keberlangsungan "mesin besar" ini. Ya, mesin apapun tidak pernah memiliki bagian lebih yang tidak berguna, dan mesin selalu memiliki bagian-bagian yang tepat guna dan telah diperhitungkan sebelumnya. Kalau begitu, seorang manusia serendah apapun derajatnya, pasti memiliki alasan hidup mengapa dia berada di dunia dan menjadi bagian dari mesin besar. Inilah yang dicari tahu oleh anak yatim piatu yang tinggal dan bersembunyi di stasiun kereta api di Paris tahun 1930-an, Hugo.

Hugo adalah anak yatim piatu yang tinggal di sebuah stasiun kereta api di Paris, yang dididik oleh pamannya untuk mengurus setiap jam yang ada di stasiun tersebut. Sepeninggalan ayahnya yang seorang ahli jam, Hugo berusaha keras untuk memperbaiki automaton; sebuah mesin otomatis yang ditemukan dan telah dicoba diperbaiki oleh ayahnya. Sebegitu yakinnya terhadap pesan rahasia yang dibawa oleh automaton dari ayahnya, niat Hugo terhalang oleh penjaga toko mainan yang galak dan tidak ramah, George Melies. Interaksi mereka berdua yang kurang baik, membuat Hugo bertemu dengan anak baptis dari Melies yang haus akan petualangan, Isabelle. Dibekali oleh rasa ingin tahu yang tinggi dan jiwa petualang, mereka berdua mencoba membuka rahasia automaton, yang ternyata menjadi pintu masuk masa lalu bagi seseorang.

Kisah Hugo yang diadaptasi dari novel The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick ini ternyata lebih dari sekedar menyampaikan makna tentang bagaimana seharusnya manusia terus berusaha untuk mencari alasan dan tujuan hidup. Lebih dari itu, kisah Hugo ini juga ingin menyampaikan pesan betapa kita sebaiknya tidak melupakan masa lalu, khususnya kepada orang-orang yang memiliki kontribusi besar pada perkembangan dunia. Ya, Brian Selznick memang memasukkan kisah hidup George Melies sebagai inspirasi utama cerita ini, yang kemudian dibungkus oleh petualangan Hugo yang secara perlahan-lahan membuka tirai masa lalu dari George Melies.

baca selengkapnya...

Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi kesedihan dan perasaan kehilangan? Dengan mengingkarinya, atau malah mengingat-ingat setiap momen yang pernah dijalani? Atau merelasikannya dengan pengalaman karir yang dijalani bersama-sama dengan yang tercinta? Mari kita simak bagaimana Perdana Menteri UK wanita pertama, Margaret Thatcher, berjuang di masa tuanya melawan kesedihan dalam film The Iron Lady.

Margaret Thatcher yang banyak terinspirasi oleh ayahnya, berusaha sekuat tenaga untuk menjadi politisi yang handal. Tidak disangka, karirnya sebagai politisi pun melejit sehingga Mrs. Thatcher bisa menjadi wanita pertama yang menjabat Perdana Menteri UK. Jabatan ini pun menjadi simbol tersendiri bagi cara pandang terhadap kaum hawa di negara yang masih menjunjung tinggi isu patriarkisme. Perjalanan karir sebagai orang nomor satu di Inggris Raya yang tidak mudah, ternyata malah menjadikan Mrs. Thatcher sebagai Perdana Menteri yang terlama menduduki jabatannya, sekaligus yang paling kontroversial.

Satu lagi film biopic yang mengupas tokoh asal Inggris Raya ini menggunakan masa tua dari Mrs. Thatcher sebagai mesin penggerak jalan cerita. Di usia kepala 8 dan telah tampak gejala dementia, segala kenangan akan suami dan karir tiba-tiba menghantui kepala Mrs. Thatcher. Kenangan demi kenangan tersebut pun membawa penonton mengikuti rekam jejak Mrs. Thatcher mulai dari langkah pertamanya di dunia politik sampai pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri UK tahun 1990. Sayangnya, gaya penceritaan ini malah membuat film ini menjadi kurang fokus. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini; proses mengatasi kesedihan sepeninggalan suaminya atau perjalanan karirnya di dunia pemerintahan?

baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...